
Pernah tidak kamu merasa hidup ini mirip mesin penjual otomatis (vending machine)? Kita berpikir kalau sudah memasukkan koin berupa keringat, air mata, dan doa yang panjangnya melebihi silsilah keluarga, maka akan keluar minuman segar bernama “kesuksesan”. Padahal realitanya, dunia ini lebih mirip toko kelontong Madura: penjualnya bebas mau buka jam berapa saja, stoknya misterius, dan barang yang keluar kadang beda jauh sama yang kita minta.
Lihat saja kelakuan Kang Samuji. Demi tampil prima di acara jalan sehat selapanan warga desa, dia nekat diet ketat dan olahraga subuh. Segala baju olahraga bermerek dibeli pakai dana darurat. Tiap pagi dia lari keliling desa sambil napasnya ngos-ngosan mirip mesin pemotong rumput tua, bahkan sempat dua kali dikejar anjing galak milik Pak RT. Usahanya sudah sekelas atlet olimpiade.
Pas tiga bulan kemudian menimbang badan, bukannya turun, berat badannya malah melonjak naik lima kilo! Usut punya usut, tiap selesai lari subuh, Kang Samuji selalu merasa “berhak” untuk mampir ke warung Bu Gito: makan bubur ayam dua mangkok lengkap pakai ati ampela, kerupuk tiga bungkus, plus teh hangat manis dengan gula tiga sendok. Usaha larinya membakar 200 kalori, asupan masuknya 2.000 kalori. Usaha sekelas tentara, pola makannya sekelas panitia hajatan!
Ada lagi cerita Mbak Zulfa yang nekat banting setir jadi content creator dan jualan baju online. Dia bela-belain beli lampu sorot sebesar roda delman, bikin konten joget-joget di TikTok sampai pinggangnya terancam encok, dan mengedit video dari malam sampai matanya merah mirip mata lele. Harapannya? Jualan viral dan panen uang transferan.
Hasilnya? Penonton videonya cuma lima orang: satu dari dirinya sendiri, satu dari ibunya yang salah pencet, sisanya akun bot penawaran pinjaman online. Pas akhirnya ada yang beli satu stel baju, Mbak Zulfa malah rugi di ongkos kirim gara-gara salah menimbang paket—yang harusnya seberat semangkuk mi ayam malah dihitung seberat tabung gas tiga kilo.
Nah, di saat-saat kecele seperti inilah, mentalitas santai ala warga nahdliyin harus dikeluarkan dari sarungnya. Kekecewaan itu sebenarnya cuma tanda kalau kita ini sedang sok tahu dengan urusan langit. Kita sering bertindak seolah-olah kita ini Direktur Utama Alam Semesta, padahal status kita cuma buruh harian lepas yang seragamnya saja masih menyewa.
Kalau usahamu yang sudah all out itu ternyata cuma dibalas hasil yang zonk, coba pakai dua jurus penawar pening ini:
Ubah Konsep Vending Machine Jadi Tabungan Gaib: Jangan mengira usahamu hilang begitu saja. Gusti Allah itu tidak pernah makan hak orang. Kalau usahamu tidak cair jadi uang atau kejayaan hari ini, bisa jadi disimpankan dalam bentuk hal lain: rantai motormu tidak putus di tengah hutan, atau kamu terhindar dari kejatuhan durian pas sedang jalan kaki.
Gunakan Jurus Nggeguyu Nasib (Mengetawakan Nasib): Sebelum tetangga atau teman nongkrongmu mengetawakan kegagalanmu, ketawailah dirimu sendiri duluan! Kalau kamu sudah mengetawakan diri sendiri sambil makan mendoan hangat, orang lain bakal bingung mau mengejek apa. Senjata ejekan mereka langsung tumpul seketika.
Jadi, kalau hari ini usahamu kalah telak sama nasib, tidak usah banting pintu—nanti engselnya rusak dan malah menambah pengeluaran. Cukup elus dada, bikin kopi hitam panas, lalu bilang: “Yaa Gusti, ini skenario komedinya lucu banget, tapi besok jangan kebangetan lagi ya!”
Selama warung kopi masih buka dan gorengan hangat masih ada, keringatmu yang terbuang sia-sia hari ini cuma bakal jadi bahan cerita kocak saat nongkrong di pos ronda besok malam!
Your email address will not be published. Required fields are marked *