
Halo, sobat overthinker yang hobi refresh notifikasi HP tiap lima detik cuma buat ngecek siapa yang nge-like postingan terbaru!
Coba jujur, seberapa sering kamu ngedit foto sampai jari keriting, nge-filter sampai warna kulit berubah jadi neon, cuma demi dipuji "Cantik paripurna, Bestie!" di kolom komentar? Padahal pas di dunia nyata, muka bangun tidurmu lebih mirip adonan donat yang belum ngembang.
Tenang, kamu nggak sendirian. Di zaman di mana followers dianggap kasta sosial, kita ini sering banget tanpa sadar berubah jadi "Pengemis Validasi Jalur Estetik". Tapi sadar nggak sih, ngejar validasi manusia itu capeknya ngalahin lari maraton pakai sendal jepit putus?
Yuk, kita tarik napas bentar, ngopi-ngopi ganteng/cantik, dan ngomongin kenapa kita harus stop nyari "Raja" yang salah, dan mulai nyari Malikin-Nas (Raja Manusia).
Mengabdi pada "Raja" Netizen yang Maha Julid
Coba bayangin deh pola hidup kita sekarang.
Beli kopi seharga Rp 60.000 (padahal lambung udah demo minta Promag) cuma demi difoto estetik dan update Story. Biar dibilang lifestyle-nya anak senja Jaksel abis.
Nahan napas pas difoto biar perut kelihatan rata, padahal abis nelan nasi padang porsi kuli.
Takut banget dibilang "kurang gaul" sampai bela-belain beli barang branded pakai paylater, cicilannya bikin nangis di pojokan kamar mandi.
Kita rela jungkir balik nyenengin manusia lain. Kita jadikan circle pertemanan, bos, atau bahkan netizen anonim di internet sebagai "Raja" dalam hidup kita. Kita takut banget sama penilaian mereka.
Padahal, manusia itu plin-plan banget! Hari ini kamu dipuja-puja macam oppa Korea, besok kamu salah ngomong dikit, langsung di-cancel se-Nusantara. Capek, kan, ngabdi sama "Raja" yang moody-an begini?
Enter: "Malikin-Nas" (Biar Tetap Berisi dan Ber-Gizi)
Buat kamu yang muslim, pasti minimal sehari belasan kali baca surah An-Nas, kan? Di ayat kedua ada kalimat "Malikin-Nas" yang artinya: Rajanya Manusia.
Nah, coba pakai logika sederhana ini. Kalau Tuhan itu adalah Rajanya manusia, berarti semua manusia (termasuk selebgram yang pamer liburan di Swiss, bos kamu yang galak, sampai tetangga yang hobi nanya kapan nikah) statusnya cuma Rakyat Jelata.
Ibaratnya gini: Kamu lagi kerja di sebuah perusahaan raksasa. CEO dan Pemilik Saham Utama (Tuhan) udah ngasih stempel "ACC", "Kamu Hebat", "Proyekmu Sukses". Terus, kamu malah nangis dan insecure cuma gara-gara kerjaanmu dikritik sama anak magang yang baru masuk kemarin sore.
Kocak banget, kan?!
Ngapain kita capek-capek ngemis approval dan validasi dari sesama rakyat jelata, kalau kita punya akses VVIP langsung ke Sang Raja Sebenarnya?
Validasi Manusia = Karcis Parkir. Perlindungan Tuhan = Asuransi All-Risk!
Ketika kamu menggeser fokusmu dari mencari likes manusia jadi mencari Ridha (persetujuan) Tuhan, hidupmu bakal kerasa jauh lebih enteng. Kayak beban hidup diskon 99%.
Kenapa?
Tuhan Nggak Butuh Filter Muka: Tuhan nggak peduli seberapa glowing mukamu atau seberapa estetik feed Instagram-mu. Tuhan lihat hatimu. Jadi kamu bisa tampil apa adanya tanpa takut di-judge "Ih, pori-porinya kelihatan."
Perlindungan Ekstra Ketat: Di ayat selanjutnya dari surah An-Nas, kita minta perlindungan dari segala macam bisikan jahat (termasuk bisikan insecure dari dalam diri sendiri dan omongan nyinyir orang lain). Ini bodyguard sejati!
Anti-Cancel Culture: Kalau kamu berbuat salah, manusia bakal nge- screenshot kesalahanmu dan diviralkan. Tapi kalau kamu salah dan minta maaf sama Tuhan? Dia langsung maafin, aibmu ditutupi, dan nggak bakal diungkit-ungkit lagi pas lagi berantem. Nikmat mana yang kau dustakan?
Jadi, mulai sekarang, mari kita pensiun dari pekerjaan melelahkan sebagai "Pencari Validasi Profesional".
Berhentilah overthinking memikirkan omongan orang yang bahkan nggak bayarin tagihan listrikmu. Mulailah berlindung kepada Malikin-Nas. Biarkan Raja Semesta Alam yang menilaimu, melindungimu, dan mencukupimu. Kalau Sang Raja sudah rida padamu, omongan netizen itu ibarat angin kentut—bau dikit, tapi bentar lagi juga hilang terbang tertiup angin.
Semangat jalani hari, tanpa perlu peduli berapa likes yang menghampiri!
Your email address will not be published. Required fields are marked *