
Pernah nggak sih, lagi asik rebahan jam 11 malem, niatnya cuma mau ngecek jam, eh jari malah reflek buka Instagram.
Tiba-tiba... Jreng!
Di Story pertama: Teman SD kamu lagi honeymoon di Swiss, main salju pake jaket tebel yang harganya setara UMR Jakarta.
Di Story kedua: Teman SMA kamu pamer mobil baru, plat nomornya cantik, secantik filternya.
Di Story ketiga: Tetangga kamu lagi makan Omakase yang ikannya diterbangkan langsung dari Jepang (mungkin naik First Class).
Sementara kamu? Lagi pake kaos partai yang udah bolong dikit di ketiak, sambil ngemil remah-remah rempeyek sisa lebaran.
Rasanya tuh... Nyes. Ada suara kecil di hati yang berbisik: "Ya Allah, aku kapan? Kok hidupku gini-gini amat ya? Apa aku kurang kerja keras? Apa aku harus ternak tuyul?"
Selamat, Bestie. Kamu positif terkena virus FOMO (Fear of Missing Out) alias Takut Ketinggalan Tren. Gejalanya: mata panas, hati gelisah, dan jari gatal ingin checkout keranjang Shopee pakai PayLater.
Diagnosis Dokter: Kamu "Miskin" (Tapi Bukan Dompetnya)
Tenang, ini bukan body shaming dompet. Masalah utamanya bukan di saldo rekening (walaupun itu masalah juga sih, hiks), tapi di "settingan pabrik" hati kita.
Kita sering mikir, "Gue bakal bahagia KALO gue punya iPhone 16 Pro Max."
Pas udah beli, senengnya cuma seminggu. Bulan depan keluar iPhone 17 yang kameranya bisa nge-zoom masa depan. Gelisah lagi. Kurang lagi.
Lingkaran setan ini namanya Hedonic Treadmill. Lari terus, capek iya, tapi nggak kemana-mana.
Resep dari Langit: The Art of Cukup
Ternyata, 1400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW udah ngasih spoiler tentang cara ngatasin mental boncos ini. Beliau bersabda:
"Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan hati (selalu merasa cukup)."
(HR. Bukhari & Muslim)
Simpel, padat, menohok ulu hati.
Dalam bahasa gaulnya: "Kaya itu bukan soal berapa digit di ATM lo, tapi seberapa santuy hati lo."
Konsep ini bisa kita sebut "The Art of Cukup". Seni merasa cukup. Ini bukan berarti kita jadi pemalas yang pasrah miskin, ya. Bukan! Kita tetap kerja keras bagai kuda, tapi hasilnya tidak mendikte kebahagiaan kita.
Tutorial Praktis "The Art of Cukup" (Versi Low Budget)
Gimana cara mempraktekkan hadits ini biar nggak burnout liat postingan orang?
1. Filter "Kebutuhan" vs "Gengsi"
Situasi: Teman beli kopi starling (Starbucks Keliling) yang Rp 60.000.
Mental FOMO: "Ikut beli ah, biar di-story in." (Padahal dompet teriak).
Mental Art of Cukup: "Gue butuh kafein, bukan logo ijo." Beli kopi sachet Rp 3.000. Efek meleknya sama, sisa duitnya bisa buat beli nasi padang pake tunjang. Menang banyak.
2. Ubah Definisi "Healing"
Situasi: Orang-orang healing ke Bali atau Labuan Bajo.
Mental FOMO: "Hidup gue stres banget, butuh tiket pesawat!"
Mental Art of Cukup: "Healing terbaik adalah tidur siang tanpa alarm dan makan mie instan pake telor setengah matang pas hujan." Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Gratis dan no drama.
3. Sadari Bahwa Sosmed Itu Panggung Sandiwara
Ingat, yang diposting di sosmed itu highlight reel. Teman kamu yang posting foto mesra sama pacarnya di Paris itu, mungkin 5 menit sebelumnya baru aja berantem hebat gara-gara rebutan siapa yang pegang Google Maps.
Jangan bandingkan behind the scene hidupmu yang berantakan dengan trailer film hidup orang lain yang sudah diedit.
Tim Tidur Nyenyak
Jadi, pilih mana?
Tim A: Punya duit banyak (hasil utang), barang branded, tapi tiap malam overthinking, minum obat lambung, dan dikejar-kejar rasa "kurang".
Tim B: Duit pas-pasan (pas mau makan ada, pas mau beli kuota ada), barang fungsional, tapi tidurnya pules ngorok, hati tenang, dan senyumnya lebar tanpa paksaan.
Kalau kamu pilih Tim B, selamat datang di klub Ghinan Nafs. Klub orang-orang kaya yang sesungguhnya.
Yuk, mulai hari ini kita belajar bilang: "Alhamdulillah, segini juga udah cukup. Besok kita cari lagi, tapi sekarang kita ngopi dulu."
Cheers!
Your email address will not be published. Required fields are marked *