
Pernah gak sih, baru bangun tidur, mata masih sepet sebelah, terus iseng buka medsos... bum! Temen angkatan kamu tiba-tiba posting foto lagi nyeruput kopi Rp80.000 di balkon hotel bintang lima sambil santai meletakkan tangan di setir mobil berlogo kuda jingkrak.
Seketika kamu yang lagi meluk guling sambil megang gelas kopi sasetan Rp1.500 langsung tersedak dan batinmu menjerit: “Apakah dunia ini cuma simulasi, dan gue cuma figuran yang lupa di-upgrade?”
Tenang, kamu gak sendirian. Di era gempuran konten pamer harta, pencapaian, sampai pamer saldo e-wallet, kita memang gampang banget kena serangan jantung mendadak gara-gara silau sama kehidupan orang lain. Tapi tenang, leluhur kita ternyata udah punya penawar racunnya dari ratusan tahun lalu: prinsip “Ojo Gumunan”.
Secara harfiah, “Ojo Gumunan” itu artinya jangan gampang heran atau jangan gampang terkesima.
Kalau diterjemahkan ke bahasa anak gaul zaman now, artinya kira-kira begini: “Biasa aja, keles. Gak usah lebay!”
Prinsip ini adalah rem darurat buat otak kita. Begitu liat hal yang berkilau di medsos, rem ini otomatis bekerja biar kita gak langsung sujud syukur atau merasa jadi manusia paling merana se-Alam Semesta.
Medsos itu ibarat toko kue. Yang dipajang di etalase depan cuma kue yang paling cantik, pake sprinkles, dan disinari lampu estetik. Dapur belakangnya yang berantakan, loyang gosong, dan tepung berantakan di lantai? Ya gak bakal difoto!
Flexing liburan tiap minggu: Kamu gak tahu dia lagi dikejar-kejar telemarketing kartu kredit.
Flexing kerja santai di pantai: Kamu gak tahu dia lagi nangis sesenggukan di balik kacamata hitam karena sinyal WiFi-nya naik turun.
Flexing beli barang mewah: Bisa jadi itu barang sewaan cuma buat formalitas bikin 30 konten reels sehari.
Biar mentalmu tetap aman dan dompetmu gak keikut-ikutan boncos demi validasi digital, coba terapkan langkah-langkah kocak tapi manjur ini:
Tiap kali ada selebgram atau temenmu yang pamer helikopter pribadi, ubah respons batiniyah kamu.
Reaksi silau (salah): “Wah gila, kaya banget! Kapan ya gue bisa gitu? Idup gue gini-gini aja!"
Reaksi Ojo Gumunan (benar): “Oh... helikopter. Bagus deh, moga gak lupa diisi bensin eceran.”
Semakin keras suara flexing-nya, biasanya semakin butuh dia sama pengakuan orang lain. Orang yang beneran sultan mah biasanya santai. Pakai daster celup, sandalan jepit swallow warna hijau sebelah kanan biru sebelah kiri, terus santai makan tahu gejrot di pinggir jalan tanpa perlu kedip ke kamera.
Kopi Rp80.000 dan kopi sasetan Rp1.500 itu kalau udah masuk tenggorokan sama-sama bikin melek. Bedanya, yang Rp80.000 bikin dompetmu ikut meredup. Bangga lah dengan kopi sasetmu, dialah pahlawan nyata yang menopang jam kerja serumit ini.
Catatan Penting:
Hidup tenang itu bukan tentang seberapa estetik feed Instagram kamu, tapi seberapa nyenyak tidurmu malam ini tanpa kepikiran tagihan yang kamu paksakan demi kelihatan keren di mata orang yang bahkan gak kenal sama kamu.
Jadi, pas buka medsos nanti dan nemu konten yang bikin matamu silau, tarik napas dalam-dalam, senyum tipis, dan bisikkan dalam hati: “Ojo gumunan... biasa aja!”
Your email address will not be published. Required fields are marked *