
Pernah tidak kamu merasa sudah mengerahkan 100% kekuatan bumi dan langit, tapi hasilnya malah mendekati minus? Ibarat kata, ikhtiar sudah setingkat wali, tirakat sudah mirip santri kalong, tapi nasib tetap saja terasa seperti remah-remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan: tidak estetis dan bikin elus dada.
Coba tengok contoh nyata di sekitar kita. Sebut saja Kang Masrukin (nama samaran, tapi garis wajahnya memang pasrah). Dia naksir cewek idaman sejak zaman kuliah. Segala jurus dikeluarkannya: ikhtiar bumi pakai kirim martabak tiap malam Jumat, ikhtiar langit lewat Tahajud rutin plus wirid ribuan kali sampai lidahnya keriting. Hasilnya? Si cewek malah nikah sama cowok yang jarang sholat Dhuha, muka mirip stang Revo lama, tapi bapaknya punya toko grosir sembako terbesar se-kabupaten. Nyesek? Pasti. Serasa doa-doanya salah ketik alamat tujuan di langit.
Atau cerita Mas Budi yang nekat buka kafe kekinian. Modal tabungan dikuras habis, interior bergaya aesthetic, kopi diimpor langsung dari lereng gunung, sampai endorse influencer lokal. Harapannya omzet meledak bak petasan tahun baru. Realitanya? Yang datang setiap hari cuma teman-temannya sendiri yang numpang Wi-Fi dari jam delapan pagi sampai Isya, pesan es teh manis satu gelas, lalu minta diskon 100% dengan alasan "kan kita sedulur". Usahanya sekelas CEO, hasilnya selevel bendahara panitia Agustusan.
Nah, di titik inilah kita harus paham seni berdamai dengan realita ala guyon pesantren. Menerima kenyataan kalau hasilnya zonk itu memang pahit, tapi jauh lebih pahit kalau kita terus-terusan ngeles dari takdir. Gusti Allah itu kadang selera humor-Nya luar biasa. Kita minta jalan tol yang lurus dan mulus, malah dikasih jalan berlubang biar kita belajar cara nambal ban.
Lagipula, Malaikat itu mencatat mujahadah (perjuangan) kita, bukan angka di rekening atau status hubungan di media sosial. Kalau usahamu sudah maksimal tapi hasilnya masih amburadul, ya sudah, anggap saja kamu sedang menabung poin pahala sabar yang kelak bisa ditukar kulkas dua pintu di surga. Realitanya memang hasil sudah keluar, dan bentuknya tidak sesuai pesanan. Mau ngamuk sama takdir juga rugi energi, mending bikin kopi hitam, disruput perlahan, lalu ketawa.
Jadi, kalau hari ini usahamu belum membuahkan apa-apa, santai saja. Tarik napas dalam-dalam, senyum tipis, lalu bisikkan dalam hati: "Gusti, ini plot twist-nya agak kebangetan, tapi ya sudah, kulo nderek." Karena pada akhirnya, orang paling bahagia bukanlah orang yang selalu dapat apa yang diidamkan, melainkan orang yang pandai mengetawakan nasibnya sendiri sambil terus melangkah maju.
Your email address will not be published. Required fields are marked *