
Lebaran 1447 H sudah tiba! Ketupat sudah matang sempurna, baju koko dan kaftan sudah disetrika selicin jalan tol, dan handphone kita kembali jadi asisten pribadi yang sibuk menerima ribuan notifikasi.
Di momen ini, meminta maaf itu rasanya gampang banget. Ibarat lomba lari, semua orang tiba-tiba jadi atlet lari maraton jalur broadcast WhatsApp. Tinggal cari template kata-kata mutiara, klik forward, pilih 250 kontak, beres! Dosa (seolah-olah) luntur dalam waktu kurang dari 5 detik.
Tapi, mari kita bahas satu hal yang jarang diomongin saat makan opor bersama: Kenapa ngomong "Iya, udah dimaafin kok" itu jauh lebih gampang di mulut daripada di hati? Kenapa memaafkan itu prosesnya lebih alot daripada daging rendang yang kurang presto?
Mari kita bedah anatomi "Titik Nol Hati" di hari raya ini!
1. Meminta Maaf Ada Script-nya, Memaafkan Tidak Ada Tombol Delete-nya
Meminta maaf itu gampang karena sudah ada SOP-nya. Tinggal salim, cium tangan, senyum, lalu bilang "Mohon maaf lahir batin ya." Selesai.
Namun, saat ada teman atau saudara yang minta maaf, otak kita nggak punya tombol "Clear Cache" atau "Delete Browser History". Begitu Si A bilang, "Bro, maafin salah-salah gue ya," otak kita malah memutar film layar tancap beresolusi 4K berisi kompilasi dosa-dosanya:
Mulai dari dia pinjem uang 100 ribu tahun lalu tapi amnesia mendadak...
Sampai tragedi dia ngilangin Tupperware keramat milik ibu kita yang bikin kita dicoret dari Kartu Keluarga selama 3 hari.
Mulut kita otomatis bilang, "Yaelah santai aja, udah gue maafin kok!" Tapi hati kita berbisik sinis, "Dimaafin sih dimaafin, tapi Tupperware emak gue harganya nggak sebanding sama maaf lu, Bambang!"
2. Sindrom Buku Catatan Utang Dosa (Ledger Hitam Hati)
Kita ini sering kali tanpa sadar jadi akuntan handal kalau urusan kesalahan orang lain. Kita punya buku besar (buku kas) di dalam hati yang mencatat rincian kesalahan orang dengan sangat presisi, lengkap dengan tanggal, jam, dan tempat kejadian perkara.
Memaafkan itu sulit karena artinya kita harus "memutihkan" buku kas tersebut. Kita harus mencoret utang kesalahan mereka menjadi Rp 0,-. Ego kita sering memberontak, "Enak aja dia dimaafin gitu aja! Udah bikin gue nangis darah pas ngerjain tugas kelompok sendirian zaman kuliah dulu!" Kita merasa kalau kita memaafkan, berarti kita "kalah" atau "membiarkan mereka lolos". Padahal... (baca poin selanjutnya ya, ini bagian deep-nya).
3. Memaafkan Bukan Buat Mereka, Tapi Buat Kita (Biar Nggak Kembung)
Pernah nggak kamu makan lontong sayur tiga piring, ditambah nastar setengah toples, lalu minum es sirup dua gelas? Begah, kan? Susah napas, kan?
Nah, menyimpan dendam dan kekesalan itu rasanya persis seperti itu, bedanya yang begah adalah batin kita. Memaafkan itu sering kali terasa sulit karena kita salah paham. Kita pikir memaafkan adalah hadiah untuk orang yang bersalah. Padahal bukan!
Memaafkan adalah obat pelangsing untuk hati kita sendiri. Menahan dendam itu ibarat meminum racun tapi berharap orang lain yang sakit perut. Nggak masuk akal, kan? Dengan merelakan dan benar-benar memaafkan, kita sedang membuang lemak-lemak kebencian yang bikin hati kita berat melangkah.
Mencapai "Titik Nol" di Lebaran 1447 H
Lebaran ini, mari kita ubah cara mainnya. Saat bersalaman, jangan cuma mulut yang bilang "kosong-kosong ya". Jadikan hati kita benar-benar kembali ke "Titik Nol".
Titik Nol bukan berarti kita amnesia dan lupa kalau teman kita pernah ngeselin. Titik Nol berarti kita ingat kejadiannya, tapi kita sudah tidak marah lagi. Rasanya sudah hambar. Kayak makan sayur tanpa garam, atau kayak grup keluarga tanpa forward-an hoaks dari Om dan Tante—ada yang kurang, tapi justru bikin tenang.
Jadi, lepaskanlah. Maafkan teman yang utangnya macet (tapi tetap tagih kalau jumlahnya lumayan, ya—memaafkan bukan berarti sedekah paksa!). Maafkan mantan yang ghosting. Maafkan saudara yang pertanyaannya nyelekit.
Selamat kembali ke Titik Nol Hati. Karena sebaik-baiknya baju baru, jauh lebih nyaman dipakai kalau hati kita ukurannya sudah selonggar lapangan bola!
######
Minal 'Aidin wal Faizin, SELAMAT MERAYAKAN IDUL FITRI 1447 H
Doa dari kami, semoga semua Keluarga, Sahabat, Teman Sejawat, Para Pembaca blog ini memperoleh keberkahan yang jauh lebih banyak, berkah keluarga, aktivitas, rizki, dan karunia lain.
Your email address will not be published. Required fields are marked *