
Iya, kamu. Wanita yang sekarang lagi baca tulisan ini mungkin sambil nyuri-nyuri waktu di kamar mandi, atau sambil nungguin mesin cuci muter, atau mungkin sambil nyuapin anak yang makan satu suap tapi lari keliling kompleks tiga putaran.
Coba deh, taruh dulu HP-nya sebentar (eh, jangan ditaruh ding, nanti nggak bisa baca tulisan ini). Maksudnya, tarik napas dulu.
Hari ini aku mau nulis surat cinta. Bukan buat Pak Suami yang kalau naruh handuk basah di kasur suka bikin tensi naik, bukan juga buat anak-anak yang tingkahnya ajaib. Surat ini buat KAMU. Diri sendiri.
Terima kasih ya, Diriku...
1. Terima Kasih Sudah Menjadi "Google Berjalan" di Rumah
Hebat lho kamu itu. Kamu tahu letak gunting kuku yang sudah hilang tiga bulan, kamu tahu di mana suami naruh STNK (padahal dia yang naruh, dia yang lupa, dia yang nanya ngegas), dan kamu tahu persis bedanya tangisan anak minta susu sama tangisan "cuma mau ngetes kesabaran ibunya".
Terima kasih sudah menahan diri untuk tidak berubah jadi Naga Indosiar saat ada yang teriak, "Bun, kaus kakiku di manaaaa?!" padahal barangnya ada tepat di depan hidung mereka. Sabarmu itu lho, setipis tisu tapi sekuat baja.
2. Terima Kasih untuk Punggung dan Kaki yang Strong
Maaf ya kalau akhir-akhir ini aku sering kasih kamu koyo cabe atau minyak angin sebagai parfum signature kita.
Terima kasih sudah kuat gendong anak yang bobotnya makin hari makin saingan sama karung beras, sambil tangan kiri ngaduk sayur sop biar nggak gosong. Kamu itu multitasking-nya ngalahin prosesor komputer canggih. Bisa masak, bales chat grup sekolah, sambil misahin kakak-adik yang lagi rebutan mainan, semua dalam waktu bersamaan. Keren!
3. Terima Kasih Sudah Memaafkan Diri Sendiri Saat "Khilaf"
Ingat nggak kemarin pas janji mau diet, tapi malamnya malah masak mie instan pakai telur plus cabe rawit karena anak-anak udah tidur dan hawanya dingin? Nggak apa-apa. Itu namanya self-reward jalur logistik.
Terima kasih sudah tidak terlalu keras sama diri sendiri saat rumah berantakan kayak kapal pecah. Kita kan bukan robot vacuum cleaner. Mainan yang berserakan di lantai itu anggap saja instalasi seni kontemporer. Estetik, kan? (Iya-in aja biar seneng).
4. Terima Kasih Sudah Tetap Waras Walau "Me-Time" Cuma 5 Menit
Terima kasih sudah bisa me-recharge energi cuma dengan scroll marketplaceāmasukin barang ke keranjang tapi nggak di-checkout (karena sayang ongkir). Itu hiburan murah meriah yang menjaga kewarasan kita.
Terima kasih sudah tetap tersenyum di acara keluarga saat ditanya "Kapan nambah anak?" padahal dalam hati pengen jawab "Situ mau bayarin popoknya?". Kamu diplomat ulung, sungguh.
Penutup: Peluk Jauh untuk Kita Semua
Jadi, wahai Diriku yang kadang masih pakai daster bolong dikit karena "ademnya beda", kamu sudah melakukan yang terbaik. Serius.
Nggak perlu jadi Ibu Peri yang sempurna. Cukup jadi kamu yang hari ini berhasil bikin semua orang di rumah kenyang, mandi (walau kadang telat), dan tidur nyenyak.
Malam ini, tidurlah dengan bangga. Kalau besok pagi bangun kesiangan dan sarapan cuma roti tawar, ya sudah. Dunia nggak akan kiamat.
Love you, Emak-emak Pejuang Kehidupan. Jangan lupa minum air putih, dan sesekali beli kopi kekinian yang mahal itu. Kamu pantas mendapatkannya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *