
Pernahkah Anda merasa lelah padahal baru bangun tidur? Atau merasa "baterai sosial" sudah low-batt padahal baru jam 9 pagi?
Jika iya, selamat! Kemungkinan besar RAM otak Anda penuh. Bukan karena Anda memikirkan rumus nuklir atau strategi perdamaian dunia, tapi karena terlalu banyak aplikasi "sampah" yang berjalan di latar belakang pikiran Anda.
Mulai dari komentar nyinyir tetangga soal renovasi rumah, perdebatan politik di grup WhatsApp keluarga yang tidak berujung, sampai rasa tersinggung karena like di postingan Instagram tidak sebanyak biasanya.
Jujur saja, kita hidup di era di mana "peduli" itu diobral murah. Kita dipaksa peduli pada semua hal. Tapi, mari kita bicara blak-blakan: Tidak semua masalah itu seksi untuk dipikirkan.
Seni "Bodo Amat" di sini bukan berarti kita jadi manusia apatis yang tidak punya hati. Bukan. "Bodo Amat" adalah sebuah filter canggih untuk menjaga kewarasan.
Bayangkan energi batin kita itu seperti saldo rekening. Setiap kali kita marah, tersinggung, atau overthinking pada hal remeh, saldo itu terpotong. Sayangnya, banyak dari kita yang boros. Kita menghamburkan "saldo batin" untuk meladeni orang yang bahkan tidak tahu nama lengkap kita.
Coba tanyakan tiga hal ini sebelum Anda memutuskan untuk pusing:
Apakah masalah ini akan relevan 5 tahun lagi? (Kalau cuma soal antrean diserobot, jawabannya pasti tidak).
Apakah saya punya kendali di sini? (Kalau soal cuaca panas atau omongan orang, jelas tidak).
Apakah ini membayar cicilan saya? (Nah, ini yang paling krusial).
Jika jawabannya tidak, maka tombol "Delete" di otak Anda harus segera ditekan. Throw it in the trash.
Nah, di sinilah letak irisan menariknya dengan konsep yang sering saya gaungkan: Manajemen Cinta dalam Pendidikan.
Mungkin terdengar kontradiktif. "Lho, katanya manajemen cinta, kok malah disuruh bodo amat?"
Justru itu kuncinya! Manajemen Cinta bukan hanya soal kepada siapa kita memberikan hati, tapi juga bagaimana kita melindungi hati tersebut agar isinya tetap berkualitas.
Dalam pendidikan (maupun kehidupan rumah tangga), kita tidak bisa memberikan cinta yang tulus jika "wadah" hati kita penuh dengan sampah kekesalan pada hal-hal receh. Bagaimana kita mau menghadapi mahasiswa atau anak dengan penuh kasih sayang, kalau energi kita sudah habis dipakai untuk baper sama komentar netizen?
Jadi, bersikap masa bodoh pada hal-hal yang tidak penting adalah bentuk pertahanan diri tertinggi. Itu adalah cara kita "menghemat" stok cinta, supaya cinta itu bisa kita berikan secara "full tank" kepada mereka yang benar-benar berhak: keluarga, pasangan, anak didik, dan tentu saja, diri sendiri.
Menjadi selektif dalam memikirkan masalah adalah tanda kedewasaan. Mulai hari ini, mari kita praktekkan diet mental.
Ada drama di grup WhatsApp? Skip. Ada orang pamer pencapaian yang bikin iri? Scroll. Ada yang salah paham sama kita padahal kita sudah jelaskan? Biarkan.
Simpan energi "marah" dan "peduli" Anda untuk hal-hal besar: untuk mendidik generasi penerus, untuk mencintai pasangan, dan untuk berkarya. Sisanya? Biarkan lewat seperti angin lalu yang, maaf kata, numpang lewat doang tapi bau.
Selamat menikmati hidup yang lebih ringan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *