
Bayangkan situasi ini: Hari Minggu siang, cuaca panas terik, dan tiba-tiba mesin pompa air di rumah mati. Si Emak udah mulai uring-uringan karena cucian menumpuk setinggi Gunung Merbabu. Sementara si Bapak, dengan tenangnya sambil rebahan dan kipas-kipas pakai koran bekas, berkata:
"Tenang, Bund... Kita tawakkal aja. Kalau rezeki, nanti airnya ngalir sendiri kok."
Mendengar kalimat itu, rasanya si Emak pengen langsung merubah fungsi sodet penggorengan jadi senjata pemukul, bukan?
Nah, di sinilah sering terjadi huru-hara rumah tangga. Konsep tawakkal sering kali dijadikan tameng pelindung bagi kaum mager (malas gerak) alias jurus pamungkas untuk melegitimasi kemalasan. Biar urusan dapur gak berujung jadi perang dunia ketiga, yuk kita luruskan bareng-bareng apa itu tawakkal yang sebenarnya buat pasangan suami-istri!
1. Tawakkal vs Males Gerak: Bedanya Tipis tapi Efeknya Bikin Jantungan
Banyak nih di antara kita yang salah kaprah. Mengira berserah diri itu artinya duduk manis, melipat tangan, sambil nunggu keajaiban jatuh dari plafon rumah.
Logikanya gini: Kalau Bapak mau pergi ke kantor naik angkot, Bapak harus jalan dulu ke gang depan, lalu angkat tangan buat nyetop angkotnya. Gak bisa Bapak cuma duduk di dalam kamar mandi sambil merem dan berharap angkotnya tiba-tiba masuk ke bak mandi, kan?
Begitu juga dalam rumah tangga. Tawakkal itu baru sah kalau ikhtiarnya udah mentok.
Ø Bapak: Udah sebar 50 CV kerjaan, udah lembur bagai kuda, baru setelah itu tidur nyenyak sambil berdoa. Itu tawakkal. Kalau CV masih di-draft tapi udah merem dari jam 8 malam sambil bilang "pasrah", itu namanya simulasi pengangguran abadi.
Ø Emak: Udah masak nasi, udah colokin kabel rice cooker, dan udah cetek tombol ke posisi cook. Baru ditinggal arisan. Kalau beras cuma ditaruh di dalam panci tanpa air, gak dicolokin, terus ditinggal sambil zikir berharap jadi nasi kuning komplit... ya mohon maaf, sampai gerhana matahari berikutnya juga bakal tetap jadi beras kaku!
2. Rumus Rahasia: Ikat Dulu Untanya, Baru Lepas!
Ada kisah zaman Nabi tentang seorang Arab Badui yang meninggalkan untanya tanpa diikat, lalu berkata dia bertawakkal kepada Allah. Nabi kemudian menegurnya, "Ikat dulu untamu, baru bertawakkal."
Mari kita bawa kisah unta ini ke dalam drama domestik Emak dan Bapak:
Ø Urusan Tagihan Bulanan: Ikat untanya dengan cara bikin anggaran belanja yang ketat, kurangi jajan kopi kekinian, dan stop checkout keranjang belanjaan subuh-subuh. Setelah dompet dikunci rapat, baru tawakkal semoga cukup sampai akhir bulan. Jangan dibalik: belanja elite, ikhtiar sulit, pas ditagih paylater langsung pura-pura pingsan sambil bilang "Tuhan pasti bantu".
Ø Urusan Didik Anak: Ikat untanya dengan cara dididik baik-baik, dikasih contoh yang benar, dan dibatasi main gadget-nya. Setelah itu, tawakkal agar si anak tumbuh jadi anak saleh/saleha. Jangan sampai bapaknya main game seharian, ibunya sibuk nge-gosip, tapi berharap anaknya tiba-tiba hafal 30 juz secara ajaib.
3. Panduan Kompak ala Suami-Istri Biar Gak Salah Kaprah
Supaya chemistry tawakkal ini bisa sefrekuensi dan gak bikin darah tinggi naik, ini pembagian tugas yang adil:
Ø Komunikasi Dua Arah: Kalau ada masalah keuangan atau anak, duduk bareng. Jangan yang satu pusing mikir jalan keluar, yang satu lagi malah asyik main catur di pos ronda sambil bilang "ah, sudahlah".
Ø Saling Mengingatkan Tanpa Omelan: Kalau kelihatan pasangan mulai overthinking padahal sudah berusaha maksimal, di situlah fungsi pasangan untuk menenangkan. "Pak/Bu, kita udah usaha yang terbaik, sisanya biar Allah yang atur ya." Kalimat ini jauh lebih adem daripada, "Tuh kan, makanya dengerin kata aku!"
Ø Rayakan Hasil Kecil: Kadang, hasil ikhtiar kita gak sesuai target awal. Di sinilah ujian tawakkal sesungguhnya. Kalau pendapatan bulan ini agak mepet, ya disyukuri aja. Mungkin rezeki bulan ini bukan bentuk uang tunai, tapi bentuk anak-anak yang sehat dan gak gampang masuk angin.
Kesimpulan: Tawakkal Itu Kata Kerja, Bukan Kata Sifat!
Jadi, untuk kaum Emak dan Bapak di luar sana, mari kita sepakati satu hal: Tawakkal itu aktif, bukan pasif. Tawakkal adalah mesin penggerak hati setelah fisik kita lelah berusaha.
Ketika kita sudah keringatan, kepala sudah pusing mencari jalan, dan semua ikhtiar halal sudah dicoba, di titik itulah kita angkat tangan dan berkata, "Ya Allah, tugas hamba sudah selesai, sekarang giliran Engkau yang bekerja."
Setelah itu? Tersenyumlah. Tarik napas dalam-dalam, bikin kopi hitam buat Bapak, bikin teh manis buat Emak, dan nikmati sisa hari dengan tenang. Karena janji-Nya pasti, dan rezeki gak akan pernah tertukar dengan jemuran tetangga!
Your email address will not be published. Required fields are marked *