
Dalam pidato Satu Abad NU, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menyampaikan kalimat yang kalau didengar sekilas itu simple, tapi kalau direnungkan, jleb-nya sampai ke ulu hati.
Beliau dawuh:
"Kita tidak bisa berpikir sebagai NU kecuali pada saat sama juga berpikir dan bertindak sebagai Indonesia."
Beliau juga menegaskan bahwa NKRI adalah "Markas Perjuangan" untuk membela kemanusiaan.
Apa artinya? Apakah Gus Yahya sedang ngajak kita belajar PKN? Oh, tentu tidak sesederhana itu, Ferguso. Mari kita bedah pidato ini sambil nyemil pisang goreng.
1. Paket Hemat "Two-in-One" (NU & Indonesia)
Pernah nggak sih kalian beli Nasi Padang tapi minta nasinya dipisah sama lauknya di piring yang beda meja? Ribet, kan?
Nah, Gus Yahya mau bilang kalau NU dan Indonesia itu kayak Nasi dan Kuah Gulai. Sudah tercampur, meresap, dan nggak bisa dipisahin.
Jadi, kalau ada orang NU yang mikirin organisasi NU-nya saja tapi masa bodoh sama nasib Indonesia, itu kayak orang makan gado-gado tapi nggak pakai bumbu kacang. Hambar, Bos!
Bagi santri, mencintai Indonesia itu bukan "tugas tambahan" atau PR sekolah. Itu adalah setelan pabrik (default setting). Begitu kamu ngaku NU, otomatis dalam satu tarikan napas kamu sedang berpikir untuk Indonesia.
Mikirin pesantren? Berarti mikirin pendidikan bangsa.
Mikirin kerukunan umat? Berarti mikirin stabilitas negara.
Mikirin stok kopi di pos ronda? Berarti mikirin keamanan lingkungan (Siskamling). See? Semuanya nyambung!
2. NKRI: Basecamp Paling Nyaman
Gus Yahya menyebut NKRI sebagai "Markas" atau "Kubu Perjuangan". Ini istilah yang gagah banget.
Bayangkan kita ini pasukan Avengers (tapi versi sarungan). Nah, Indonesia ini adalah Markas Avengers-nya.
Logika sederhananya begini: Gimana kita mau nyelamatin dunia (membela kemanusiaan), kalau atap markasnya bocor? Gimana mau nolongin orang lain, kalau di dalam markas sendiri kita berantem rebutan remot TV?
Makanya, menjaga NKRI itu harga mati. Bukan karena kita fanatik buta, tapi karena kita butuh "Rumah" yang aman buat beribadah dan berbuat baik. Kalau Indonesia aman, kita bisa ngaji tenang, bisa kerja tenang, dan bisa touring naik motor matic dengan tenang.
Inilah semangat 100 tahun NU: Beresin dulu rumahnya, baru kita bisa menjamu tamu dengan layak.
3. Idealisme yang Nggak Pernah Luntur (Anti-Luntur Kayak Jeans Mahal)
Gus Yahya bilang semangat NU nggak pernah berubah. Dari zaman Mbah Hasyim Asy'ari ngusir penjajah pakai Resolusi Jihad, sampai zaman sekarang santri ngelawan hoax pakai konten TikTok, "Software"-nya tetap sama.
Tujuannya satu: Membela Manusia.
NU itu unik. Kita sibuk jaga gereja, kita sibuk bantu korban bencana, kita sibuk mendamaikan konflik. Orang lain bingung, "Ngapain sih repot-repot?"
Jawabannya ada di pidato Gus Yahya tadi. Kita melakukan itu semua karena kita cinta manusia. Dan kita bisa melakukan itu semua karena kita punya markas yang kokoh bernama Indonesia.
Penutup: Kopi, Rokok, dan Negara
Jadi, wahai kaum sarungan dan kaum rebahan yang budiman.
Menjadi NU itu asyik. Kita diajarkan bahwa nasionalisme dan agama itu bukan air dan minyak. Mereka adalah kopi dan gula. Beda jenis, tapi kalau disatukan dalam cangkir bernama Nusantara, rasanya... Ah, mantap!
Mari kita rayakan abad kedua ini dengan tetap "Satu Tarikan Napas".
Tarik napas: "Alhamdulillah aku Islam..."
Hembuskan napas: "Alhamdulillah aku Indonesia..."
Jangan lupa bayar kas masjid dan bayar pajak. Karena dua-duanya adalah bukti cinta.
Selamat Satu Abad NU. Merawat Jagat, Membangun Peradaban (Sambil Tetap Guyon)!
Your email address will not be published. Required fields are marked *