
Pernah nggak sih, Mak, Pak, ngerasa bingung karena standar benar-salah zaman sekarang itu kayak wahana roller coaster? Hari ini dianggap aneh, besok dianggap keren. Hari ini dihujat, besok malah jadi tren.
Kalau kita nggak punya standar yang paten, kita bakal jadi manusia "Gimana Nanti" atau "Gimana Kata Orang". Nah, Al-Qur’an datang bawa Timbangan Digital yang super akurat, bukan timbangan tukang sayur yang kadang diganjal batu.
1. Menu Wajib: Benar, Baik, dan Adil
Al-Qur’an itu tegas banget ngasih pasangan nilai. Nggak ada istilah "Abu-abu" kalau soal prinsip:
Benar vs Salah: Bukan "Benar menurut saya" atau "Salah menurut grup WhatsApp", tapi benar menurut aturan Pencipta.
Baik vs Buruk: Sesuatu yang benar belum tentu disampaikan dengan cara yang baik, makanya Al-Qur'an nyuruh ambil paket komplit: Caranya benar, niatnya baik.
Adil vs Zalim: Ini puncaknya. Adil itu bukan bagi rata, tapi naruh sesuatu pada tempatnya (Jangan sampai naruh seledri di mesin cuci, ya Pak!).
2. Penyakit "Semua Orang Juga Begitu"
Pernah denger kalimat ini? "Ah, nggak apa-apa telat dikit, semua orang juga telat kok." Atau, "Nggak apa-apa ambil untung nggak wajar, yang lain juga gitu."
Nah, di sini "Pedoman Nilai" Al-Qur’an bertindak sebagai Benteng. Al-Qur'an ngajarin kalau nilai itu nggak ditentukan oleh suara terbanyak (voting), tapi oleh kebenaran hakiki. Kalau salah, ya tetap salah, meskipun yang ngelakuin satu kecamatan. Kalau benar, ya tetap benar, meskipun kita sendirian yang berjuang.
Contoh Paling Relate: Drama Flexing di Media Sosial
Mari kita bedah fenomena pamer kekayaan atau flexing.
Secara Selera Sosial: Dianggap sukses, keren, goals banget, dan pancingan like yang banyak. Kita jadi pengen ikut-ikutan pamer biar dibilang "Ada".
Secara Standar Qur’ani: Timbangannya langsung berubah. Pertanyaannya bukan lagi "Berapa banyak like-nya?", tapi:
Ini melatih rasa syukur atau malah sombong?
Ini bikin orang lain terinspirasi atau malah bikin orang lain iri dan merasa miskin?
Ini beneran butuh atau cuma pengen pengakuan (riya')?
Pedoman nilai inilah yang bikin kita punya "Rem Tangan". Pas mau posting foto yang niatnya pamer, tiba-tiba ada suara di hati: "Eh, ini buat apa ya? Emang perlu banget?" Akhirnya? Kita jadi lebih tenang, nggak gampang capek ngejar validasi manusia yang nggak ada habisnya.
Kesimpulan: Jadi Manusia yang Punya "Pegangan"
Jadi, Mak, Pak... punya pedoman nilai itu asyik. Kita nggak bakal gampang goyang pas ada tren baru yang aneh. Kita punya "GPS Nilai" yang selalu bilang: "Lanjutkan di jalur Benar" atau "Rute ini mengandung Kezaliman, silakan putar balik."
Gimana? Pernah ngerasa terjebak di situasi "Semua Orang Juga Begitu" padahal hati kecil bilang "Itu Salah"? Ceritain dong gimana cara kalian "ngerem"-nya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *