
Siapa nih yang kalau mau keluar rumah beli seblak depan kompleks aja, musti ngaca dulu 15 menit demi memastikan jilbab kagak mencong atau kaos oblong kagak kelihatan buluk-buluk amat?
Atau pas lagi jalan, tiba-tiba ada segerombolan orang ketawa, terus dalam hati langsung ngebatin: "Bentar, mereka lagi ngetawain komedo di hidung gue ya?"
Fix, selamat datang di klub pencinta "Apa Kata Orang". Sebuah klub tanpa iuran bulanan, tapi sukses bikin kita bayar pakai kesehatan mental dan jam tidur yang berkurang.
Jujur aja, capek banget nggak sih hidup demi memenuhi ekspektasi mata manusia? Kita tuh sering banget terjebak dalam lingkaran setan people-pleasing.
Mau resign kerjaan yang toxic, takut dibilang nggak bersyukur.
Umur udah masuk kepala tiga belum nikah, pusing dengerin pertanyaan "Kapan menyusul?" dari tantenya sepupu ipar yang ketemu aja cuma setahun sekali pas Lebaran.
Bahkan mau posting foto di Instagram aja, nanyain ke tiga grup WhatsApp dulu: "Guys, bagusan filter yang mana? Caption-nya alay kagak?"
Padahal kalau dipikir-pikir pakai logika sehat (sambil ngemil gorengan): Manusia itu hakikatnya nggak punya kuasa apa-apa, gaes. Mereka nggak bisa ngasih kita rezeki mutlak, kagak bisa juga bikin kita mendadak sial kalau kita nggak sengaja numpahin kuah bakso. Mereka cuma punya satu hal: MULUT. Dan kuotanya gratis buat komentar.
Kalau kita sibuk menata hidup biar selalu kelihatan "sempurna" di mata orang lain, percaya deh, hati kita bakal kayak kos-kosan kosong. Sepi, hampa, dan gampang kemasukan angin alias gampang cemas.
Nah, ada satu kutipan adem banget yang sempat lewat di timeline (dan jujur ini namparnya lembut tapi bikin tobat):
"Jadikan pandangan manusia terhadap dirimu tidak lagi memenuhi hatimu, karena engkau sibuk menyadari bahwa Allah sedang memandangmu..."
Bayangin deh. Selama ini kita tuh kayak lagi ujian, tapi sibuk caper sama pengawas ruangan sebelah yang bahkan nggak megang lembar jawaban kita. Padahal, Pengawas Utama kita—Allah SWT—lagi ngelihatin kita dengan penuh kasih sayang.
Ketika kita mulai shift (geser) fokus dari "Aduh, mereka ngomongin gue apa ya?" jadi "Ya Allah, Engkau suka nggak ya sama apa yang aku lakuin sekarang?", di situlah keajaiban dimulai.
Ada rasa hangat yang tiba-tiba meluk hati kita. Kenapa? Karena penilaian Allah itu nggak kayak penilaian manusia yang musiman dan penuh pamrih.
Manusia melihat kita dari casing-nya (merek HP, outfit, jabatan).
Allah melihat kita dari ketulusan hati dan usaha kita, segede apa pun remahannya.
Nggak usah langsung drastis jadi manusia paling zuhud sedunia dalam semalam, tar malah kaget. Kita mulai dari yang receh dan receh dulu:
Prinsip "Emang Gue Pikirin" (EGP) Syariah Pas ada orang yang mulai nge-kritik hidupmu tanpa dasar, tarik napas dalam-dalam, hembuskan, lalu bisikin ke diri sendiri: "Dia bukan yang nentuin aku masuk surga atau neraka. Skip."
Hadirkan Konsep "CCTV Ilahi" Lagi sendirian, lagi sedih, atau lagi ngerasa nggak berharga karena abis dikucilkan di tongkrongan? Ingat kalau Allah lagi mantau kamu. Dia tahu kamu lagi terluka, dan Dia nggak pernah meremehkan air matamu. Kamu itu berharga di mata Penciptamu, jadi buat apa minder di depan makhluk-Nya?
Mulai Belajar "Bodo Amat" yang Elegan Nggak semua omongan orang harus masuk ke hati. Anggap aja omongan netizen dunia nyata itu kayak iklan di YouTube: lewat syuh-syuh aja, pencet Skip Ad dalam waktu 5 detik.
Teman-teman, hati kita itu ukurannya kecil. Kalau udah penuh sesak sama penilaian, pujian, dan cacian manusia, ntar nggak ada ruang lagi buat kedamaian yang dikirim sama Allah.
Mulai hari ini, yuk kita kurangi dosis mikirin "Apa Kata Orang" dan tambahin dosis menyadari "Allah Lagi Ngelihat Gue".
Lagian, secantik atau seganteng apa pun kita di mata manusia, tetep aja kalau lagi nguap lebar-lebar atau tidurnya mangap mah estetikanya hilang. Tapi di hadapan Allah, hamba yang mendekat dengan segala kekurangannya justru yang paling dicintai.
Jadi, jilbab mencong dikit? Biarin. Yang penting niat lurusnya nggak mencong. Semangat menata hati, ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *