
Pernah nggak sih kamu melihat Insta Story teman kamu yang isinya video pendek 15 detik: secangkir kopi latte dengan latte art bentuk angsa yang masih utuh, di sebelah buku tebal berbahasa Inggris (yang judulnya susah dieja), dengan latar belakang jendela berembun dan lagu indie folk yang sendu?
Kamu nonton itu sambil rebahan pakai kaos partai yang udah bolong dikit di ketiak, belum mandi, dan mikir: "Gila, hidup dia estetik banget. Hidup gue kok kayak remah-remah rempeyek begini ya?"
Tunggu dulu, Bestie. Tarik napas.
Mari kita bongkar apa yang terjadi di balik layar 15 detik nan paripurna itu. Karena kemungkinan besar, teman kamu itu juga sama kayak kita: capek jadi sutradara kehidupan sendiri.
Di Balik Layar: The "Real" Story
Kalau fitur "Story" Instagram bisa jujur 100% tanpa filter, mungkin konten kopi estetik tadi bakal punya caption begini:
"Foto ini diambil setelah 17 kali jepret. Kopinya udah dingin karena kelamaan nyari angle. Buku tebal itu cuma properti, aslinya gue lagi baca komik detektif Conan. Dan demi foto ini, gue harus nyingkirin tumpukan baju kotor ke kolong meja biar nggak masuk frame."
Kita semua pernah jadi tersangka. Ngaku deh.
Kita pergi "healing" ke pantai bukan buat menikmati suara ombak, tapi sibuk teriak ke temen, "Eh, tolong videoin gue jalan dari belakang ya! Pura-puranya gue nggak sadar kamera. Ulang, ulang! Rambut gue tadi kekibas anginnya jelek!"
Alih-alih healing, kita malah working. Kerja rodi demi konten. Pas pulang bukannya segar, malah pegal linu karena kebanyakan pose menahan napas biar perut kelihatan rata.
Jebakan Batman Bernama "Viewers"
Masalah utamanya bukan di postingannya, tapi di apa yang terjadi setelah tombol "Post" ditekan.
Ini fase paling kocak sekaligus paling menyedihkan. Kita berubah jadi Satpam Algoritma.
Setiap 5 menit sekali buka HP. Bukan ada pesan darurat, tapi cuma mau ngecek:
Siapa yang udah lihat?
Si Gebetan udah lihat belum?
Si Mantan nyasar ke sini nggak?
Kok yang like baru 3 orang? Padahal gue udah nahan napas 45 detik buat foto ini!
Kita menggantungkan harga diri kita pada lingkaran warna-warni di sekitar foto profil. Kalau lingkarannya banyak yang nge-klik, rasanya kita adalah manusia paling valid di muka bumi. Kalau sepi? Rasanya satu dunia lagi musuhin kita. Padahal mah teman-teman kita lagi sibuk kerja atau lagi doomscrolling video kucing joget.
Kenapa Kita Capek Sendiri?
Kita capek karena kita mencoba menyutradarai film dokumenter tentang hidup kita sendiri, live, setiap hari, tanpa bayaran.
Bayangkan betapa melelahkannya harus selalu terlihat "Bahagia", "Sibuk", "Produktif", atau "Estetik".
Lagi sedih? Nggak boleh post muka bengkak nangis, harus post kutipan bijak berlatar hitam biar misterius.
Lagi makan mie instan di mangkok ayam jago? Malu post, nunggu makan pasta dulu baru update.
Kita menolak menjadi manusia biasa. Kita ingin jadi brand. Padahal, jadi manusia biasa itu enak banget, lho.
Undangan untuk Menjadi "Biasa Aja"
Tulisan ini bukan ajakan buat hapus Instagram (tenang, saya juga belum sanggup). Ini cuma ajakan buat menurunkan standar.
Nggak semua momen harus direkam.
Nggak semua makanan harus difoto (keburu dingin, woy!).
Nggak semua kebaikan kita harus ada saksinya.
Coba deh sekali-kali pergi ke suatu tempat, HP-nya taruh di tas paling dalam. Lihat pemandangan pakai mata, bukan pakai layar 6 inci. Rasakan anginnya, dengar suaranya, simpan memorinya di kepala, bukan di cloud storage.
Validasi dari orang lain itu kayak makan kerupuk. Enak, renyah, berisik, tapi nggak bikin kenyang. Yang bikin kenyang itu validasi dari diri sendiri: perasaan tenang bahwa hari ini gue hidup, gue sehat, dan mie instan gue rasanya enak banget walaupun nggak estetik.
Jadi, habis baca ini, boleh banget kalau mau share ke Story (tetep ya, usaha). Tapi habis itu, letakkan HP-mu. Minum air putih. Nikmati jadi manusia biasa yang napasnya lega tanpa harus ditahan demi pose.
Karena Story hidup beneran kamu jauh lebih berharga daripada yang muat di layar HP siapa pun.
Your email address will not be published. Required fields are marked *