
Pernah tidak kamu memasang ekspektasi setinggi langit waktu diundang acara tasyakuran tetangga? Di bayanganmu, menunya minimal kambing guling atau sate maranggi. Eh, begitu sampai sana, ternyata menunya nasi kotak isi mi goreng kering sama kerupuk kaleng yang sudah agak mlempem. Kecewa? Jelas. Makannya jadi sambil cemberut, pulangnya sambil menggerutu.
Nah, itu contoh kecil dari penderitaan hidup orang yang harapannya masih dikontrol 100% sama dunia.
Banyak orang mengira bahaya terbesar dari urusan dunia itu kalau kita tidak punya harta. Padahal kata para ulama hikmah, bahaya yang lebih nyata adalah ketika hati kita keterikatan berlebihan sama hasil-hasil duniawi.
Kita sering memperlakukan dunia ini kayak vending machine. Masukin koin berupa kerja keras, doa malam, atau kebaikan, lalu menuntut tombolnya mengeluarkan hasil yang persis kita mau:
“Saya sudah kerja banting tulang, masa karir kalah sama yang sukanya caper?”
“Saya sudah baik sama teman, kok dia malah membicarakan saya dari belakang?”
“Saya sudah tirakat tiap malam, kok bisnis masih megap-megap?”
Begitu mesin dunianya macet dan hadiahnya tidak keluar, langsung stres berat. Batinnya terguncang, rasanya mau pensiun jadi orang baik. Padahal, yang bikin sakit hati itu bukan dunianya, tapi kegeer-an kita sendiri yang menggantungkan kebahagiaan pada hal yang sifatnya berubah-ubah.
Di sinilah pentingnya ilmu yang melahirkan khasy-yah—rasa takut kepada Allah yang dibungkus rasa takjub, hormat, dan kesadaran betapa kerdilnya skenario kita dibanding Skenario Agung-Nya.
Orang yang batinnya sudah bersih dan matang tidak bakal gampang mengutuk keadaan. Kenapa? Karena dia paham betul rumus sederhananya: dunia itu tempat beramal, bukan tempat menagih balasan sempurna. Kalau dapat balasan manis di dunia, ya alhamdulillah buat bonus beli es dawet. Kalau tidak dapat? Ya tidak apa-apa, tagihannya disimpan buat di akhirat, hasilnya jauh lebih besar!
Ketika khasy-yah sudah bersemayam di dada, kamu bakal sadar kalau menyandarkan harapan ke makhluk atau hasil duniawi itu ibarat menyandarkan badan ke kursi plastik yang kakinya sudah patah satu—kelihatan kokoh, tapi begitu diduduki langsung bikin telentang di lantai.
Gimana caranya tahu kalau batin seseorang sudah masuk kategori matang dan tidak lagi dikontrol dunia?
Tetap ikhtiar maksimal, tapi santai sama hasil: Dia kerja keras kayak orang yang mau hidup seribu tahun lagi, tapi pasrahnya kayak orang yang mau mati besok subuh. Skenario A jalan? Syukur. Skenario A berantakan dan ganti Skenario Z? Tetap tidur nyenyak.
Gak gampang baper sama dinamika manusia: Waktu ada kawan mendekat dan memuji, dia tidak merasa jadi superhero. Waktu kawan itu menjauh dan mengabaikan, dia juga tidak merasa jadi sampah. Sebab dia tahu, hati manusia itu dibolak-balik—pagi jadi fans, sore bisa jadi haters.
Dunia cuma sebatas di kantong baju: Punya harta atau posisi bagus? Dipakai buat jalan kebaikan. Begitu hilang? Ya diikhlaskan tanpa harus kena serangan jantung. Dunianya ditaruh di tangan, hatinya tetap lenggang.
Kiai-kiai sepuh kita di pesantren itu penampilannya sering kali sangat sederhana. Pakai sarung melintir, peci hitam agak kusam, sambil selonjoran di serambi masjid. Tapi anehnya, wajah mereka ademnya luar biasa. Tidak ada raut cemas menanggung beban dunia.
Rahasianya cuma satu: mereka sudah melepaskan kontrol harapan dari tangan dunia dan menyerahkannya bulat-bulat ke Pegangan yang Maha Kokoh.
Jadi, buat kamu yang hari ini lagi pusing gara-gara ekspektasi duniamu banyak yang meleset, coba kendorkan sedikit urat lehermu. Seduh kopi hitam, taruh cangkirnya, lalu katakan pada hatimu: “Tugas saya cuma melangkah dan tersenyum, sisanya terserah Allah.” Kalau batin sudah matang begini, mau dunia lagi ramah atau lagi jutek, hidupmu bakal tetap adem ayem.
Your email address will not be published. Required fields are marked *