
Di antara ribuan alasan di muka bumi untuk menunda pekerjaan, frasa "lagi nggak mood" adalah juaranya. Kata-kata ajaib ini terdengar sangat manusiawi dan seolah-olah kita sedang bijak mendengarkan kebutuhan jiwa, padahal aslinya cuma wujud malas yang memakai jubah kebenaran. Otak kita pinter banget membuat pembenaran seolah-olah mood itu seperti wahyu dari langit yang harus ditunggu kedatangannya sebelum kita berani menggerakkan tangan.
Fenomena "penyembahan mood" ini bergentayangan di mana-mana dan memangsa siapa saja tanpa pandang bulu di kehidupan sehari-hari:
Kaum Emak-Emak (Tragedi Baju Kotor & Drama 'Mood' Estetik): Pagi-pagi melihat tumpukan pakaian kering di atas kasur yang sudah menggunung bagai Candi Borobudur. Bukannya langsung dilipat dalam 15 menit, beliau malah selonjoran di sofa sambil menghela napas, "Duh, belum dapet mood-nya nih. Nanti deh nunggu suasana rumah agak tenang biar ngelipatnya berasa meditasi." Akhirnya beliau mencari mood sambil menyapu beranda, menonton video resep martabak teflon di Facebook, sampai ketiduran. Jam empat sore mood belum kunjung datang, tapi suami sudah pulang dan anak-anak butuh tempat tidur. Pakaian-pakaian itu bukannya dilipat rapi, tapi cuma dipindahkan secara masif ke atas meja rias. Mood-nya hilang, tumpukan bajunya makin abadi.
Kaum Bapak-Bapak (Misi Bersihin Akuarium & Kopi Hitam Dingin): Saban Minggu pagi berjanji mau menguras akuarium ikan mas hias yang airnya sudah hijau pekat mirip kuah gulai. Baru menyenggol selang air sedikit, beliau mendadak berhenti dan memegang kepala. "Kurang ngopi nih, mood berkarya belum kumpul," gumamnya penuh keprihatinan. Beliau lalu duduk di teras, menyalakan radio, dan meminum kopi hitam. Satu jam berlalu, kopi sudah dingin, rokok habis dua batang, tapi mood menguras air tetap tertahan di alam ghaib. Saat istri menagih janji, jawabannya santai, "Memelihara ikan itu butuh ketenangan jiwa, Bu. Air hijau gini justru bikin ikannya merasa kayak di alam liar."
Anak Remaja & Gen Z (Syarat 'Mood' yang Kelewat Spesifik): Mau belajar buat ujian atau mengerjakan tugas sekolah, tapi syarat datangnya mood melebihi syarat pendaftaran CPNS. Katanya, mood baru bisa muncul kalau meja belajar sudah bersih total, ada es kopi susu gula aren di sebelah kanan, playlist lagu akustik diputar di Spotify, dan suhu kamar berada di angka pas 20 derajat Celsius. Begitu satu syarat tidak terpenuhi—misalnya es batu di kopinya keburu cair—mereka langsung merasa mood-nya hancur berkeping-keping. Hasilnya? Buku tetap terbuka di halaman pertama sampai subuh, sementara matanya maraton menonton video study tour anak sekolah di Jepang.
Kaum Pekerja Muda (Ritual Menunggu Jam Cantik): Sudah duduk manis di depan laptop dengan dokumen yang masih kosong melompong. Bukannya mengetik kalimat pertama, mereka sibuk mencari "jam cantik" untuk memanggil mood. Kalau jam di laptop menunjukkan pukul 10.14, mereka bakal berbisik, "Tanggung ah, nanti aja ngetiknya jam 10.30 pas mood-nya pas." Pas jam 10.31 lewat satu menit, "Waduh kebablasan satu menit, nanti aja deh jam 11.00 sekalian." Siklus mistis ini berulang sampai jam makan siang tiba, dan tugas yang harusnya selesai dua jam malah dikerjakan panik setengah jam sebelum deadline sambil mual-mual.
Kenyataan pahitnya: mood itu bukan tamu kehormatan yang bakal datang kalau terus-terusan ditunggu. Mood itu justru baru datang setelah kita mulai bergerak dan memaksa diri, bukan sebelumnya. Kalau kita selalu menjadikan mood sebagai syarat utama untuk melangkah, kita tidak akan pernah menjadi versi terbaik dari diri kita. Kita cuma akan jadi tawanan dari suasana hati yang berubah-ubah tiap lima menit sekali.
Orang-orang yang berhasil menaklukkan potensi dirinya bukan orang yang mood-nya selalu bagus setiap hari. Mereka adalah orang yang tetap melangkah dan memaksakan diri bekerja, bahkan saat hati dan raganya berteriak "lagi males banget nih!". Rasa terpaksa di awal itu adalah bahan bakar utama untuk memicu datangnya konsentrasi dan semangat.
Jadi, stop memperlakukan mood seperti raja yang harus disembah. Begitu ada hal penting yang harus dikerjakan hari ini, langsung lakukan saja tanpa perlu bertanya pada perasaanmu apakah dia sedang bahagia atau galau. Memaksa diri bergerak di saat mood sedang nol besar memang rasanya menyiksa, tapi rasa lega setelah pekerjaan itu selesai jauh lebih nikmat daripada perasaan bersalah akibat menunda-nunda.
Your email address will not be published. Required fields are marked *