
Zaman sekarang, kalau orang dewasa muda mulai merasa hidupnya hampa, pelariannya hampir selalu sama: beli buku self-help tebal impor, dengar podcast motivator jam empat pagi sambil minum matcha, atau bayar seminar manifesting yang harganya sanggup buat bayar kontrakan tiga bulan. Padahal, kalau mau jujur, tradisi pesantren dan kiai-kiai sepuh sudah punya ramuan pangkas stres paling mutakhir tanpa perlu langganan aplikasi meditasi: tradisi tahlilan dan seni nrimo ing pandum.
Bayangkan anak muda zaman now yang kena racun hustle culture. Tiap hari dicekoki narasi: "Kalau umur 25 belum punya aset 1 miliar, kamu gagal." Akhirnya jam dua malam bukan tidur nyenyak, tapi meratapi nasib sambil memandangi plafon kamar kos. Bandingkan dengan tradisi pesantren. Bagi santri, pelajaran zuhud atau melepaskan keterikatan pada materi itu tidak dipelajari dari kelas finansial, tapi diuji langsung di depan serambi masjid: saat sandal Swallow terbaiknya mendadak ghaib setelah salat Jumat. Di sana latihan keikhlasan tingkat tinggi terjadi. Hilang Swallow hijau sebelah kanan, pulang-pulang terpaksa pakai Swallow merah beda ukuran. Tawakal dalam bentuk yang paling konkret dan pasrah.
Dunia modern juga menuntut kita untuk selalu mengejar closure dan jawaban atas segala hal. Semua harus dianalisis pakai framework, key performance indicator, sampai kuis kepribadian empat huruf. Sementara kalau kita sowan ke kiai sepuh bawa tumpukan masalah hidup—dari urusan jodoh yang hilalnya belum kelihatan sampai cicilan motor yang kian mencekik—kiai biasanya cuma mendengarkan sambil menyeruput teh hangat, tersenyum, lalu bilang: "Sing sabar, diombe disik kopine, dibanyakin selawatnya." Ajaibnya, masalahnya mungkin belum lunas, tapi dada mendadak plong. Tidak ada slide PowerPoint, tidak ada analisis SWOT, cuma ada teh manis dan ketenangan yang bikin hati langsung adem.
Belum lagi kalau bicara soal terapi mental gratis bernama nasi berkat. Di saat pakar psikologi sibuk menyuruh kita mindful eating, bapak-bapak di kampung sudah menerapkannya sejak lama. Selesai membaca kalimat thoyyibah berjamaah, pulangnya membawa kotak dus berisi nasi, paha ayam, mie goreng, dan kerupuk udang. Begitu dibuka di dapur rumah jam sembilan malam, semua kegundahan soal omongan tetangga atau revisi dari atasan seketika menguap.
Intinya, hidup ini tidak usah terlalu tegang disikapi bagai sidang skripsi tiap hari. Ada kalanya solusi atas kepenatan hidup itu bukan menambah jam lembur, tapi duduk melingkar, mendoakan para leluhur, lalu membagi gorengan. Kalau kata kiai, dunia ini cuma tempat mampir minum kopi. Kalau kopinya masih panas, ya disruput pelan-pelan sambil guyon, jangan malah dipakai buat menyiram muka sendiri.
Your email address will not be published. Required fields are marked *