
Pernah nggak sih, pas lagi di kondangan sepupu, keluarga kamu terlihat sangat picture-perfect? Anak-anak duduk rapi (nggak ada yang lari-lari narik taplak meja), suami-istri saling tatap penuh cinta (padahal tadi di mobil debat soal siapa yang lupa matiin kompor), dan baju semuanya seragam warna sage green biar estetik.
Pas ditanya tantenya, "Gimana keluarganya? Harmonis ya?" Kita langsung pasang senyum paling tulus dan jawab, "Alhamdulillah, Tan. Berkah." Padahal di dalam hati, kita lagi mikirin cicilan paylater yang belum lunas dan tumpukan piring yang sudah membentuk formasi Tetris di dapur.
Selamat! Anda baru saja memenangkan nominasi "Aktor Terbaik Kategori Pencitraan Publik."
Lelahnya Jadi "Manusia Galeri"
Zaman sekarang, kita sering terjebak dalam gaya hidup "Manusia Galeri". Apa-apa harus kelihatan sempurna di depan publik. Mau makan di restoran? Berdoa nomor dua, foto estetik nomor satu. Pasangan lagi ngeselin? Tetap posting caption "My Support System" biar nggak dibilang lagi retak.
Tapi jujur deh, akting itu capek banget. Jauh lebih capek daripada lari maraton sambil bawa belanjaan bulanan. Kenapa? Karena kita berusaha memuaskan mata orang yang bahkan nggak peduli-peduli amat sama hidup kita.
Allah: Penonton yang Nggak Butuh Filter
Di sinilah letak indahnya takwa. Takwa itu adalah momen kita melepas semua topeng "Keluarga Cemara" itu dan bilang ke Allah, "Ya Allah, hamba capek. Hamba nggak sesempurna itu."
Allah itu tahu kita pas lagi dasteran/kaosan lubang, rambut berantakan, dan lagi emosi gara-gara remote TV hilang. Allah tahu aslinya kita. Dan kerennya? Allah nggak akan nge-ghibahin kekurangan kita ke tetangga sebelah.
Gimana Cara Berhenti Akting (Tanpa Harus Jadi Orang Aneh)?
Menjadi jujur pada Allah dan diri sendiri di tengah keluarga kekinian itu sebenarnya simpel, tapi butuh keberanian:
Berhenti Jadi "Pemuja Like": Kalau lagi berantem sama pasangan, ya nggak usah posting kutipan bijak di Story. Mending duduk bareng, jujur kalau lagi kesel, terus doa bareng. Allah lebih suka hamba-Nya yang jujur curhat ke Sajadah daripada yang curhat lewat kode-kode di media sosial.
Ibadah "Undercover": Coba sesekali lakuin kebaikan yang nggak usah difoto. Kasih makan kucing liar, bersihin sisa makanan anak yang berceceran, atau bayarin belanjaan orang di belakang kita secara diam-diam. Rasain sensasi "Cuma Allah yang Tahu". Rasanya lebih plong daripada dapet 100 Likes.
Terima "Ketidaksempurnaan": Nggak apa-apa kalau rumah berantakan pas ada tamu. Nggak apa-apa kalau anak tantrum di mal. Kita manusia, bukan robot AI. Kesadaran bahwa Allah tetap mencintai kita meski kita lagi "berantakan" adalah puncak ketenangan.
Kesimpulan: Jujur Itu Hemat Energi
Akting di depan publik itu butuh biaya: biaya beli baju baru buat pamer, biaya makan mahal demi konten, dan biaya mental buat nahan gengsi.
Tapi jujur pada diri sendiri dan Allah itu gratis. Malah dapat bonus ketenangan batin. Jadi, daripada sibuk mikirin "Apa kata orang kalau lihat dapurku berantakan?", mending fokus ke "Apa kata Allah kalau lihat hatiku berantakan?"
Hidup cuma sekali, jangan habiskan buat jadi orang lain. Karena pada akhirnya, pas pintu rumah tertutup dan lampu dimatikan, cuma ada kamu, pasanganmu, dan Allah.
Gimana? Besok masih mau lanjut akting jadi "Keluarga Tanpa Masalah", atau mau mulai jujur kalau hidup emang kadang lucu dan perlu banyak-banyak istighfar?
Your email address will not be published. Required fields are marked *