
Pernah nggak sih kamu merasa kayak sebutir garam di lautan? Ada, tapi rasanya kok nggak bikin asin ya? Apalagi di kantor. Kamu sudah kerja sampai ubun-ubun berasap, lembur sampai dikira penghuni gaib, inovasi sana-sini, eh pas ada momen apresiasi, namamu cuma disebut di bagian "Dan terima kasih juga untuk semua pihak yang telah membantu." Rasanya kayak habis disiram air comberan, kan?
Selamat datang di Era 'Ghosting Profesional'! (di gambarnya, sengaja ditulis ‘selamat dadang’ wkwkwk) Sebuah era di mana effort-mu yang selevel Avengers malah cuma dianggap story Instagram yang di-skip atau, lebih parahnya, cuma di-"read" doang tanpa balasan chat apa pun. Pedihnya, bukan main!
1. Pacaran Sama Projek, Dicuekin Sama Bos
Ingat zaman gebetan? Kamu habis-habisan mikirin dia, kirim chat manis, ajak kencan ke tempat lucu. Eh, dia cuma bales "Ok" atau "Uhm." Nah, itu persis kayak hubunganmu sama projek kantor.
Kamu sudah pacaran sama laptop sampai lupa mandi, dinner ditemani deadline, bahkan deep talk sama kopi hitam tentang masa depan pekerjaan. Pas hasilnya gol dan semua orang tepuk tangan, bosmu cuma ngangguk-ngangguk sambil bilang, "Bagus. Lanjut ya, client selanjutnya lebih gede." Woy! Aku butuh validasi, bukan reminder kerjaan baru! Masa "charge cinta" diri sendiri cuma pakai kopi doang?
2. Ketika "Love Language" Kantor adalah "Silent Treatment"
Di dunia dating, ada istilah love language. Ada physical touch, words of affirmation, quality time, gifts, dan acts of service. Kalau di kantor, love language kita ke kantor itu jelas: Acts of Service. Kita melayani, kita kasih yang terbaik, kita siap sedia.
Tapi love language kantor ke kita? Seringnya Silent Treatment. Alias didiemin. Kamu butuh words of affirmation dari atasan, dia malah kasih words of deadline. Kamu butuh quality time untuk diskusi strategi, dia malah kasih quality meeting dengan client sampai tengah malam. Akhirnya, kita cuma bisa meratapi nasib sambil ngelus-ngelus CV di laptop.
3. Hati-hati, Virus "FOMO Apresiasi" Itu Nyata!
Virus ini bikin kita ketar-ketir kalau ada yang lebih dipuji. Ada teman yang presentasinya dipuji setinggi langit, kita langsung sibuk koreksi diri: "Jangan-jangan presentasi gue kemarin kurang efek transisi ya?"
Virus ini bikin kita jadi "bucin" validasi. Ngelihat orang lain dapat penghargaan, langsung ngiklan di grup chat kantor: "Guys, ada yang butuh bantuan lembur nggak? Aku lagi free nih weekend." Padahal besoknya ada kondangan mantan yang butuh persiapan mental maksimal!
Gini ya, teman-teman: Hidup ini bukan reality show yang butuh juri buat bilang kamu keren. Kamu itu keren dengan sendirinya! Ibaratnya, kamu sudah masak steak wagyu kelas atas. Kalau ada yang cuma bilang "lumayan" atau bahkan nggak nyicip, itu bukan salah steak-nya, tapi lidah (atau selera) orangnya yang mungkin lagi nggak beres!
4. Cara "Move On" dari Ghosting Profesional (Sebelum Kamu Jadi Hantu Beneran)
Sadari Kamu Berharga: Sebelum minta orang lain menghargai, hargai dulu dirimu. Minimal, jangan lupa makan siang dan jangan lembur sampai mata kamu merah kayak zombie.
Komunikasikan (Bukan Curhat): Kalau ada hasil kerja yang menurutmu patut diapresiasi, sesekali "pasang status" (di laporan atau email) dengan bangga. Bukan pamer, tapi edukasi.
Cari "Hubungan" yang Sehat: Kalau kamu sudah berjuang mati-matian tapi tetap di-ghosting terus, mungkin ini saatnya mencari lingkungan kerja yang lebih sehat, yang bisa melihat nilai dirimu. Masih banyak "kantor" di luar sana yang siap menerima love language "Acts of Service" kamu dengan balasan Words of Affirmation!
Self-Love is the Key: Kasih reward ke diri sendiri. Beli kopi mahal, nonton bioskop, atau tidur 12 jam. Kamu itu investasi paling berharga!
Jadi, kalau hari ini kerja kerasmu cuma di-read doang, jangan berkecil hati. Mungkin mereka cuma butuh waktu untuk mencerna betapa kerennya dirimu. Atau mungkin mereka memang nggak peka. Yang jelas, kamu sudah keren banget! Tetap semangat, ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *