
Kepada Yth, Kepala Suku Kaum Overthinker, Pemegang Saham Mayoritas PT. Cemas Sejahtera Tbk.
Di Tempat (alias di kasur, jam 2 pagi, sambil melototi plafon).
Halo, Bestie.
Apa kabar otakmu? Masih nge-lembur? Masih sibuk memutar ulang kejadian memalukan waktu kamu salah lambaikan tangan ke orang asing di tahun 2017? Atau lagi sibuk bikin skenario fiktif di mana kamu dipecat, diputusin pacar, lalu diculik alien di hari yang sama?
Surat ini ditulis khusus buat kamu. Iya, kamu.
Kamu yang kalau nge-chat, terus nggak dibalas 10 menit, langsung mikir: "Apakah aku salah ngomong? Apakah dia benci aku? Apakah aku bau ketek secara online?"
Tenang, Tarik napas dulu.
Mari kita duduk sebentar sambil minum teh (atau kopi, kalau kamu mau jantungmu makin dangdut). Kita perlu bicara soal hobi anehmu itu: Mencoba Mengendalikan Alam Semesta.
Sadar nggak, capeknya kamu itu bukan karena kerjaan, tapi karena kamu mencoba menjadi "Tuhan Kecil".
Kamu mau cuaca cerah terus. Kamu mau semua orang suka sama kamu. Kamu mau jalanan Jakarta lancar jaya. Kamu mau masa depan terjamin 100% tanpa risiko.
Sayangnya, hidup ini bukan game The Sims yang bisa kamu atur seenak jidat pakai kode cheat.
Ada hal-hal yang namanya "Wilayah Tuhan/Semesta".
Omongan tetangga? Itu wilayah mereka.
Perasaan gebetan? Itu wilayah mereka.
Harga cabe naik? Itu wilayah pasar.
Kalau kamu terus-terusan mikirin "Kenapa dia jahat sama gue?", itu sama kayak kamu teriak-teriak nyuruh hujan berhenti. Hujannya nggak peduli, kamunya yang masuk angin.
Lepaskan, Bestie. Lepaskan. Biarkan orang lain dengan kegilaannya. Biarkan dunia berputar. Kamu cukup urus satu hal aja: Responmu. Kalau hujan, ya pakai payung. Kalau orang jahat, ya blokir nomornya. Simpel, kan? Jangan dibikin ribet kayak aljabar.
Overthinking itu sebenarnya adalah bentuk imajinasi yang kebablasan. Kamu sibuk banget mikirin "Gimana nanti kalau...".
"Gimana kalau nanti aku gagal nikah?" "Gimana kalau nanti Indonesia diserang zombie?"
Padahal, "nanti" itu belum terjadi. Kamu lagi nyiksa diri sendiri pakai masalah yang belum tentu ada. Itu kayak kamu nangis kejer sekarang karena takut 50 tahun lagi kehabisan gigi palsu. Kejauhan, Bambang!
Daripada pusing mikirin hal abstrak di awang-awang, coba lihat ke depan matamu sekarang.
Ada apa?
Ada semangkuk mie instan yang wanginya minta dinikahi? Makan.
Ada kucing yang lagi tidur dengan pose tidak senonoh? elus.
Ada kasur yang empuk? Tidurin.
Ada HP dengan kuota yang masih ada? Syukuri.
Kewarasan itu letaknya di SINI dan SAAT INI. Bukan di masa lalu yang sudah jadi debu, bukan di masa depan yang masih ghaib.
Kebahagiaan itu seringkali receh, lho. Cuma kita aja yang gengsi. Kita pikir bahagia itu harus sukses besar, padahal bahagia itu bisa sesederhana nyeruput kuah bakso pas hujan deras tanpa mikirin besok kerja apa.
Jadi, wahai sobat Overthinker, malam ini saya kasih misi rahasia:
Shutdown Otak. Bilang sama otakmu: "Woy, shift kerjamu udah habis. Bubar jalan."
Mode Bodo Amat. Aktifkan mode ini untuk semua hal yang nggak bisa kamu kontrol.
Nikmati Detik Ini. Rasakan napasmu, rasakan pantatmu nempel di kursi. Nyata, kan? Itu yang penting.
Sudah ya. Jangan begadang mikirin surat ini. Tidur sana. Besok masih ada hari yang harus kita hadapi dengan santuy dan sedikit slay.
Salam Waras,
Temanmu yang Juga Sering Kepikiran Cicilan.
Your email address will not be published. Required fields are marked *