
Sambil menikmati pagi pertama di tahun 2026 ini, pikiran saya tidak sepenuhnya berada di ruang kerja yang nyaman ini. Hati saya justru melayang jauh ke beberapa wilayah di negeri kita yang baru saja diguncang bencana.
Di kalender pendidikan, sebentar lagi anak-anak kita akan kembali ke sekolah. Di kota besar, mereka mungkin sibuk memamerkan sepatu baru atau tas baru. Tapi bagi anak-anak di wilayah pasca-bencana, mereka kembali ke sekolah dengan membawa sesuatu yang berat di pundak kecil mereka: trauma.
Seringkali kita melihat berita dengan judul “Gedung Sekolah Telah Dibangun Kembali”. Kita bertepuk tangan. Pejabat memotong pita. Kita merasa tugas pendidikan sudah selesai karena tembok sudah berdiri tegak dan atap tak lagi bocor.
Namun, izinkan saya sedikit terusik. Apakah sekolah hanya soal tumpukan bata dan semen?
Sebagai orang yang menggeluti dunia pendidikan—sekaligus seorang ayah—saya meyakini bahwa membangun gedung jauh lebih mudah daripada membangun kembali rasa aman. Kontraktor bisa menyelesaikan kelas dalam dua bulan, tapi siapa yang bisa menjamin "renovasi" hati anak-anak yang ketakutan setiap kali mendengar suara gemuruh?
Di sinilah saya merasa konsep Manajemen Cinta bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah kebutuhan darurat.
Pendidikan pasca-bencana tidak butuh guru yang langsung masuk kelas dan berteriak, "Buka halaman 10, kerjakan soal matematika!". Itu kejam. Otak yang sedang dalam mode survival (bertahan hidup) tidak akan bisa menyerap ilmu hitung-hitungan.
Yang mereka butuhkan adalah wajah guru yang teduh. Yang mereka butuhkan adalah sapaan, "Nak, terima kasih sudah berani datang hari ini. Kamu aman di sini bersama Bapak/Ibu."
Manajemen cinta dalam konteks ini sesederhana mengubah prioritas: Koneksi sebelum Koreksi. Rasa Aman sebelum Pelajaran.
Jika hari ini atau esok kita kembali mengajar—entah di ruang kelas ber-AC atau di tenda darurat—mari kita tinggalkan sejenak target kurikulum yang kaku. Mari kita menjadi "rumah" bagi murid-murid kita.
Karena pada akhirnya, kurikulum bisa dikejar, nilai bisa diperbaiki. Tapi jika seorang anak kehilangan kepercayaan bahwa dunia ini tempat yang aman, kita akan kehilangan dia selamanya.
Selamat Tahun Baru 2026. Mari kita mulai tahun ini bukan dengan menuntut murid menjadi pintar, tapi dengan memeluk mereka agar merasa utuh.
Salam hangat.
Your email address will not be published. Required fields are marked *