
Mari kita jujur sejak dalam pikiran: kita semua adalah makhluk sosial yang adiktif sama yang namanya validasi.
Hari gini, siapa sih yang gak seneng kalau dapet notifikasi? Pas HP getar bzzz, jantung langsung disko, berharap ada yang nge-chat, "Kamu keren banget hari ini!". Eh, pas dibuka ternyata SMS dari operator yang ngingetin kalau kuota internet tinggal 50 MB lagi. Di situ kadang saya merasa ingin kayang di atas genteng.
Ada satu hukum alam yang paling ajaib bin ajaib di dunia ini: Makin kamu kebelet pengen diperhatiin orang, makin kamu kelihatan transparan kayak angin lalu. Sebaliknya, pas kamu udah di tahap pasrah dan masa bodoh, orang-orang malah dateng berkerumun kayak semut nemu remahan nastar.
Kenapa bisa begitu? Mari kita bahas konspirasi alam semesta ini.
Tragedi "Ngeksis" yang Berakhir Miris
Bayangkan skenario ini (atau gak usah dibayangin deng, mungkin ini kisah nyata kamu):
Kamu pergi ke kafe mahal. Demi konten, kamu pesen kopi yang namanya susah dieja, harganya setara beras satu karung, dan rasanya mirip jamu puyangan.
Kamu foto tuh kopi dari 45 sudut berbeda sampai kopinya dingin dan berlumut. Pas di-upload ke medsos pake caption sok bijak: "Menikmati senja dan rindu yang tak bertepi..." Satu jam kemudian kamu cek HP. Hasilnya? Zonk! Gak ada yang komen. Gak ada yang nge-like selain akun penipu yang nawarin menang undian berhadiah panci. Sakitnya tuh bukan main, langsung berasa pengen pensiun jadi manusia.
Ini yang dinamakan Ironi Cari Perhatian. Makin kita ngemis eksistensi, orang lain tuh bawaannya pengen nge-skip kita. Kenapa? Karena aura kita kelihatan "butuh banget". Manusia itu paling pinter nyium bau-bau orang yang lagi kebelet pengen dipuji. Bau-baunya tuh... agak maksa, gaes.
Plot Twist: Kesaktian Jurus "Yaudah Sih"
Sekarang coba bandingkan sama momen ketika kamu lagi capek, kucel, cuma pake kaos oblong bolong di bagian ketiak yang udah tipis, celana kolor transformers, dan sandal jepit beda warna sebelah. Kamu jalan ke warung mpok Nur buat beli es teh manis.
Di momen itu, pikiranmu cuma satu: "Gua haus, gua mau es teh." Kamu gak peduli bumi mau runtuh, gak peduli ada mantan lewat, gak peduli dunia mau menilai apa.
Anehnya, pas kamu lagi di titik "Bodo Amat" level dewa ini, tiba-tiba temen lama kamu lewat, ngeliat kamu, terus teriak: "Wih bro! Gila, lu sekarang kelihatan santai dan lepas banget ya hidupnya! Keren, gak jaim kaya orang-orang!"
BOOM!
Di situlah letak kekuatannya. Saat kamu berhenti menggantungkan kebahagiaanmu pada hasil atau jempol netizen, kamu sebenernya lagi mengaktifkan superpower tersembunyi: Kemandirian Emosional.
Saat kamu stop berharap dipuji:
Kamu gak bakal jantungan kalau foto liburanmu cuma di-like sama emak sendiri.
Kamu gak bakal dandan dua jam cuma buat pergi ke minimarket depan kompleks demi siapa tahu ketemu jodoh.
Kamu jadi pribadi yang tangguh. Dicuekin? Yaudah sih. Gak diajak nongkrong? Asyik, bisa rebahan sambil nonton video kucing.
Kesimpulan: Jadilah Kuat, Jadilah Cuek!
Menjadi kuat itu bukan berarti kamu harus nge-gym sampai ototmu segede bapakmu. Menjadi kuat itu adalah ketika kamu berhasil memutus rantai "kecanduan dipuji orang".
Ketika kamu udah gak butuh perhatian dari luar, kamu jadi magnet alami. Orang-orang bakal seneng deket kamu karena kamu gak membawa beban drama "Tolong lihat aku, aku butuh kasih sayang!!".
Jadi, mulai besok, kalau mau posting sesuatu atau melakukan sesuatu, lakuin aja karena kamu emang suka. Bukan karena pengen dibilang aesthetic, cool, atau influencer-able.
Lepaskan beban itu, kawan. Hidup ini udah capek, jangan ditambahin beban mikirin gimana caranya biar disukai semua orang. Lagian, sekaya-kayanya atau sekeren-kerennya kamu, tetep aja di mata tukang parkir kamu cuma senilai dua ribu perak!
Stay cuek, stay kuat, dan jangan lupa bayar parkir!
Your email address will not be published. Required fields are marked *