
Mari kita awali tutorial ini dengan sebuah upacara keheningan untuk menghormati kuota internet, tenaga, dan harga diri kita yang telah gugur demi satu kata keramat di kolom komentar: "Suhu." Di era gempuran flexing saat ini, status "Suhu", "Sepuh", atau "Panutan" udah kayak gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Banyak orang yang rela menderita lahir batin demi mendapatkan gelar itu dari orang-orang asing di internet.
Padahal, Syekh Ibnu Atha'illah berabad-abad lalu dalam kitab Al-Hikam udah ngasih spoiler yang dalem banget. Kurang lebih artinya: kalau kamu masih gatel banget pengen manusia tahu "kedudukan khusus" atau kehebatanmu, itu tandanya penghambaanmu belum jujur. Kasarnya: kamu belum ikhlas, masih magang!
Nah, kalau kamu udah mulai capek hidup disetir jempol netizen dan pengen pensiun jadi budak validasi, berikut adalah langkah-langkah waras yang bisa kamu praktikkan sekarang juga. Dijamin low budget dan gak pakai ribet!
Langkah 1: Detoksifikasi "Sindrome Caper Akut"
Ciri-ciri budak validasi yang udah masuk stadium akhir adalah: semua hal di hidupnya harus punya nilai estetik di mata orang lain.
Mau ngopi: Bukannya nyari yang rasanya enak atau bikin melek, tapi nyari yang logo kafenya mentereng biar bisa di-post dengan location tag di kawasan elite. Begitu kopinya dateng yang rasanya mirip air rendaman kertas jilid, tetep diminum sambil senyum terpaksa demi konten.
Mau sedekah: Bukannya nyari kotak amal yang sepi, tapi nyari momen pas kamera HP udah ready dengan angle 45 derajat. Kalau abang ojolnya keburu pergi sebelum tombol record dipencet, abangnya dipanggil lagi: "Bang, balik Bang, tadi belum kefoto!"
Cara Waras: Mulai sekarang, terapin hukum "Makan ya Makan Aja, Gak Usah Laporan". Coba rasain nikmatnya makan mi ayam di pinggir jalan yang mangkoknya ada gambar ayam jago retak-retak, kuahnya tumpah-tumpah, tanpa perlu kamu bikin story dengan caption puitis: "Menikmati kesederhanaan di sudut kota." Gak usah! Telan aja mi-nya, nikmatin gurih micinnya dalam kesunyian.
Langkah 2: Pahami Teori "Netizen Itu Pelupa (dan Cuek)"
Kita itu sering ngerasa kayak artis Hollywood yang tiap gerak-geriknya dipantau paparazi. Pas mau keluar rumah pakai kaos oblong lecek dikit, langsung parno: "Aduh, nanti kalau ketemu temen SMA gimana ya? Nanti dikira gue bangkrut lagi."
Cara Waras:
Sadar, yuk! Sadar! Di dunia ini, gak ada yang bener-bener merhatiin kamu sedetail itu. Temen yang ngasih komen "Wih, suhu makin sukses aja nih! 🔥" di postinganmu itu ngelakuinnya sambil rebahan, tangan kirinya megang tahu bulat, dan tiga detik kemudian dia udah lupa sama muka kamu karena langsung scrolling ke video klip dangdut koplo.
Jadi buat apa kamu stres, dandan tiga jam, atau bela-belaian ngutang demi beli barang branded, cuma buat menyenangkan orang yang bahkan gak inget warna bajumu lima menit yang lalu? Rugi bandar, Bos!
Langkah 3: Gunakan Metode "Filter Rahasia"
Sebelum kamu memutuskan untuk membeli sesuatu, pergi ke suatu tempat, atau memamerkan sebuah pencapaian, tanyakan satu pertanyaan sakral ini ke diri kamu sendiri:
"Kalau hal ini dilarang keras buat diposting di media sosial dan gak boleh diceritain ke siapa-siapa seumur hidup, gue tetep bakal lakuin/beli gak?"
Kalau kamu mau beli iPhone versi terbaru tapi gak boleh dipamerin (harus dipakein casing silikon hitam polos tanpa bolongan logo apel), kamu tetep mau beli gak? Kalau jawabannya "Yaa mending beli HP Cina aja yang sejuta," berarti kamu cuma butuh validasi, bukan butuh fungsinya.
Kalau kamu mau mendaki gunung tapi gak boleh foto di puncaknya sambil bawa kertas tulisan nama kecengannmu, kamu tetep mau naik gak? Kalau jawabannya "Males ah, capek doang," berarti kamu cuma rindu pujian, bukan rindu alam.
Jika jawabannya "enggak", segera batalkan niatmu. Selamat, kamu baru saja menyelamatkan saldo rekeningmu dari bencana kelaparan di akhir bulan!
Langkah 4: Rasakan Kemewahan Menjadi "Bukan Siapa-Siapa"
Tahu gak apa tingkat tertinggi dari kedamaian hidup? Yaitu ketika kamu sukses, dompetmu tebal, ibadahmu rajin, tapi di mata orang lain kamu kelihatan kayak warga biasa yang santai dan gak punya beban.
Orang yang beneran "Suhu" alias singa beneran di dunia nyata biasanya malah gak butuh panggung. Mereka males caper. Mereka keluar rumah pakai celana pendek, sendal jepit jepang yang udah tipis, tapi pas bayar belanjaan langsung cash gak pakai mikir. Mereka gak butuh tepuk tangan orang lain karena mereka udah tahu kualitas diri mereka sendiri.
Kesimpulan: Panggung Sirkusnya Udah Bubar, Yuk Pulang!
Hidup mengejar pujian manusia itu kayak kamu lagi lari di atas treadmill: capeknya setengah mati, keringetan, tapi posisinya gak maju-maju, tetep di situ aja. Hari ini kamu dipuji jadi "Suhu", besok pas kamu salah ngomong dikit, kamu langsung dipecat jadi "Suhu" dan berubah status jadi bahan hujatan se-kecamatan.
Jadi, buat apa menggantungkan kebahagiaanmu pada jempol orang lain?
Yuk, pelan-pelan pensiun dari budak validasi. Keluar dari panggung sirkus itu, copot topeng capermu, dan nikmati hidup yang tenang tanpa berisik. Lagian, di akhir hari, yang bikin tidur kita nyenyak itu adalah kasur yang empuk dan hati yang damai, bukan jumlah likes dari netizen yang bahkan gak bakal patungan pas kamu masuk rumah sakit.
Gimana, udah siap tanda tangan surat pensiun dari dunia tercaper ini?
Your email address will not be published. Required fields are marked *