
Mari kita bicara empat mata sebagai sesama manusia yang punya batas kesabaran.
Pernahkah Anda berada di situasi ini: Rapat sedang memanas, bos minta revisi yang tidak masuk akal, grup WhatsApp keluarga ribut masalah warisan (atau sekadar menu makan malam), dan tiba-tiba dada terasa sesak? Anda butuh teriak, tapi kalau teriak di kubikel, nanti dikira kesurupan.
Lantas, ke mana kaki melangkah? Bukan ke mushola (karena belum waktu sholat), bukan ke kantin (dompet lagi tipis).
Anda berjalan menuju satu-satunya tempat suaka margasatwa paling tenang di kantor: Toilet.
Ya, bilik berukuran 2x2 meter itu sering kali berubah fungsi. Dari tempat "buang hajat" menjadi tempat "buang penat".
Toilet sebagai "Bunker" Kewarasan Dalam konsep Manajemen Cinta yang sering saya gaungkan, mencintai orang lain (mahasiswa, rekan kerja, keluarga) butuh modal. Modalnya adalah kewarasan diri sendiri. Bagaimana kita mau menebar cinta kalau isi kepala kita kayak kabel kusut?
Di sinilah peran vital toilet.
Tapi, sebagai umat beragama dan manusia beradab, kita tidak bisa sembarangan "bertapa" di sana. Ada aturannya. Ingat, setan suka nongkrong di toilet, jangan sampai kita malah jadi temannya gara-gara kelamaan scroll TikTok di dalam.
Berikut panduan "Healing Syariah" 5 menit di toilet kantor:
1. Masuk dengan Kaki Kiri, Niatkan "Buang Sampah" Secara harfiah masuk toilet kaki kiri (sunnahnya begitu). Tapi secara filosofis, niatkan Anda masuk untuk membuang "kotoran". Bukan cuma kotoran biologis, tapi juga sampah emosi. Kesal sama atasan? Tinggalkan di situ. Jengkel sama klien? Flush sekalian.
2. The Power of Air (Wudhu Kilat) Kalau Anda merasa mau meledak marah, Nabi mengajarkan kita untuk berwudhu karena air memadamkan api (amarah). Di toilet/wastafel, basuh muka Anda. Rasakan dinginnya air menyentuh kulit. Ini adalah Manajemen Cinta pada diri sendiri: mendinginkan "mesin" yang overheat sebelum rusak. (Catatan: Kalau toiletnya kering dan bersih, bisa sekalian rapikan rambut. Ganteng/cantik itu menaikkan mood).
3. Diam Itu Emas (Jangan Curhat di Dalam) Ingat adabnya: Di dalam toilet, kita dilarang banyak bicara, apalagi berdzikir lisan. Manfaatkan keheningan ini! Di luar sana bising sekali. Di dalam sini, cuma ada suara <i>exhaust fan</i> yang mendengung. Nikmati diam itu. Tarik napas panjang, hembuskan. Jangan bawa HP lalu update status: "Lelah banget ya Allah." Selain tidak etis, sinyal di toilet biasanya jelek. Jadikan 3 menit di dalam bilik itu sebagai detoks digital sejenak.
4. Jangan Kelamaan (Makruh, Bro!) Ini kuncinya. Healing di toilet itu cukup 5 menit. Kalau sampai 30 menit, itu bukan healing, itu sembelit (atau menghindari tanggung jawab). Islam mengajarkan kita untuk tidak berlama-lama di tempat kotor jika hajat sudah selesai. Segera keluar. Kenapa? Karena cinta itu butuh aksi. Manajemen Cinta mengajarkan kita untuk recharge energi, bukan untuk lari dari kenyataan selamanya.
Epilog: Keluar dengan Kaki Kanan Begitu keluar, langkahkan kaki kanan. Lihat cermin di wastafel sekali lagi. Senyum sedikit (dipaksa juga boleh).
Katakan pada bayangan di cermin: "Oke, Bro/Sis. Kamu sudah buang kotorannya. Sekarang kamu bersih, lebih dingin, dan siap menghadapi drama dunia tipu-tipu ini lagi."
Kembalilah ke meja kerja Anda. Mungkin masalahnya belum selesai, tapi setidaknya, Anda menghadapinya dengan versi diri yang lebih waras.
Selamat mencoba. Jangan lupa disiram!
Your email address will not be published. Required fields are marked *