
Selama ini kita semua ditipu oleh visualisasi di media sosial. Kalau ada konten tentang "menemukan kedamaian batin" atau "pencerahan hidup," videonya pasti estetis banget. Minimal latar belakangnya sawah Ubud, musiknya instrumental suling bambu, dan orangnya lagi narik napas dalam-dalam pakai baju linen putih. Kelihatannya adem, indah, mirip pelangi setelah hujan.
Tapi mari kita jujur di sini. Realita dari proses menjadi bijaksana itu sama sekali nggak ada estetik-estetiknya. Pencerahan hidup itu lebih mirip momen ketika kamu lagi enak-enak tidur siang, lalu tiba-tiba gorden kamar dibuka paksa sama ibumu jam 12 siang. Silau, pusing, bikin emosi, dan kamu langsung sadar kalau kamumu berantakan banget.
Kalau kamu pikir jadi orang bijak itu bakal bikin hidupmu selalu tenang seperti air di dalam baskom, kamu salah besar. Ini dia beberapa "efek samping" pencerahan yang bikin kamu pengen kembali jadi orang bodoh yang bahagia saja:
Sebelum tercerahkan, hidup kita itu seru banget karena penuh dengan asupan drama. Teman kantor berantem gara-gara rebutan bekal di kulkas? Kita langsung pasang telinga. Ada influencer Twitter lagi baku hantam opini? Kita langsung beli popkorn dan mantengin kolom komentar sampai jam 3 pagi.
Sisi Gelapnya: Begitu kamu agak bijak sedikit saja, otakmu langsung otomatis melakukan scan dan memunculkan kesimpulan: "Ah, ini mah cuma masalah ego doang. Kurang komunikasi aja nih." Seketika itu juga, drama tersebut jadi nggak seru lagi. Kamu kehilangan sensasi "gregetan". Saat teman-temanmu lagi heboh nge-gosip di grup WhatsApp, kamu cuma bisa mengetik: "Ya sudah, doakan saja yang terbaik." Selamat! Kamu resmi jadi manusia paling membosankan di tongkrongan.
Orang yang belum mendapat pencerahan itu biasanya punya tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi (dan sering kali tanpa dasar). Kalau mereka gagal, yang disalahkan adalah Merkurius yang lagi retrograd, konspirasi elit global, atau angin yang berhembus terlalu kencang. Pokoknya mereka suci, dunia yang salah.
Sisi Gelapnya: Begitu kamu dapat pencerahan, tameng "menyalahkan orang lain" ini langsung hancur. Saat kamu telat janjian dan mau pakai alasan "macet banget nih," hati kecilmu langsung menampar: "Halah, macet apanya? Kamu tadi kan sengaja nonton reels dulu tiga puluh menit sebelum jalan!" Menjadi bijak memaksa kamu buat tahu diri. Dan tahu diri itu capek banget, karena kamu nggak punya kambing hitam lagi buat disalahin atas kebodohanmu sendiri.
Dulu, kita selalu memandang orang yang lebih tua, bos di kantor, atau tokoh publik sebagai manusia-manusia super yang sudah paham betul cara kerja alam semesta. Kita manut-manut saja karena menganggap mereka punya kunci rahasia kehidupan.
Sisi Gelapnya: Pas kamu makin dewasa dan bijaksana, kamu mulai bisa melihat menembus topeng mereka. Kamu sadar kalau si bos yang galaknya minta ampun itu sebenarnya cuma bapak-bapak yang lagi stres mikirin cicilan mobil, dan guru spiritualmu di internet itu ternyata juga masih sering ngamuk kalau paket belanjaan online-nya datang terlambat.
Pencerahan ini bikin kamu sadar kalau di dunia ini... nggak ada yang benar-benar tahu mereka lagi ngapain. Kita semua cuma anak kecil yang kebetulan badannya membesar dan terpaksa pakai kemeja kerja sambil pura-pura paham hidup.
Menjadi bijaksana itu emang ada harga mahalnya. Kamu bakal kehilangan kenikmatan-kenikmatan receh seperti menyalahkan takdir atau menikmati gosip selebriti secara membabi buta. Pencerahan itu nggak bikin hidupmu mendadak tanpa masalah, tapi cuma bikin kamu berhenti bikin masalah baru yang tidak perlu.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa hidupmu makin sunyi, makin malas ikutan debat di media sosial, dan makin sering memaklumi kelakuan aneh orang lain... jangan sedih. Kamu nggak lagi anti-sosial, kamu cuma lagi pinteran dikit.
Nikmati saja prosesnya, meskipun rasanya agak sepi dan nggak ada pelangi-pelanginya sama sekali. Tarik napas dalam-dalam... tapi nggak usah pakai baju linen putih juga, ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *