
Selama ini, kalau ada orang bilang “Saya mau mencari Tuhan,” bayangan kita pasti dia akan lari ke puncak gunung, masuk ke gua sunyi, atau minimal iktikaf di pojok masjid dengan wajah serius dan kening berkerut. Seolah-olah Tuhan itu sosok pejabat tinggi yang hanya bisa ditemui di kantor resmi pada jam kerja dengan pakaian seragam lengkap.
Padahal, kalau kita mau jujur (dan sedikit santai), Tuhan itu Maha Asyik. Dia tidak hanya “nongkrong” di balik mimbar agung atau di sela-sela kitab tebal yang tintanya bikin pusing santri baru. Dia juga hadir di tempat yang paling tidak kita duga: Warung Kopi.
Ya, Warkop. Tempat di mana kaki bisa diangkat ke atas kursi tanpa takut didenda, dan asap rokok mengepul menyatu dengan doa-doa minta utang lunas.
Teologi "Cethe" dan Gorengan
Coba perhatikan seksama. Di masjid, kita diajarkan untuk khusyu’ (fokus penuh). Kalau sebelah kita batuk, konsentrasi kita buyar. Kalau imam bacaannya kepanjangan, hati kita mulai protes, "Ini kapan rukuknya?"
Tapi di warung kopi? Tingkat kekhusyu’an jamaah warkop itu bisa mengalahkan pertapa sakti.
Lihatlah Mas Bejo. Dia bisa duduk berjam-jam menatap ampas kopi (cethe) sambil melamun. Itu bukan sekadar melamun, Saudara-saudara. Itu adalah praktik tafakur tingkat tinggi. Dia sedang merenungi nasib: “Kenapa cicilan motor belum lunas, tapi keinginan nambah istri sudah muncul?”
Di situlah Tuhan hadir. Tuhan hadir dalam bentuk kesabaran Mas Bejo yang tidak mengamuk meski hidupnya pahit—sepahit kopi tanpa gula. Tuhan hadir memberi dia kekuatan untuk tetap tersenyum dan berkata, “Ah, santai saja, Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur).”
Bukankah itu tauhid yang paling murni? Percaya sama Tuhan tanpa banyak protes, cuma modal kopi item tiga ribu rupiah.
Beda Imam Masjid dan Ibu Warung
Kalau di tempat ibadah kita punya Imam yang harus diikuti gerakannya, di warung kopi kita punya “Ibu Warung”. Ketaatan jamaah warkop pada Ibu Warung ini luar biasa.
Mau pejabat, mau tukang ojek, mau kiai, kalau Ibu Warung bilang, “Gorengannya habis, Mas,” ya semua sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat). Tidak ada yang demo, tidak ada yang bikin petisi online, apalagi sampai bikin bid’ah-bid’ah baru soal gorengan. Semua menerima takdir dengan lapang dada.
Di sini, sekat-sekat sosial runtuh. Di meja warkop, seorang dosen bergelar doktor bisa tertawa terbahak-bahak mendengarkan analisis politik tukang parkir yang sumber beritanya dari grup WhatsApp bapak-bapak.
Tidak ada yang merasa paling benar. Tidak ada yang saling mengkafirkan cuma gara-gara beda pilihan menu. Yang minum es teh tidak menghina yang minum kopi jahe. Yang makan bakwan tidak menyesatkan yang makan tahu isi.
Ini adalah bentuk toleransi (tasamuh) tingkat dewa yang sering gagal kita praktikkan di ruang sidang atau media sosial. Di warkop, perbedaan itu bukan ancaman, tapi rahmat. Rahmat yang bikin obrolan makin panjang sampai lupa waktu pulang.
Ibadah Sosial yang Tak Terasa
Seringkali kita lupa, ibadah itu ada dua jalur: Hablum Minallah (hubungan vertikal sama Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan horizontal sama manusia).
Di masjid, kita sibuk dengan jalur vertikal. Bagus. Tapi di warung kopi, jalur horizontal itu terbentang luas.
Saat ada teman yang kurang uang pas bayar kopi, lalu teman sebelahnya bilang, “Udah, pakai duitku dulu,”—detik itu juga malaikat pencatat amal sibuk mencatat pahala sedekah. Padahal niatnya cuma biar nggak malu dilihatin orang, tapi kan tetap saja itu kebaikan.
Saat kita mendengarkan curhatan teman yang lagi pusing dimarahi istrinya, itu adalah bentuk silaturahmi dan menghibur hati yang sedih. Pahalanya besar, lho.
Jadi, jangan buru-buru menuduh orang yang nongkrong di warkop itu pengangguran tak berguna. Siapa tahu mereka adalah para wali-wali yang menyamar (wali murid maksudnya), yang sedang mempraktikkan ajaran agama paling inti: Memanusiakan manusia.
Ngopi Dulu, Biar Nggak Tegang
Intinya, Tuhan itu terlalu luas untuk dibatasi tembok-tembok bangunan. Dia ada dalam tawa renyah sahabat kita. Dia ada dalam keikhlasan Ibu Warung melayani pembeli yang ngutang. Dia ada dalam damainya hati kita saat menyeruput kopi panas di pagi hari.
Maka, jangan tegang-tegang amat jadi orang beragama. Kalau hidup mulai terasa berat, ruwet, dan banyak masalah, mungkin itu bukan karena Anda kurang ibadah. Mungkin, Anda cuma kurang ngopi.
Mari rayakan kehadiran Tuhan dengan gembira. Pesan kopi satu, angkat kaki, dan tersenyumlah. Karena cemberut itu tidak menambah pahala, malah menambah keriput.
Wallahu a’lam bish-shawab (Dan Tuhan Maha Tahu, terutama tahu kalau kopinya sudah habis)
Your email address will not be published. Required fields are marked *