
Pernah nggak sih kamu lagi iseng bongkar kulkas, terus nemuin botol saus sambal yang tanggal kedaluwarsanya ternyata udah lewat dari zaman Pemilu sebelumnya? Apa yang kamu lakuin? Pasti langsung dibuang, kan? (Atau kalau kamu anak kosan sejati: dicium dulu baunya, kalau masih aman, sikat!).
Nah, anehnya, kita ini rajin banget ngecek tanggal kedaluwarsa Indomie, susu kotak, sampai skincare. Tapi kita sering lupa satu hal yang paling krusial: Waktu kita di dunia ini juga punya masa kedaluwarsa, Bos. Bedanya, kalau botol saus dicetak jelas tulisan “Best Before: 25 Maret 2026”, umur kita nggak ada label barcode-nya di jidat. Coba deh renungin sambil nyeruput es kopi susu gula aren kesayanganmu.
Sindrom: Dunia Dikejar Terus, Padahal Dunianya Nggak Lari
Zaman sekarang, hidup itu rasanya kayak lagi ikut marathon tapi nggak tahu garis finish-nya di mana. Kita bangun pagi, macet-macetan, kerja bagai kuda (padahal kuda aja jam 5 sore udah balik ke kandang), lembur, pulang malam, scroll HP sampai ketiduran. Besoknya? Copy-paste rutinitas yang sama.
Kita terlalu sibuk ngejar "dunia". Ngejar promosi jabatan, ngejar DP rumah KPR 15 tahun, ngejar flash sale, ngejar validasi dari orang-orang di Instagram yang padahal ngutangin kita aja nggak mau.
Saking asyiknya hustling, kita lupa kalau kita ini langganan "paket hidup" prabayar yang kuotanya bisa habis kapan aja tanpa ada SMS peringatan “Sisa kuota hidup Anda tinggal 10%, silakan isi ulang amal ibadah.”
Coba Bayangin Kalau Umur Ada Notif-nya
Coba bayangin kalau HP kamu bisa ngasih notifikasi sisa waktu hidupmu.
Ting!
[Peringatan Sistem: Waktu Anda sisa 3 hari lagi. Segera habiskan saldo Gopay Anda.]
Kira-kira, kalau notif itu muncul, apakah kamu masih mau uring-uringan ngurusin revisi dari klien yang brief-nya sejelas air comberan? Apakah kamu masih mau buang-buang waktu dua jam cuma buat berantem sama akun anonim ber-PFP anime di kolom komentar TikTok?
Pasti nggak, kan? Kamu pasti bakal langsung resign, meluk orang tua, makan makanan paling enak tanpa mikirin kolesterol, dan rebahan dengan damai.
Masalahnya, karena kita ngerasa waktu kita masih unlimited, kita jadi sering menyia-nyiakan momen berharga demi hal-hal yang sebenarnya fana (baca: omongan tetangga dan deadline kantor).
Seni Ngerem Mendadak (Biar Nggak Nabrak Jurang Burnout)
Ngingetin diri soal "kadaluarsa" ini bukan berarti nyuruh kamu jadi pengangguran, jual semua harta, terus bertapa di pucuk Gunung Rinjani ya. Cicilan Paylater tetap harus dibayar, Kawan.
Maksudnya adalah, jadikan fakta bahwa kita ini "terbatas" sebagai filter untuk milih mana yang penting dan mana yang sampah.
Filter 1: Kalau hal itu nggak akan penting lagi dalam 5 tahun ke depan (misal: cowok red flag yang cuma nge-read chat kamu, atau atasan yang ngomel karena kamu telat 5 menit), nggak usah dimasukin ke hati.
Filter 2: Alokasikan waktu buat "Hidup". Mumpung belum expired, pakai matamu buat lihat sunset yang beneran, bukan cuma dari layar HP. Pakai lidahmu buat ngerasain makanan enak sesekali. Hubungi teman lamamu.
Filter 3: Sadari kapan harus berhenti. Kerja keras itu harus, tapi sadar diri itu wajib. Jangan sampai pas di akhirat nanti ditanya, "Waktu di dunia kamu habiskan buat apa?", jawabanmu malah, "Balas email klien jam 11 malam, Malaikat." Malu-maluin!
Kesimpulan: Mumpung Belum Expired, Yuk Bahagia!
Hidup itu ibarat promo diskon 99%—waktunya terbatas, sayang banget kalau dilewatkan cuma buat marah-marah nggak jelas. Dunia ini luas, dan kamu nggak harus punya semuanya untuk bisa merasa cukup.
Nggak usah terlalu ngoyo. Kerjakan apa yang jadi porsimu hari ini, nikmati prosesnya, sisanya biarin semesta yang atur. Jangan lupa ambil napas, regangkan punggungmu yang udah kayak udang rebus itu, dan senyum sedikit.
Ingat, kita semua punya masa expired. Jadi, mumpung kemasannya masih bagus dan belum basi... mari kita buat hidup ini lebih berasa "enak" buat dijalani.
Your email address will not be published. Required fields are marked *