
Kita hidup di era di mana semua orang sepertinya terkena virus Main Character Syndrome. Buka Instagram, isinya orang-orang pamer pencapaian. Buka TikTok, isinya orang-orang joget minta diperhatikan agar masuk FYP. Buka LinkedIn... wah, apalagi ini, isinya orang-orang merangkai kata demi terlihat seperti CEO sukses padahal aslinya masih sering nangis kalau disuruh revisi sama bos.
Dunia ini berisik banget. Memaksa kita berteriak pakai toa, "Woy, lihat gue! Gue ada! Gue sukses lho!" Tapi pernah nggak sih kamu lagi rebahan pakai kaos partai yang udah melar, sambil ngunyah cilok, lalu berpikir: "Sebenarnya, jadi orang biasa-biasa aja dan nggak penting di mata dunia itu enak banget, ya?"
Mari kita bedah kenapa menjadi "orang tidak penting" adalah sebuah kemewahan yang hakiki.
1. "Nggak Penting" Bukan Berarti Insecure, Bro!
Tolong garis bawahi dan bold bagian ini: Menjadi tidak penting bukan berarti kita rendah diri atau merana. Bedakan antara insecure (merasa diri ampas) dengan memilih secara sadar untuk tidak peduli pada validasi tetangga. Menjadi orang nggak penting berarti kita sudah mencabut colokan kebahagiaan kita dari tangan orang lain. Kita sadar bahwa kita nggak butuh validasi berwujud jumlah likes, pujian basa-basi di kolom komentar, atau pengakuan dari teman tongkrongan.
Kamu tahu value dirimu sendiri, dan kamu nggak butuh spanduk di jalan tol untuk membuktikannya ke orang-orang.
2. Bebas dari Penjajahan "Apa Kata Orang"
Bayangkan seberapa banyak energi yang kita habiskan tiap hari cuma buat mikirin pandangan orang lain.
Mau ke warung beli seblak aja mikir OOTD.
Mau post foto, mikir caption sampai setengah jam, pas udah di-post di-refresh tiap 5 detik buat ngecek siapa yang view.
Beli kopi susu seharga nasi padang tiga bungkus cuma demi logonya kelihatan pas difoto, padahal lambung udah teriak minta tolak angin.
Ketika kamu memproklamirkan diri sebagai "orang yang nggak penting", ransel beban pembuktian diri itu langsung mental! Kamu bebas mau pakai daster sobek, sandal jepit beda warna, atau minum kopi sachet yang diseduh pakai air termos. Hatimu tenang, dompetmu lebih tenang. Nggak sibuk membuktikan diri adalah skincare anti-aging terbaik.
3. Nggak Diajak Nongkrong? Alhamdulillah!
Pernah merasa FOMO (Fear Of Missing Out) karena nggak diajak nongkrong atau namamu nggak disebut di grup WhatsApp? Mulai sekarang, ubah mindset-nya.
Nilai dirimu bukan diukur dari seberapa sering namamu disebut-sebut. Justru, jadi orang yang jarang diomongin itu membebaskanmu dari drama! Nggak diajak nongkrong berarti:
Nggak perlu pusing mikirin baju.
Nggak perlu basa-basi ketawa dengerin jokes garing teman.
Nggak perlu kena jebakan split bill yang nggak masuk akal padahal kamu cuma pesan air putih dan mendoan satu.
Kamu bisa diam di rumah, maskeran, rebahan, sambil maraton drakor tanpa ada yang mengganggu. Surga dunia!
Menjadi Tokoh Figuran yang Bahagia
Dunia ini ibarat sinetron raksasa. Kalau semua orang maksa jadi peran utama yang kerjanya nangis, drama, dan rebutan warisan, biarkanlah kita jadi tokoh figuran (NPC) lewat yang kerjanya cuma makan mie ayam di latar belakang adegan.
Tidak masalah kalau dunia tidak menyadari kehadiran kita. Kebebasan sejati lahir ketika kita melepaskan kebutuhan untuk diakui. Jadi, tarik napas panjang, minum es teh manismu, dan rayakanlah betapa nikmatnya menjadi orang yang "tidak penting". Ketenangan hatimu jauh lebih mahal daripada tepuk tangan manusia.
Your email address will not be published. Required fields are marked *