
Idul Adha: Tauhid, Keikhlasan, dan Kepedulian Sosial di Tengah Kehidupan Modern
Membaca buku Idul Adha: Tauhid, Keikhlasan, dan Kepedulian Sosial di Tengah Kehidupan Modern karya Akhmad Shunhaji rasanya seperti diajak ngopi santai, tapi obrolannya pelan-pelan menyentil isi hati kita. Penulis berangkat dari sebuah kegelisahan yang relate banget dengan apa yang kita lihat sehari-hari: Idul Adha sering kali cuma lewat sebagai rutinitas tahunan. Ada gema takbir, salat Id, potong sapi atau kambing, bagi-bagi daging, bakar sate bareng, lalu selesai. Besoknya, kita kembali jadi manusia dengan ego yang sama. Buku ini hadir untuk mendobrak kebiasaan mekanis itu dan mengajak kita melihat Idul Adha bukan sekadar seremoni berdarah-darah, melainkan sebuah ruang kelas spiritual yang mempertanyakan ulang sejauh mana kualitas tauhid, keikhlasan, dan kepedulian sosial kita. Gagasan utamanya menohok tapi sangat pas sasaran: Idul Adha itu bukan soal seberapa mahal dan besar hewan yang kita kurbankan, melainkan seberapa besar ego yang berani kita sembelih. Dengan menyandarkan argumentasinya pada pesan Al-Qur'an—bahwa darah dan daging hewan itu sama sekali tidak sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kitalah yang sampai—penulis sukses menggeser fokus kita. Kurban bukan lagi soal ajang pembuktian status sosial atau flexing di mata tetangga, melainkan pendidikan batin. Kita diajak inward looking alias melihat ke dalam diri sendiri, merenung, "Sebenarnya apa sih yang sedang kita korbankan? Kenapa kita beribadah? Dan apakah kedekatan kita dengan Tuhan ini ada efek positifnya buat orang lain?" Menariknya lagi, Shunhaji membedah kisah keluarga Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail bukan sekadar sebagai dongeng sejarah masa lalu, melainkan sebagai masterclass parenting dan manajemen emosi untuk manusia modern. Di zaman sekarang, kita sering kali terlalu attach atau terikat pada harta, kenyamanan, atau citra diri. Kita susah melepaskan sesuatu bukan karena kita tidak mampu, tapi karena hati kita telanjur disandera oleh dunia. Kisah Nabi Ibrahim menampar kita dengan elegan: cinta pada keluarga dan dunia itu boleh banget, tapi jangan sampai ia menggeser posisi Tuhan di hati kita. Bagi keluarga modern yang kadang terlalu sibuk memfasilitasi anak secara materi tapi lupa mewariskan mentalitas iman, bagian ini wajib dibaca. Anak yang tangguh dan memiliki orientasi hidup yang jelas seperti Ismail tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari proses panjang pendidikan ketauhidan di dalam rumah. Selain dimensi vertikal ke Tuhan, buku ini juga sangat tajam mengkritik gaya keberagamaan kita yang kadang kehilangan sense sosial. Kurban itu ibadah publik; hewannya dipotong di tempat umum dan dagingnya dibagikan. Tapi ironisnya, di era serba digital sekarang, ibadah publik ini rentan banget tergelincir jadi panggung pencitraan. Sedekah gampang berubah jadi personal branding, dan kurban bisa jadi sekadar konten. Penulis dengan berani mengingatkan bahwa ibadah yang niatnya melenceng demi likes dan pujian manusia, pada akhirnya akan kehilangan ruhnya. Lebih jauh, daging kurban seharusnya menjadi pengingat konkret bahwa nikmat Tuhan itu tidak boleh dimonopoli oleh si kaya saja. Kesalehan personal kita harus tumpah menjadi kesalehan sosial yang mengenyangkan mereka yang selama ini terpinggirkan. Tentu saja, sebagai sebuah karya yang membumi, buku ini punya ruang untuk digarap lebih liar lagi. Misalnya, akan sangat seru dan aplikatif kalau penulis menyisipkan panduan taktis soal manajemen kurban yang langsung memberdayakan peternak lokal kecil agar dampak ekonominya memotong rantai ketimpangan. Atau, ulasan spesifik soal "etika bermedsos saat ibadah" yang pasti bakal bikin buku ini makin relevan buat generasi yang terbiasa hidup di depan kamera. Namun, terlepas dari catatan kecil tersebut, buku ini sudah sangat sukses merangkum persoalan teologis, psikologis, dan sosial dalam satu tarikan napas yang ringan dan mengalir. Pada akhirnya, Idul Adha versi Akhmad Shunhaji bukanlah sekadar buku musiman yang dibaca setahun sekali menjelang Lebaran Haji. Ini adalah semacam cermin evaluasi untuk jiwa kita kapan pun juga. Pesan pamungkasnya sederhana tapi bakal terus terngiang: Idul Adha sejatinya bukan tentang memamerkan seberapa banyak daging yang bisa kita beli, tetapi tentang mendistribusikan kepedulian; bukan sekadar mengenang heroisme Ibrahim di masa lalu, melainkan berani meneladani sikapnya untuk meletakkan Allah di atas segalanya, di sini dan hari ini.