
Pernah nggak sih, jam 2 pagi mata masih terang benderang, menatap langit-langit kamar, terus tiba-tiba otak memutar sebuah pertanyaan absurd: "Tadi siang si bos senyumnya kok agak miring, ya? Jangan-jangan dia tau gue yang ngabisin biskuit di pantry?" Padahal, usut punya usut, besoknya baru ketahuan kalau si bos senyumnya miring gara-gara lagi sariawan.
Selamat! Kamu baru saja membuang energi berharga untuk overthinking hal yang sama sekali nggak ada hubungannya sama kamu. Tenang, kamu nggak sendirian. Hampir semua dari kita punya bakat terpendam jadi "Sutradara Kehidupan"—pengennya ngatur semua hal, nebak pikiran orang, sampai memprediksi masa depan yang padahal dukun aja kadang masih meleset.
Masalahnya, kapasitas otak kita itu ibarat kuota internet pas akhir bulan: terbatas dan gampang abis kalau dipakai buat buka aplikasi yang nggak penting.
Berhenti Jadi "Avatar" Pengendali Segala Elemen
Ada satu pepatah kuno (yang sebenarnya adalah prinsip filosofi Stoikisme, tapi kita sebut saja pepatah tongkrongan) yang bunyinya begini: Bedakan apa yang bisa kita kendalikan, sisanya lepaskan.
Kedengarannya gampang banget, ya? Kayak ngomong "udah, ikhlasin aja" ke temen yang baru putus cinta padahal cicilan motor mantannya masih dia yang bayar. Susah dipraktikkan! Tapi, mari kita bedah pelan-pelan pakai logika sehari-hari biar nggak pusing.
Dalam hidup ini, hal-hal itu terbagi jadi dua kotak saja. Nggak usah dibikin ribet jadi tiga atau empat kotak.
1. Kotak A: Hal yang BISA Kita Kendalikan
Ini adalah area kekuasaan mutlak kita. Kita adalah rajanya. Apa aja isinya?
Pikiran kita sendiri.
Reaksi kita kalau disalip angkot.
Pilihan kata saat ngetik chat (mau nge-gas atau santai).
Jam berapa kita mau tidur (walaupun sering gagal karena keasyikan scroll TikTok).
Pilihan buat pakai jaket atau nggak saat mendung.
2. Kotak B: Hal yang TIDAK BISA Kita Kendalikan
Ini adalah area di mana kita murni cuma jadi penonton. Apa isinya?
Cuaca (udah nyuci motor bersih mengkilap, eh hujan badai).
Omongan tetangga atau kerabat ("Kapan nikah?", "Kok gemukan?", "Kerja di mana sekarang?").
Balasan chat dari orang lain (kita ngetik panjang lebar pakai effort, dibalas cuma "Y" atau stiker jempol).
Macet di jalan raya.
Kelakuan netizen di kolom komentar.
Kenapa Harus Bodo Amat?
Seni "Bodo Amat" di sini bukan berarti kita jadi manusia apatis yang nggak peduli sama lingkungan, buang sampah sembarangan, atau pura-pura mati pas ditagih utang. Bukan gitu konsepnya!
Bodo amat di sini adalah berhenti menguras emosi untuk hal-hal di Kotak B.
Coba bayangkan skenario ini: Kita lagi di jalan pakai baju paling keren, wangi, mau kencan. Tiba-tiba di sebelah ada mobil ngebut dan menyipratkan air genangan ke celana kita.
Jalur Overthinking (Fokus ke Kotak B): Kita ngamuk, nyumpahin si sopir sampai 7 turunan, harimu hancur, mood berantakan, kencan jadi garing karena mukita ditekuk terus. (Padahal si sopir udah jauh dan nggak denger sumpah serapahmu).
Jalur Seni Bodo Amat (Fokus ke Kotak A): Tarik napas. "Yah, basah deh. Yaudah, mampir minimarket bentar beli tisu basah, atau sekalian kencannya pindah ke tempat yang agak remang biar nggak kelihatan noda airnya." Selesai. Mood tetap terjaga.
Cara Cepat Memilah Pikiran Sebelum Tidur
Biar otak nggak meledak karena kebanyakan pikiran yang menumpuk, coba terapkan Filter 3 Detik ini setiap kali kita mulai kepikiran sesuatu:
Tanya ke diri sendiri: "Hal ini ada di dalam kendali gue nggak, ya?"
Kalau Jawabannya YA: Oke, apa yang bisa gue lakukan sekarang buat nyelesaiin ini? Kalau bisa dikerjakan besok, yaudah tidur.
Kalau Jawabannya NGGAK: Tarik napas panjang, hembuskan, lalu ucapkan mantra ajaib: "Wah, bukan urusan gue ternyata." Terus ganti posisi bantal yang sisi dinginnya di atas.
Hidup ini udah cukup berat dengan tagihan bulanan, harga barang yang naik turun, dan kenyataan bahwa martabak manis itu kalorinya jahat banget. Jangan ditambahin lagi sama beban mikirin hal yang di luar kuasa kita.
Mulai sekarang, yuk latih otot "bodo amat" kita. Sisakan ruang di kepalamu buat hal-hal yang bikin kita
seneng aja. Nggak semua hal di dunia ini butuh reaksi dari kita, kok. Kadang, respons terbaik dari sebuah kekacauan di luar sana adalah: senyum, sruput kopi, dan jalan terus.
Your email address will not be published. Required fields are marked *