
Halo, Mams! Apa kabar daster hari ini? Masih utuh atau sudah nambah koleksi lubang ventilasi baru di bagian ketiak?
Mari kita jujur sebentar. Taruh dulu itu cucian piring yang numpuk kayak Gunung Tangkuban Perahu. Taruh dulu rasa bersalah karena tadi ngasih anak makan nugget lagi (padahal niatnya mau masak sop bayam organik, tapi apa daya bayamnya sudah layu duluan nunggu giliran dimasak).
Tulisan ini khusus buat kamu. Iya, kamu. Yang tadi pagi bangun dengan niat, "Hari ini aku akan jadi Ibu Peri yang sabar," tapi jam 9 pagi sudah berubah jadi Naga Indosiar karena anak numpahin susu di atas laptop.
Ekspektasi vs Realita: Sebuah Drama Kolosal
Kita semua pernah ada di posisi ini.
· Ekspektasi: Anak makan lahap, menu 4 bintang, duduk manis di high chair.
· Realita: Anak makan diemut 2 jam, nasi dilepeh, dan dia lebih tertarik menjilati kaki meja daripada makan ayam ungkep buatanmu.
· Ekspektasi: 0% Screen time. Kita akan main sensory play pakai tepung dan pewarna makanan!
· Realita: 5 menit main tepung, rumah kayak kapal pecah kena badai salju. 10 menit kemudian, "Nak, nih HP Bunda, nonton CoComelon dulu ya, Bunda mau boker dengan tenang. Tolong."
Apakah itu berarti kita gagal? Enggak, Bestie. Itu namanya bertahan hidup.
Sindrom "Ibu-Ibu Instagram"
Masalah terbesar kita adalah sering scroll Instagram pas lagi capek. Di sana, kita lihat ibu-ibu influencer yang:
1. Bangun jam 4 pagi sudah yoga (muka 100% glowing tanpa belek).
2. Anaknya makan brokoli rebus sambil tersenyum sopan.
3. Rumahnya warnanya beige semua, rapi, estetik, dan nggak ada mainan Lego yang keinjek kaki.
Lalu kita lihat sekeliling kita: Ada ompol di kasur, mainan berserakan kayak ranjau darat, dan kita sendiri belum mandi dari kemarin sore. Rambut dicepol asal-asalan mirip sarang burung pipit.
Rasanya pengen nangis di pojokan, kan? "Kok aku nggak bisa kayak dia, ya?"
Dengar, ya. Ibu di Instagram itu mungkin punya asisten rumah tangga tiga orang, atau dia cuma foto pas lagi rapi aja. Sesaat setelah foto diposting, bisa jadi anaknya lagi tantrum guling-guling minta biskuit yang bentuknya harus bulat sempurna. Kita nggak pernah tahu!
Definisi "Terbaik" Itu Bukan Sempurna
Merasa gagal hari ini itu wajar. Itu tanda kalau kamu peduli. Kalau kamu ibu yang cuek bebek, kamu nggak bakal merasa bersalah, kan? Rasa bersalah itu—sialnya—adalah bukti cinta.
Tapi, tolong ingat ini:
· Anakmu nggak butuh ibu yang sempurna kayak robot.
· Anakmu butuh ibu yang waras.
· Anakmu butuh ibu yang bisa ketawa (walaupun ketawanya agak histeris karena lihat kelakuan mereka).
Hari ini kamu berhasil menjaga mereka tetap hidup. Kamu berhasil ngasih makan (walau cuma telur ceplok). Kamu berhasil nggak kabur dari rumah walau suara teriakan di rumah sudah mencapai 8 oktaf.
Itu prestasi, Mams! Itu medali emas olimpiade kehidupan!
Malam Ini, Maafkan Dirimu
Jadi, untuk Ibu yang hari ini merasa gagal karena ngebentak anak (lalu menyesal dan ciumin anak pas dia tidur sambil nangis bombay), tarik napas.
Kamu manusia. Bukan Malaikat. Kamu tempatnya salah, lupa, dan capek.
Malam ini, setelah si kecil tidur (akhirnya!), tolong lakukan sesuatu buat dirimu sendiri. Seduh teh anget, makan cokelat yang kamu sembunyikan di balik tumpukan sayur di kulkas (biar nggak diminta anak), atau nonton drakor satu episode aja.
Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini. Besok kita coba lagi. Kalau besok gagal lagi? Ya nggak apa-apa, lusa kan masih ada.
Semangat, Mams! Jangan lupa waras! ❤️
Your email address will not be published. Required fields are marked *