
Jujur-jujuran aja, deh. Apa hal pertama yang kamu cari pas bangun tidur? Kacamata? Air putih? Atau... notifikasi HP?
"Wah, video kucing gue yang lagi bengong masuk FYP gak ya?"
"Story gue semalem yang nonton udah berapa ribu orang nih?"
Kita hidup di zaman di mana validasi itu bentuknya love warna merah dan tombol subscribe. Kalau postingan sepi, rasanya hidup hampa, kayak makan bakso tapi lupa dikasih garam. Kita rela joget-joget di pinggir jalan, war di kolom komentar, sampai flexing struk belanjaan demi predikat: VIRAL.
Tapi, pernah gak sih kepikiran satu hal ini pas lagi baca Al-Fatihah, tepatnya di ayat ke-4: "Maliki yaumid-din" (Yang Menguasai Hari Pembalasan)?
Ayat ini kayak reminder halus dari "Pusat" bahwa ada satu panggung lain yang audience-nya jauh lebih keren daripada netizen Indo yang maha benar. Panggung itu namanya: Langit.
Algoritma Langit vs Algoritma Sosmed
Di dunia maya, algoritma itu misterius dan kadang ngeselin. Konten edukasi sepi, eh konten orang lagi makan sabun malah trending. Kita capek-capek ngedit video transisi, kalah sama yang cuma modal lip-sync sambil melotot.
Nah, "Maliki yaumid-din" mengingatkan kita bahwa ada satu "Admin Pusat" yang gak bakal salah algoritma. Di Hari Pembalasan nanti, sistem penilaiannya itu:
No Glitch: Gak ada error server.
No Buzzer: Kamu gak bisa bayar orang buat naikin rating amalmu.
No Filter: Muka asli, kelakuan asli, isi hati asli. Gak ada fitur beauty mode buat nutupin dosa.
Influencer Langit Itu Siapa?
Kalau di bumi, influencer itu yang followers-nya jutaan dan centang biru. Tapi di mata Penduduk Langit (Malaikat), influencer itu beda banget definisinya.
Bisa jadi, "Selebgram Langit" itu adalah:
Tukang sapu jalanan yang kalau kerja ikhlas banget sambil zikir.
Orang yang kalau sedekah sembunyi-sembunyi, tangan kiri gak tau kalau tangan kanan habis transfer.
Kamu yang menahan diri buat gak ninggalin komen jahat, padahal jarimu udah gatal banget pengen ngetik "Mending lu diem deh".
Mereka ini di bumi mungkin followers-nya cuma 12 (itu pun akun jualan peninggi badan semua), tapi di langit? Nama mereka trending topic terus. Malaikat Jibril kenal, Malaikat Mikail kenal, penduduk langit pada nge-fans.
Jejak Digital vs CCTV Langit
Kita sering takut jejak digital, makanya kalau habis stalking mantan, buru-buru hapus history. Tapi kita lupa kalau "Maliki yaumid-din" punya CCTV yang resolusinya 8000K dan penyimpanannya unlimited.
Di Hari Pembalasan, semua "konten" hidup kita bakal diputar ulang.
Konten Dunia: "Guys, hari ini gue mau berbagi nasi kotak, jangan lupa like ya!" (Kamera zoom in ke muka sendiri, nasi kotaknya nge-blur).
Komentar Malaikat: "Catat: Niatnya pamer. Poin: 0."
Bayangin malunya pas "Nonton Bareng" di padang Mahsyar nanti. Niat hati mau pamer amal, eh ternyata zonk karena isinya cuma pencitraan.
Jadi, Harus Gimana Dong?
Tenang, Bestie. Artikel ini bukan nyuruh kamu buang HP ke laut terus hidup di gua.
Boleh kok main sosmed. Boleh banget bikin konten. Tapi, mindset-nya digeser dikit. Jadikan sosmed jembatan buat jadi viral di langit.
Bikin konten yang bermanfaat (biar jadi amal jariyah, bukan dosa jariyah).
Kalau mau pamer, pamerlah ke Allah di sepertiga malam, gak usah di Close Friend.
Ingat, likes di Instagram gak bisa dipake buat nyogok Malaikat Munkar dan Nakir.
Pada akhirnya, popularitas di dunia itu kayak baterai HP: bisa lowbat dan mati kapan aja. Tapi kalau kamu viral di kalangan penduduk langit? Itu abadi, Bos.
Jadi, hari ini kamu mau cari muka di depan siapa? Netizen atau Sang Pemilik Hari Pembalasan?
Pilihan ada di jempolmu.
Your email address will not be published. Required fields are marked *