
Hayo, Bu... ngaku deh. Skenario ini pasti sering terjadi di kamar tidur jam 9 malam ke atas:
Anak-anak sudah tidur, suasana hening, lampu sudah remang-remang. Momen yang pas banget buat deep talk alias sesi curhat colongan. Mulailah Ibu bercerita, dari harga cabai yang makin pedas sampai kelakuan tetangga yang parkir sembarangan.
Lima menit pertama: Suami mengangguk. "Hmm.. iya ya, Ma." Menit ketujuh: Hening. Menit kedelapan: "KROOOK... KROOOK..."
Jreng jreng! Emosi jiwa pun membara. "Aku ngomong panjang lebar, dia malah konser dengkuran naga!"
Eits, tunggu dulu, Bu. Tahan dulu bantal yang mau dilempar itu. Jangan buru-buru menuduh Pak Suami bosan atau tidak peduli. Ada sebuah "fakta ilmiah" (baca: pembelaan cerdas) yang harus Ibu tahu.
Ternyata, alasan kenapa Bapak-bapak sering pelor (nempel molor) saat dicurhati istri bukan karena topiknya nggak seru. Justru sebaliknya.
Bagi seorang suami, suara istri yang sedang mengoceh—eh, bercerita—itu memiliki frekuensi gelombang alpha yang menenangkan. Itu bukan sekadar curhatan, itu adalah terapi ketenangan. Suara Ibu bagaikan nyanyian lullaby yang memberi sinyal ke otak Bapak: "Semua aman, negara terkendali, saatnya istirahat."
Jadi, kalau dia tidur, itu artinya dia merasa sangat nyaman di dekat Ibu. (Alasan yang bagus kan, Pak?)
Nah, buat Bapak-bapak yang sering ketahuan tidur pas lagi diajak deep talk, jangan panik pas dibangunin istri yang sudah berkacak pinggang. Pakai teknik ini.
Saat Ibu bilang: "Kamu kok tidur sih?! Aku lagi cerita juga!"
Bapak jawab dengan muka setengah sadar (tapi ganteng):
"Maaf ya, Sayang. Bukan aku nggak mau dengerin. Tapi suaramu itu lho... adem banget. Saking tenangnya hati aku denger suaramu, mataku jadi nggak kuat melek. Rasanya damai banget kayak di pantai."
Hasilnya? Ibu-ibu yang tadinya sudah siap berubah jadi Reog, mendadak meleleh. Hatinya berbunga-bunga. Marah nggak jadi, malah diselimutin.
Logika Istri: "Ih, sebel banget ditinggal tidur."
Logika Istri setelah digombalin: "Oh, ternyata suaraku menenangkan ya? Yaudah deh, kasihan dia capek."
Mari kita bedah sedikit dari sisi Bapak-bapak kaum pelor. Kenapa sih susah banget diajak ngobrol serius pas sudah nempel kasur?
Baterai Tinggal 1%: Seharian kerja, macet di jalan, mikirin cicilan. Pas ketemu kasur, otak Bapak otomatis masuk mode Shutdown atau minimal Restart.
Posisi Wuenak: Posisi rebahan sambil dengerin istri itu adalah kenikmatan duniawi. Saking nikmatnya, batas antara sadar dan pingsan jadi tipis banget.
Otak Laki-laki itu Single Core: Kalau sudah fokus "istirahat", susah disuruh multitasking "analisis curhatan".
Jadi, Bu, kalau besok Pak Suami ketiduran lagi pas Ibu lagi seru-serunya cerita soal arisan, anggap saja itu pujian. Itu tandanya Ibu adalah tempat ternyaman dia untuk pulang dan... pingsan.
Dan buat Bapak, tolong ya gombalannya dihapal. Itu kunci keselamatan rumah tangga agar panci di dapur tetap pada tempatnya, bukan melayang ke kasur.
Selamat beristirahat (atau pura-pura mendengarkan)!
Your email address will not be published. Required fields are marked *