
Pernahkah kamu merasakan vibes di mana seluruh warga komplek mendadak punya satu tujuan yang sama, di jam yang sama, dengan semangat yang (biasanya) lebih membara daripada semangat kerja di hari Senin?
Ya, benar. Selamat datang di "Malam Pertama Tarawih".
Ini adalah momen Grand Premiere. Kalau ibarat film, ini adalah Avengers: Endgame-nya bulan Ramadan. Semua orang keluar rumah. Mulai dari Pak RT, abang tukang bakso, anak-anak kecil yang energinya setara nuklir, sampai tetangga yang biasanya cuma kelihatan kalau lagi ambil paket di pagar—semuanya berkumpul di satu titik: Masjid.
Fenomena "Saf Sampai Teras"
Malam ini, hukum fisika tentang kepadatan massa akan diuji. Masjid yang biasanya lega, tiba-tiba terasa sempit. Saf salat bisa meluber sampai ke parkiran, teras, bahkan kadang saking penuhnya, ada yang salat di sebelah rak mukena.
Di sinilah ujian kesabaran pertama dimulai. Bukan, bukan menahan lapar, tapi menahan diri saat sujud ternyata jidat kita mendarat di tumit bapak-bapak di depan kita. Atau saat lagi khusyuk mendengarkan kultum, kaki kesemutan karena duduk bersila terlalu lama di atas karpet yang ketebalannya "minimalis".
Tapi jujur saja, ada kehangatan yang aneh di situ. Desak-desakan ini bukan desak-desakan antre sembako atau macet di lampu merah. Ini desak-desakan yang penuh senyum. Orang rela geser sedikit, "Ayo Pak, masih muat, dikit lagi," padahal aslinya itu lutut ketemu lutut.
Misi Penyelamatan Aset: Sandal
Nah, mari kita bahas bagian paling krusial dari judul di atas: Sandal.
Malam pertama Tarawih adalah "bursa transfer" sandal terbesar di dunia. Ada ribuan pasang alas kaki yang berkumpul tanpa tuan selama kurang lebih satu jam. Risiko tertukar? Tinggi. Risiko hilang? Naudzubillah.
Kamu mungkin berangkat dengan percaya diri memakai sandal kulit branded hadiah ulang tahun. Tapi ingat, di mata jamaah yang sedang buru-buru pulang karena sinetron favorit sudah mulai, semua sandal terlihat sama.
Maka, lahirlah strategi-strategi kocak untuk mengamankan aset ini:
Teknik LDR (Long Distance Relationship): Sandal kiri taruh di rak utara, sandal kanan taruh di rak selatan. Biar malingnya bingung dan kena mental.
Teknik Kamuflase: Sengaja pakai sandal jepit Swallow yang sudah ditandai pakai silet atau paku panas dengan inisial nama. "Sandal ini milik H. Rahmat, yang ngambil bisulan."
Teknik Tawakal: Taruh di mana saja, pasrah, dan yakin kalau hilang berarti Allah mau ganti dengan sepatu baru (amin!).
Simfoni "Amin" dan Bocil Eport
Hal lain yang bikin kangen adalah suara gemuruh "AAMIIN" setelah Al-Fatihah. Di malam pertama, volumenya full bass. Menggetarkan dada. Rasanya seperti di- charge ulang semangat keimanan kita.
Tentu saja, suasana ini tidak lengkap tanpa kehadiran "Pasukan Bocil". Mereka adalah elemen kejutan. Kadang lari-larian di belakang saf, kadang main perang sarung di pojokan, atau yang paling epik: nangis kencang pas lagi hening-heningnya doa.
Apakah berisik? Iya. Tapi coba bayangkan kalau masjid sepi dari suara anak kecil. Pasti rasanya hampa. Anggap saja suara ketawa mereka adalah backsound alami yang mengingatkan kita bahwa agama ini ceria dan penuh kehidupan.
Tetap Berbobot: Kenapa Kita Rindu?
Di balik segala kekocakan rebutan tempat parkir dan drama sandal tertukar, ada satu hal yang bikin malam ini spesial.
Kita semua rindu.
Kita rindu suasana di mana semua orang, kaya atau miskin, pejabat atau pengangguran, berdiri sejajar. Bahu ketemu bahu. Tidak ada VIP di hadapan Tuhan (kecuali yang datang duluan dapat saf depan).
Mungkin, saf akan mulai maju (baca: berkurang) di minggu kedua atau ketiga. Itu manusiawi. Tapi malam ini? Malam ini adalah bukti bahwa di dalam hati kecil kita, ada niat baik yang menyala. Ada keinginan untuk menjadi lebih baik dari tahun kemarin.
Jadi, siap-siap! Pakai baju koko atau mukena terbaikmu (yang sudah dicuci, ya). Semprot parfum sedikit biar wangi. Pasang niat yang lurus.
Dan tolong, sekali lagi diingatkan: Perhatikan posisi sandal Anda. Jangan sampai berangkat gagah pakai sandal kulit, pulang nyeker sambil jinjing kresek.
Selamat menyambut Ramadan dengan gembira!
SEMOGA RAMADHAN TAHUN 1447 H INI MENJADI RAMADHAN YANG PALING BAIK DAN PALING BERKAH DIBANDINGKANG RAMADHAN-RAMADHAN SEBELUMNYA. SEMOGA SEMUA YANG BACA ARTIKEL INI DIKARUNIAKAN KESEHATAN, TAMBAHAN RIZKI YANG LEBIH BANYAK, KEMUDAHAN DALAM MELAKUKAN KEBAIKAN, SERTA MEMPEROLEH KEBERKAHAN YANG BERLIMPAH.
Siap-siap Grand Premiere Tarawih malam ini! Ingat, berangkat bawa niat, pulang bawa pahala. Jangan sampai berangkat bawa sandal kulit, pulang bawa sandal jepit beda warna. Amankan asetmu! #RamadanTiba #TarawihMalamPertama.
Your email address will not be published. Required fields are marked *