
Coba bayangkan kamu lagi makan di restoran all you can eat sendirian. Meja depanmu diisi pasangan yang lagi suap-suapan mesra, meja sebelah diisi keluarga besar yang lagi arisan. Lalu tiba-tiba, seorang pelayan lewat, menatapmu dengan pandangan iba penuh simpati seolah batinnya berteriak, "Ya ampun, kasihan banget manusia ini, sebatang kara di tengah dunia yang kejam..."
Padahal, di dalam hatimu, kamu lagi bersorak gembira, "YES! Daging wagyu ini milikku seutuhnya! Nggak ada yang bakal nyomot, nggak ada yang ngajak ngobrol pas gue lagi ngunyah!"
Sering banget kan, masyarakat kita terjebak stigma bahwa "orang yang sendirian itu pasti hatinya nelangsa". Padahal, Bestie, ada perbedaan kasta yang sangat ekstrem antara "Sendirian" (status fisik) dan "Kesepian" (status batin).
Mari kita bedah fenomena kocak ini pakai Analogi Sinyal HP!
1. "Sendirian" Itu Kayak Mengaktifkan Mode Pesawat
Orang yang lagi sendirian—entah itu makan sendiri, nonton bioskop sendiri, atau jalan-jalan ke mall sendiri—itu persis kayak HP yang lagi di-setting ke Mode Pesawat (Airplane Mode).
Ini bukan berarti HP-nya rusak atau nggak laku. Justru, fitur ini sengaja diaktifkan! Tujuannya apa? Biar baterainya awet, charging-nya lebih cepat, dan nggak ada notifikasi masuk yang bikin stres (terutama notifikasi dari grup keluarga yang isinya forward-an video hoaks atau tagihan pinjol).
Menikmati kesendirian (solitude) adalah bentuk isi ulang baterai sosial. Kamu memilih secara sadar untuk men- disconnect dirimu dari dunia luar supaya kamu bisa menikmati waktu bareng satu-satunya orang yang paling mengerti kamu: Dirimu sendiri.
2. "Kesepian" Itu Kayak Sinyal 5G Full Bar, Tapi Kuota Habis!
Nah, sebaliknya, pernah nggak kamu jalan bareng pacar atau nongkrong di kafe hits bareng sirkel pertemananmu yang jumlahnya selusin itu? Dari luar, kelihatan banget hidupmu sukses secara sosial. Tapi pas di tongkrongan, pacarmu asyik mabar Mobile Legends, atau teman-temanmu sibuk gosipin topik yang kamu nggak ngerti sama sekali.
Kamu duduk di sana, tapi ragamu berasa tembus pandang. Inilah yang disebut dengan ironi keramaian.
Ini persis kayak HP yang Sinyal 5G-nya Full Bar, tapi kuotanya nol. Dari luar kelihatannya perfect, terhubung dengan jaringan tingkat dewa, tapi pas dipakai buka browser malah muncul dinosaurus main lompat kaktus. Frustrasi banget, kan?
Kesepian yang paling menyakitkan bukanlah saat kita nggak ada teman di kamar, melainkan saat kita dikelilingi banyak manusia, tapi tidak ada satu pun yang terhubung secara emosional dengan kita. Berada di satu meja, tapi beda frekuensi.
3. Fenomena Solo Player di Era Keroyokan
Mungkin gara-gara kebanyakan nonton sinetron, kita jadi parno kalau ngelakuin apa-apa sendiri. Padahal, jadi solo player di kehidupan sehari-hari itu punya keuntungan setara akun premium:
Bebas Miskomunikasi: Kamu mau belok ke toko baju, ya tinggal belok. Nggak perlu debat kusir, "Eh, mau ke kiri apa ke kanan nih? Terserah kamu deh. Kok terserah aku sih, kan tadi kamu yang ngajak!"
Nonton Bioskop Tanpa Spoiler: Nonton film sendiri itu kemewahan. Nggak akan ada teman di sebelahmu yang tiba-tiba nyeletuk nanya, "Eh, ini orang yang mati di awal tadi bukan sih?" (Ya mana gue tahu, Bambang! Kan kita nontonnya barengan dari tadi!).
Kecepatan Fleksibel: Kalau jalan rame-rame, kita harus ngikutin pace orang paling lambat. Kalau jalan sendiri, kamu bisa jalan santai ala model runway atau jalan ngebut ala orang telat check-in pesawat. Bebas!
Kesimpulan: Jangan Kasihani Mereka yang Sendiri!
Jadi, mulai sekarang, mari kita stop menatap iba orang yang lagi ngopi atau makan sendirian di pojokan kafe. Jangan-jangan, mereka justru lagi menertawakan kita yang lagi ribet nyari bahan obrolan biar nggak awkward sama teman semeja.
Tidak semua yang sendirian itu kesepian. Beberapa orang sengaja memasang pagar di sekelilingnya bukan untuk memblokir dunia, tapi sekadar bikin zona VIP di mana mereka nggak perlu pura-pura tersenyum kalau lagi nggak mood. Dan ingat, lebih baik terlihat sendirian tapi batinnya tenang, daripada rame-rame tapi batinnya tersiksa karena kuota simpati sudah kedaluwarsa!
Your email address will not be published. Required fields are marked *