
Zaman sekarang, jadi orang tua itu ujiannya berat banget. Bukan cuma mikirin biaya sekolah anak yang makin mirip harga DP rumah cluster, tapi juga ujian mental pas buka Instagram atau TikTok.
Di sana, kita bakal nemu "Sekte Parenting Estetik". Isinya ibu-ibu muda yang jam 6 pagi penampilannya sudah rapi kayak mau meeting sama investor, rumahnya bernuansa beige tanpa ada satu pun mainan berserakan, dan anaknya kalau dikasih makan brokoli rebus langsung bilang, "Thank you, Mommy, it’s delicious!" tanpa drama GTM (Gerakan Tutup Mulut).
Lalu kita menengok ke realita rumah sendiri: Jam 6 pagi kita masih dasteran, muka sembap, lantai penuh remah-remah biskuit yang kalau diinjek rasanya kayak terapi refleksi ekstrem, dan anak kita lagi nangis guling-guling karena warna sendok makannya kurang cerah.
Seketika kita merasa gagal jadi orang tua, lalu buru-buru pasang filter biar bisa ikutan kelihatan estetik di medsos.
Kompetisi Terselubung di Grup WhatsApp Walimurid
Sadar atau nggak, kehidupan keluarga kekinian itu penuh dengan kompetisi tak kasat mata.
Anak tetangga umur 2 tahun sudah bisa dua bahasa (Indonesia-Inggris). Anak kita? Baru bisa bahasa planet yang cuma dia dan Tuhan yang tahu.
Liburan sekolah orang-orang ke Jepang atau minimal Labuan Bajo. Kita? Liburan paling realistis adalah keliling komplek naik motor sambil nyari tukang odong-odong.
Demi menjaga harga diri bangsa (baca: gengsi keluarga), kita sering memaksakan diri tampil sempurna di depan publik. Kita pengen dibilang "Wah, sukses ya ngajarnya," atau "Ih, keluarganya harmonis dan tertata banget." Padahal di balik layar? Kita lagi stres tingkat dewa, sering ngomel-ngomel pas kamera mati, dan hubungan sama pasangan malah jadi hambar karena sibuk ngurusin "apa kata orang".
Allah Nggak Nyari "Sertifikat Parents of the Year"
Nah, di sinilah esensi takwa dan kejujuran itu menyelamatkan waras kita.
Allah itu nggak pernah ngasih syarat masuk surga berdasarkan seberapa aesthetic rumah kita atau seberapa mahal merk mainan anak kita. Allah itu melihat proses dan ketulusan hati kita saat menjalani peran di dalam rumah.
Ketika kita sadar bahwa Allah selalu mengawasi, kita bakal berhenti ikutan kompetisi melelahkan itu. Kita bakal sadar kalau:
Marah itu Manusiawi, yang Penting Kelola: Nggak usah pura-pura jadi orang tua yang nggak pernah kesal. Kalau anak lagi ajaib dan kita pengen narik napas, ya ngaku aja ke Allah. "Ya Allah, hamba lagi emosi banget ini, tolong kuatkan." Itu jauh lebih berkah daripada senyum palsu di depan orang tapi ngedumel di dalam hati.
Niat yang Nggak Kelihatan: Menyuapi anak dengan sabar (meski makanannya cuma nasi telor ceplok) tanpa ada niat pengen pamer di feed itu nilainya luar biasa di mata Allah.
Rumah Tangga Bukan Panggung Sandiwara: Buat apa dipuji satu dunia sebagai "Couple Goals" kalau pas berdua di kamar mandi kita malah saling diam dan gak mau teguran? Jujurlah pada diri sendiri dan pasangan, lalu bawa obrolan itu ke atas sajadah.
Kesimpulan: Menjadi Waras adalah Koentji
Mengurangi dosis pencitraan di depan manusia itu ternyata bikin hidup jauh lebih hemat energi dan ramah kantong. Kita gak perlu stres mikirin konten, gak perlu maksain beli barang yang gak mampu cuma demi feeds yang rapi.
Ubah fokusnya. Daripada sibuk dandanin "luar"-nya keluarga biar dinilai bagus sama netizen, mending kita rapikan "dalam"-nya biar diridhoi sama Allah. Nggak apa-apa rumah berantakan, yang penting hubungan kita sama Allah dan keluarga tetap aman dan nyaman.
Lagian, anak-anak kita itu nggak butuh orang tua yang sempurna. Mereka cuma butuh orang tua yang bahagia, waras, dan selalu mendoakan mereka dengan tulus.
Your email address will not be published. Required fields are marked *