
Pernah nyadar nggak, kalau kita—warga negara ber-flower +62 tercinta ini—punya satu superpower yang nggak dimiliki Avengers? Bukan bisa terbang atau keluarin laser dari mata, melainkan skill tingkat dewa dalam mencari celah kata "untung" di setiap kejadian sial.
Coba ingat-ingat lagi.
Kamu lagi asyik naik motor, tiba-tiba ada kucing oren nyebrang sembarangan, ngerem mendadak, lalu gubrak! Jatuhlah kamu ke aspal. Lecet-lecet, celana robek, spion patah.
Lalu datanglah tetangga bantuin bangunin sambil bilang, "Aduh Mas, untung cuma lecet, untung nggak kelindes truk dari belakang, untung kepalanya pakai helm..."
Dalam hati kamu mungkin meringis, "Helm apanya Pak, ini dengkul rasanya mau copot!" Tapi ajaibnya, setelah mendengar kata "untung" bertubi-tubi itu, emosi kita perlahan mereda. Kita tiba-tiba merasa, "Oh iya ya, nasib gue nggak jelek-jelek amat. Masih untung."
Kenapa Sih Kita Suka Banget Bilang "Untung"?
Secara logika, kecopetan dompet ya tetap rugi. Kesandung batu di depan gebetan ya tetap memalukan sampai ke DNA. Tapi mari kita bedah magic dari kebiasaan unik ini tanpa perlu pakai teori psikologi yang berat-berat.
Kata "untung" itu sebenarnya berfungsi layaknya plester luka bermotif Hello Kitty.
Apakah dia langsung menyembuhkan patah tulang? Ya nggak. Tapi dia menutupi lukanya biar nggak kelihatan terlalu menyeramkan. Dia adalah bumper penahan benturan mental. Saat ekspektasi kita bertabrakan dengan realita yang pahit, kata "untung" jadi airbag yang mencegah otak kita meledak karena stres.
Coba bayangkan kalau kita nggak punya jurus ini. Kecopetan sedikit, langsung merasa dunia kiamat. Putus cinta, langsung merasa semesta membenci kita. Capek banget kan hidup kayak gitu?
Klasemen "Untung" dalam Kehidupan Sehari-hari
Seni menemukan kata "untung" ini bisa diterapkan ke hampir semua tragedi receh kehidupan. Ini beberapa contoh klasik yang mungkin pernah kamu alami:
Tragedi Asmara: Diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya.
Seni Untungnya: "Yaelah, untung ketahuannya red flag dari sekarang. Bayangin kalau ketahuannya pas udah sebar undangan se-Kecamatan dan DP katering? Bisa mampus gue."
Tragedi Dompet: Akhir bulan, gajian masih lama, eh ban motor bocor kena paku.
Seni Untungnya: "Untung bocornya pas dekat tukang tambal ban. Bayangin kalau bocornya di tengah hutan pinus pas malam Jumat? Fix digodain kuntilanak."
Tragedi Karir: Kena semprot bos di depan teman-teman kantor gara-gara salah attach file email.
Seni Untungnya: "Untung cuma diomelin, nggak langsung dipecat. Lagian untung kuping gue udah training tahan banting dari zaman emak marah-marah nyari tupperware hilang."
Menerima "Malang" Tanpa Kehilangan Akal
Tulisan ini sama sekali bukan nyuruh kamu jadi orang yang toxic positivity, yang kalau lagi sedih malah dipaksa ketawa. Nggak gitu konsepnya.
Kalau lagi sial, ya sedih aja. Boleh kok misuh-misuh sebentar di dalam hati. Menangis gara-gara dompet hilang itu sangat manusiawi. Mengakui kalau kejadian itu "malang" adalah bentuk kewarasan kita.
Tapi setelah emosinya rilis, barulah kita keluarkan kartu AS kita: Seni Mencari Untung.
Seni ini membantu kita memindahkan fokus. Dari yang tadinya nge-zoom in ke masalahnya (yang gelap dan bikin sumpek), jadi nge-zoom out melihat gambaran besarnya (bahwa hey, kita masih hidup, masih bisa napas, masih bisa pesen es kopi susu).
Hidup ini ibarat rute ganjil-genap di Jakarta. Kadang mulus, kadang macet, kadang diadang polisi. Kejadian "malang" itu pasti ada, sudah satu paket sama napas. Tapi menemukan "untung" di baliknya? Itu adalah murni pilihan.
Jadi, buat kamu yang mungkin hari ini lagi ngerasa harinya berantakan banget, tarik napas panjang, seruput minumannya, dan coba batin pelan-pelan: "Yah, hari ini memang kacau sih, tapi untung..." (silakan isi sendiri titik-titiknya!).
Your email address will not be published. Required fields are marked *