
Pepatah lama zaman nenek moyang kita bilang, "Tangan kanan memberi, tangan kiri menyembunyikan." Maknanya dalam banget: kalau berbuat baik, nggak usah pamer. Tapi di era digital ini, pepatah itu kayaknya udah kena update software paksa jadi: "Tangan kanan memberi, tangan kiri megang ring light sambil nyari angle yang pas."
Pernah nggak sih, kamu lagi asyik scroll TikTok atau Reels buat nyari hiburan, eh tiba-tiba lewat video "Social Experiment". Ada mas-mas ganteng ngasih uang segepok ke kakek penjual kerupuk di pinggir jalan. Videonya diiringi lagu sedih yang bikin merinding, lengkap dengan subtitle dramatis yang font-nya segede gaban.
Dalam hati kita mikir, "Wah, mulia banget nih orang. Bikin terharu." Tapi tiga detik kemudian, logika kita mulai jalan, "Bentar deh... itu yang ngerekam kakeknya dari tiga angle berbeda siapa? Kok bisa ada adegan slow-motion? Pake drone segala lagi!"
Bikin Malaikat Pencatat Amal Ikutan Pusing
Bayangin deh repotnya Malaikat Raqib dan Atid di zaman now. Dulu, nyatet amal orang ikhlas itu gampang. Orang masukin duit ke kotak amal masjid, diam-diam, selesai. Dicatat sebagai pahala.
Sekarang? Pas malaikat mau nyatet pahala sedekah, tiba-tiba harus berhenti dan ragu. "Bentar, ini masuk buku amal atau masuk analitik adsense ya? Soalnya habis ngasih sembako, dia langsung menghadap kamera sambil teriak, 'Jangan lupa like, comment, and share ya guys biar kita bisa bantu lebih banyak orang!'" Ikhlas itu kan definisinya berbuat baik tanpa pamrih. Lah ini pamrihnya jelas banget dan bisa dicairin tiap bulan: engagement, followers naik, dan masuk FYP!
Tipe-Tipe Pahlawan Kebaikan di Jalur Konten
Sadar atau nggak, sekarang ini "Orang Baik" di media sosial itu ada genre-nya masing-masing. Coba cek, pasti kamu sering ketemu salah satu dari tipe ini:
Si "Social Experiment" Berkedok Ujian Hidup: Pura-pura jadi gembel dekil, minta makan ke tukang gorengan. Pas dikasih, tukang gorengannya malah dibalas dengan uang jutaan rupiah. Plot twist: besoknya semua orang di kampung itu pura-pura jadi gembel nongkrong di depan gerobak si bapak sambil nungguin dikasih duit.
Si Sedekah Bersponsor (Affiliate Syariah): "Alhamdulillah hari ini kita bisa berbagi ke panti asuhan. Oh ya, buat kalian yang salfok nanya aku pakai kemeja apa, ini bahannya adem banget dari brand X ya, mumpung lagi diskon langsung aja klik keranjang kuning!" Ini pahala sedekahnya balapan sama komisi affiliate.
Si Perekam Muka Nangis (Zoom In - Zoom Out): Wajah orang yang dikasih bantuan disensor (katanya demi menjaga privasi), tapi muka si pemberi di-zoom berkali-kali dari berbagai sudut sambil nangis sesenggukan. Kita yang nonton jadi bingung, ini dokumentasi amal atau lagi audisi sinetron azab?
Ikhlas Itu Kayak PIN ATM, Nggak Perlu Diumbar
Sebenarnya, pamer kebaikan di media sosial itu nggak 100% salah total. Kadang-kadang, niatnya emang benar untuk menginspirasi orang lain biar ikutan donasi. Tapi jujur aja, batas antara "niat menginspirasi" dan "niat pansos (panjat sosial)" itu tipis banget. Setipis tisu warteg yang dibagi dua.
Ikhlas itu ibarat PIN ATM atau password Wifi rumahmu. Cukup kamu dan sistem (baca: Tuhan) aja yang tahu. Kalau password itu kamu tulis di banner gede dan dipasang di depan rumah, ya namanya bukan rahasia lagi, tapi promosi.
Kesimpulan: Taruh Kameramu, Lakukan Kebaikanmu
Jadi, mari kita sama-sama belajar buat ngerem dikit insting bikin kontennya. Kalau emang lagi jalan terus pengen ngasih uang Rp 10.000 ke pengamen atau beliin minum buat bapak ojol, ya kasih aja langsung.
Nggak usah repot-repot ngeluarin HP, buka aplikasi kamera, nyari filter aesthetic, trus nyuruh bapak ojolnya senyum sambil berpose. Kasihan, bapaknya keburu haus dan pegel nungguin kamu setting kamera.
Kebaikan yang paling sejati dan paling melegakan hati itu sering kali terjadi justru di saat tidak ada satu pun lensa kamera yang merekamnya. Lagipula, sebaik-baiknya viewers dan subscribers di dunia ini, adalah Dia Yang Maha Melihat, yang mencatat kebaikanmu tanpa butuh koneksi internet.
Your email address will not be published. Required fields are marked *