
Hidup ini kadang mirip abang-abang bakso yang lewat depan rumah: pas dipanggil malah tancap gas, pas lagi bokek malah ngetrail sambil nempel pagar. Ngeselin? Jelas. Tapi daripada tensi naik terus tiup tensimeter sampai pecah, ada satu jurus warisan leluhur yang wajib kamu kuasai: legowo.
Secara bahasa, legowo itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya lapang dada. Bukan berarti dada kamu melar kayak karet gelang, melainkan kemampuan menampung kejadian apes tanpa perlu ngamuk di media sosial.
Banyak yang keliru menyamakan legowo dengan pasrah ala pasrahnya dompet di akhir bulan. Biar tidak salah kaprah, bayangkan skenario saat ban motor kamu mendadak bocor di tengah jalan:
Tipe Pasrah: Duduk di pinggir jalan, menangis Bombay, sambil menunggu bantuan gaib atau keajaiban langit turun.
Tipe Ngamuk: Nendang ban motor, jempol kaki kecekot, emosi membumbung tinggi, tapi ajaibnya ban tetap bocor.
Tipe Legowo: Hela napas panjang, nuntun motor ke tambal ban terdekat sambil batin: “Ya sudah, sekalian olahraga betis gratis hari ini.”
Legowo itu bukan berarti kamu mengibarkan bendera putih lalu pasrah diinjak-injak kenyataan. Legowo adalah kesadaran penuh bahwa dunia ini tidak berputar mengelilingi keinginan kamu.
Coba cek, apakah kamu sering mengalami gejala-gejala di bawah ini:
Mudah menyulut emosi cuma gara-gara mie instan kuahnya terlalu sedikit.
Overthinking tiga hari tiga malam karena pesan singkat kamu cuma dibalas pakai thumbs up.
Merasa bumi mau kiamat saat lampu hijau baru menyala 0,001 detik tapi kendaraan di belakang sudah klakson kayak mau kawinan.
Kalau dua dari tiga poin di atas terasa akurat, selamat! Kamu adalah kandidat utama yang butuh latihan ikhlas dosis tinggi.
Melatih hati agar legowo itu memang tidak secepat bikin kopi instan. Tapi kamu bisa mulai dari langkah-langkah kocak berikut:
Ketika rencana kamu berantakan—misalnya sudah siap tampil rapi tapi malah kecipratan genangan air dari mobil lewat—jangan langsung mengeluarkan nama-nama isi kebun binatang. Cukup tarik napas dalam-dalam, lalu ucapkan mantra ajaib: “Ya sudahlah, lagian baju putih polosan begini emang kurang ada motifnya.”
Kamu bisa merencanakan piknik indah di hari Minggu. Tapi kalau langit memutuskan menurunkan hujan deras beserta angin kencang, kamu bisa apa? Mau menolak takdir pakai pawang hujan via WhatsApp? Mending seduh teh hangat, goreng bakwan, lalu nikmati suara air hujan. Dunia tidak bakal runtuh cuma gara-gara agenda piknikmu bergeser jadi agenda rebahan.
Penyebab utama orang gampang sakit hati adalah ekspektasi yang setinggi langit, sementara realita cuma setinggi rumput tetangga. Ekspektasi ke manusia itu ibarat beli kucing dalam karung: seringnya dapat musang. Jadi, belajar untuk tidak berharap berlebihan pada apa pun, kapan pun, dan siapa pun.
Pada akhirnya, bersikap legowo itu cuma masalah memilih pertempuran. Tidak semua hal di dunia ini layak membuat kamu darah tinggi. Kalau ada hal yang bisa diikhlaskan, ya ikhlaskan saja. Menggenggam batu panas itu cuma bikin tangan kapalan—mending dilepas lalu dipakai buat pegang es teh manis.
Mulai hari ini, kalau ada hal yang tidak sesuai rencana, senyum saja dulu. Kalau masih kesal, makan bakso pedas. Kalau masih kesal juga, baru latihan legowo lagi. Ingat, kenyataan hidup itu memang kadang pahit, tapi kalau diterimanya sambil tertawa, rasanya jadi kayak minum jamu pahit yang ada hadiah piring cantiknya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *