
Pernah gak sih kamu lagi kumpul keluarga, terus ada satu om-om yang tiba-tiba tahu segalanya? Bahas politik, tahu. Bahas cara benerin mesin jet, tahu. Sampai bahas konspirasi kenapa harga seblak makin mahal, dia juga punya teorinya.
Nah, dalam filsafat Jawa, tipe orang kayak gini lagi terjebak dalam sindrom "Rumongso Bisa" alias Merasa Bisa.
Di era modern yang serba flexing ini, penyakit "Rumongso Bisa" ini makin menjamur. Obatnya cuma satu: banting setir ke seni "Bisoha Rumangsa" alias Bisa Merasa (Tahu Diri).
Yuk, kita bahas kenapa berhenti merasa paling jago bisa bikin hidup kamu lebih tenang, gak dighibahin tetangga, dan yang paling penting: gak bikin malu-maluin amat!
Biar gampang dicerna sambil ngunyah gorengan, mari kita lihat perbandingannya saat kedua tipe ini menghadapi situasi sehari-hari:
Saat Buka Maps dan Nyasar
Si "Merasa Bisa": "Halah, lewat sini aja! Gak usah pakai GPS, instingku tajam!" (Ujung-ujungnya berakhir masuk jalur busway atau mentok di kuburan).
Si "Bisa Merasa": "Gais, aku buta map. Mending kamu yang megang HP daripada kita nyasar ke pelaminan mantan."
Saat Nongkrong di Kafe
Si "Merasa Bisa": Ngomongnya kencang-kencang, bahas saham dan investasi masa depan, padahal saldo ATM sisa Rp12.500.
Si "Bisa Merasa": Sadar diri dompet lagi tipis, makanya pesen es teh manis satu, tapi numpang WiFi-nya 4 jam penuh.
Saat Kerja Kelompok atau Kerja Tim
Si "Merasa Bisa": "Tenang, biar aku yang handle semuanya, kalian beres aja!" (Pas hari-H presentasi malah ketiduran dan HP-nya mati).
Si "Bisa Merasa": "Jujur aku gak paham coding, tapi aku bisa bagian doa dan beliin kalian kopi. Gimana?"
Orang yang hidupnya dipenuhin ego "Rumongso Bisa" itu capek banget, lho. Mereka punya beban moral buat terlihat pintar di segala situasi.
Ada yang nanya jalan? Harus bisa jawab (meskipun ngasal).
Ada tren baru di TikTok? Harus kelihatan paling paham (padahal cuma baca judul artikelnya di Twitter).
Ada temen curhat? Bukannya dengerin, malah adu nasib: "Halah, masalahmu mah gak seberapa, aku dulu ya..."
Capek, kan? Otot leher tegang karena harus mendongak terus biar kelihatan keren. Lagian, pura-pura tahu segalanya itu berisiko tinggi memicu malu tingkat internasional.
Sebaliknya, kalau kamu udah menguasai ilmu "Bisoha Rumangsa" (Bisa Merasa/Tahu Diri), hidupmu bakal se-adem ubin masjid di siang bolong. Kenapa?
1. Kamu Bebas dari Beban "Sok Tahu" Mengatakan "Wah, kalau itu aku kurang tahu, sih" itu membebaskan banget, guys! Kamu gak perlu mikir keras buat ngarang bebas. Biarkan orang lain yang ahli yang menjelaskan, kita tinggal manggut-manggut sambil bilang, "Oh gitu ya, baru tahu..." Aman, damai, sentosa.
2. Punya Empati dan Gak Egois "Bisa merasa" itu artinya tahu situasi. Kalau temen lagi sedih karena habis diputusin, ya kita ikut berempati. Gak usah malah pamer kalau pacar kita baru ngasih hadiah mewah. Itu namanya rumongso bisa (merasa bisa menghibur, padahal malah bikin makin ngenes).
3. Dompet dan Mental Lebih Sehat Orang yang tahu diri gak bakal maksain beli kopi seharga Rp60 ribu demi feeds Instagram kalau sadar besoknya cuma bisa makan mi instan dibagi dua. Menurutkan ego bikin kita menerima kenyataan kalau kita ini cuma remahan rengginang yang sedang berjuang, dan itu completely fine!
Jadi, mulai hari ini, mari kita kurangi dosis "Rumongso Bisa" kita. Gak usah gengsi buat mengakui kalau kita gak tahu, gak bisa, atau lagi bokek.
Ingat kata pepatah Jawa ini. Menjadi orang yang bisa merasakan (tahu diri, punya empati, sadar kapasitas) itu jauh lebih terhormat dan bikin hidup tenang, daripada jadi orang yang merasa bisa (sok tahu, egois, keras kepala) tapi aslinya zonk.
Lagian, kalau kamu terus-terusan "Merasa Bisa", takutnya nanti pas ada masalah, orang-orang cuma bakal bilang: "Sukurin, kan dia bisa segalanya!" Waduh, berabe kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *