
Mari kita jujur, letakkan tangan di dada. Siapa yang malam ini menatap seragam kerja atau laptop sambil membatin: "Ya Tuhan, apakah tidak ada perpanjangan cuti bersama barang seminggu lagi?"
Tenang, Anda tidak berdosa. Anda cuma manusia biasa yang shock berat karena harus berpisah dengan kasur yang posesif dan toples nastar yang belum habis.
Besok adalah "Senin Keramat". Hari di mana realita menampar kita untuk kembali mencari nafkah. Tapi, sebelum Anda mengajukan surat resign dadakan karena panik, mari kita pakai strategi "Manajemen Cinta" edisi nakal.
Apa itu? Simpelnya: Seni mencintai kewarasan diri sendiri di tengah gempuran deadline.
Berikut tips bertahan hidup untuk minggu ini:
1. Jangan Jadi Pahlawan Kesiangan Tolong, jangan datang ke kantor dengan ambisi membereskan masalah perusahaan dalam satu hari. Ingat, mesin diesel saja butuh dipanaskan sebelum tancap gas. Otak kita juga begitu.
Mencintai diri sendiri (bagian dari Manajemen Cinta, lho!) artinya memberi izin pada diri sendiri untuk bekerja dengan kecepatan 60-70% dulu. Kalau Bos tanya kenapa kerjanya belum sat-set, jawab saja dalam hati: "Maaf Pak/Bu, software rajin saya sedang proses update, harap bersabar."
2. Anggap Teman Kantor Sebagai Korban Bencana (Liburan) Lihat sekeliling Anda besok. Teman di kubikel sebelah yang matanya sembab, atau atasan yang masih jetlag. Jangan dihakimi. Dalam konsep pendidikan, kita diajarkan berempati pada murid yang sulit move on. Nah, terapkan itu pada rekan kerja.
Kalau ada yang lemot atau salah kirim email, senyumin aja. Anggap saja kita semua adalah korban bencana "kaget rutinitas". Saling memaafkan kegabutan masing-masing adalah bentuk cinta kasih yang nyata.
3. Ubah Mindset: Kita Tidak Cinta Pekerjaan, Tapi... Boleh jujur lagi? Mungkin kita tidak sebegitunya cinta sama tumpukan dokumen akreditasi atau laporan bulanan itu. Bikin pusing, iya.
Tapi, coba geser sedikit kacamatanya. Kita melakukan ini bukan semata-mata takut dipecat. Kita rela macet-macetan dan menahan kantuk demi mentraktir anak es krim di akhir pekan nanti, atau demi membelikan istri/suami hadiah kecil, atau sekadar menabung untuk traveling berikutnya.
Jadikan "wajah-wajah kesayangan" di rumah itu sebagai bahan bakar. Lelahnya kerja itu menyebalkan, tapi kalau ingat lelah itu berubah jadi senyum orang rumah, rasanya jadi agak mendingan (sedikit).
Epilog: Gas Tipis-Tipis Saja Jadi, untuk besok pagi, tidak perlu pasang target muluk-muluk. Target utamanya cukup dua:
Datang tepat waktu (atau telat dikit, asal alasannya logis).
Jangan ngamuk.
Sisanya, kerjakan pelan-pelan sambil sesekali curi pandang ke kalender, mencari tanggal merah berikutnya (spoiler: Imlek masih pertengahan Februari, sabar ya!).
Selamat kembali ke dunia nyata. Tarik napas, minum kopinya, dan mari kita pura-pura semangat sampai semangat itu beneran datang sendiri!
Your email address will not be published. Required fields are marked *