
Pernah nggak sih, kamu lagi scroll TikTok atau Instagram Reels, pusing lihat orang pamer saldo ATM, debat politik yang nggak ada ujungnya, atau konten flexing liburan ke luar negeri, lalu tiba-tiba... jari kamu berhenti?
Di layar muncul video pendek seorang kiai sepuh, pakai sarung, peci agak miring, duduk di kursi kayu sederhana. Beliau sedang terkekeh, menceritakan kisah lucu tentang kehidupan sehari-hari, atau sekadar menyapa santrinya dengan bahasa Jawa halus.
Anehnya, hati kamu yang tadinya fomo dan gelisah, mendadak jadi tenang. Adem.
Padahal beliau bukan content creator dengan peralatan kamera ratusan juta. Beliau juga nggak pakai hook "Tonton sampai habis!" Tapi kenapa "Mbah-Mbah" NU (Nahdlatul Ulama) ini justru punya tempat spesial di hati anak muda zaman now?
Mari kita bedah alasannya sambil ngopi santai.
Di dunia yang serba tegang—dikit-dikit tersinggung, dikit-dikit klarifikasi—humor adalah mata air di padang pasir.
Para kiai sepuh ini punya jurus andalan: Guyon Maton (bercanda yang berisi). Dakwah mereka nggak melulu soal "neraka itu panas" atau "kamu salah, saya benar". Justru banyak diisi tawa.
Mereka mengajarkan bahwa beragama itu harus bahagia. Kalau ibadah saja cemberut terus, kapan nikmatnya? Anak muda yang beban hidupnya sudah berat (halo, quarter life crisis!) butuh figur agama yang bisa diajak tertawa, bukan yang menambah beban pikiran.
Di era filter Instagram dan editan mulus, kejujuran (autentisitas) itu barang mewah.
Mbah-mbah ini tampil apa adanya. Kadang videonya buram, suaranya kresek-kresek, latar belakangnya cuma tembok pesantren biasa. Tapi justru itu poin plusnya!
Anak muda respect banget sama orang yang "what you see is what you get." Beliau-beliau ini mengajarkan bahwa kemuliaan itu bukan dari outfit of the day (OOTD) seharga jutaan, tapi dari kebersihan hati dan kedalaman ilmu. Melihat mereka makan nasi bungkus atau duduk lesehan bikin kita merasa: "Wah, beliau saja santai, kenapa aku harus ribet mengejar validasi orang lain?"
Anak zaman sekarang itu kritis. Mereka nggak mau asal telan informasi. Di sinilah relevannya konsep "Sanad Keilmuan" yang dipegang teguh NU.
Mbah-mbah ini ilmunya jelas. Gurunya siapa, gurunya guru siapa, nyambung terus sampai ke Rasulullah SAW. Ini semacam "Centang Biru" atau Verified Account versi spiritual.
Anak muda merasa aman belajar dari mereka. Nggak takut tersesat, nggak takut diajari ngebom, nggak takut diajari membenci. Rasanya seperti dipandu oleh kakek sendiri yang sangat sayang pada cucunya.
Banyak motivator di luar sana teriak: "Kamu harus sukses muda! Kamu harus kaya raya!"
Lalu datanglah Mbah-Mbah NU ini dengan vibes yang kontras. Pesan mereka seringkali sederhana tapi menohok:
"Sing penting rukun." (Yang penting rukun).
"Ojo dumeh." (Jangan mentang-mentang).
"Urip iku sawang sinawang." (Hidup itu hanya tentang bagaimana kita memandang).
Di tengah bisingnya tuntutan dunia, nasihat-nasihat ini seperti pelukan hangat. Mereka mengajarkan kita untuk menerima diri sendiri, bersyukur dengan hal kecil, dan bahwa menjadi manusia biasa yang bermanfaat itu sudah cukup keren, kok.
Pada akhirnya, kenapa Mbah-Mbah NU tetap relevan di era digital? Karena di tengah derasnya arus informasi yang bikin pusing, mereka hadir bukan sebagai hakim yang mengetuk palu, melainkan sebagai orang tua yang membukakan pintu.
Mereka menawarkan "rumah" untuk pulang. Tempat di mana kita bisa "ngaji" (belajar) sekaligus "ngopi" (rileks), tanpa takut dihakimi. Dan bagi anak muda yang sering merasa lost dan kesepian di keramaian internet, itulah yang paling mereka cari.
Your email address will not be published. Required fields are marked *