
Mari kita mulai artikel ini dengan sebuah pengakuan dosa berjamaah. Sadar nggak sih, hari ini—di lembar kalender terakhir tahun 1447 H—apa yang biasanya kita lakukan menjelang nanti malam pas azan magrib berkumandang menandakan masuknya 1 Muharram 1448 H?
Yaps, buru-buru bikin daftar Resolusi Hijrah yang estetik di notes HP.
Isinya mulia banget, kayak mau langsung dapat jalur prestasi ke surga: tahun baru besok mau khatam Al-Qur'an tiap bulan, shalat tahajud nggak bolong, infak tiap subuh, dan nggak mau lagi dengerin gosip tetangga atau gibahin influencer di media sosial. Pokoknya mode menjadi manusia suci nan paripurna langsung menyala abangku!
Tapi, mari kita berkaca dari tahun 1447 H yang bakal kita tinggalin beberapa jam lagi. Berapa banyak resolusi tahun lalu yang bernasib tragis? Niatnya tahajud tiap malam, realitanya pas alarm bunyi jam 3 pagi, tangan kita secara otomatis langsung mencet tombol snooze sambil narik selimut.
Belum lagi buat kamu yang punya target duniawi-spiritual yang krusial. Misalnya: "Target Lulus Kuliah dan Wisuda di Tahun 1447 H".
Niatnya awal tahun lalu udah menggebu-gebu pengen ngasih kado jubah wisuda buat orang tua. Eh, realitanya? Dosen pembimbing tiba-tiba milih mode ghosting ngalah-ngalahin gebetan, revisi bab 4 gak kelar-kelar karena datanya mendadak gaib, sampai akhirnya takdir berkata: Kamu masih harus betah berteman dengan status mahasiswa di tahun 1447 H ini. Berkas pendaftaran wisuda pun cuma jadi pajangan di pojokan laptop. Nyesek? Banget. Berasa jadi beban keluarga internasional.
Di momen pergantian tahun ini, pas kita melihat rapor hidup kita di 1447 H yang ternyata banyak "remedial"-nya—mulai dari ibadah yang bolong-bolong sampai toga wisuda yang gagal dipakai—apa yang biasanya kamu lakukan?
a) Langsung meratapi nasib, ngerasa jadi hamba paling gagal di alam semesta, lalu mutusin buat skip bikin resolusi 1448 H sambil mikir, "Ah, udahlah, emang bakatku jadi remah-remah rempeyek."
b) Menatap cermin, menghela napas, lalu mempraktikkan satu skill dewa yang sering dilupakan umat manusia: The Art of Acceptance alias Seni Menerima Kenyataan.
Apa Sih The Art of Acceptance Itu? Versi Syariah-nya Ada Nggak?
Secara bahasa kerennya, The Art of Acceptance itu adalah kemampuan hati dan pikiran untuk bilang, "Oh, oke. Realitanya kemarin saya emang banyak bolongnya, dan skripsi/tesis/disertasi saya emang belum kelar. Ya udah, mari kita perbaiki mulai nanti malam." tanpa perlu ada drama korea 16 episode di dalam kepala kamu.
Dalam bahasa agamanya, ini dekat banget sama yang namanya Rida dan Evaluasi Diri (Muhasabah).
Menerima itu beda banget sama pasrah ya, gaes. Pasrah yang salah itu kalau kamu belum usaha di tahun baru, terus pas gagal kamu bilang, "Ya gimana lagi, udah takdirnya saya jadi mahasiswa abadi di tahun 1448 H ini." Itu namanya malas berkedok takdir, Bambang! Nggak boleh ya!
Nah, kalau Acceptance itu lebih ke: kamu melihat ke belakang, menerima kalau tahun 1447 H kemarin kamu mungkin banyak khilaf, rencana wisudamu tertunda, dan kamu bukan manusia yang jalannya selalu mulus. Tapi, alih-alih kamu stres sampai kayang atau mutusin buat drop out, kamu menerima kalau setiap orang punya timeline masing-masing, lalu bersiap bangkit lagi nanti malam begitu tahun 1448 H dimulai.
Tutorial Mengaktifkan Skill Acceptance untuk Menyambut 1 Muharram 1448 H
Gimana caranya biar kita bisa memasuki tahun baru Hijriyah dengan hati yang lebih santuy, damai, tapi tetap punya semangat membara buat memperbaiki diri dan menyelesaikan skripsi/ tesis/ disertasi? Ini beberapa tips receh tapi insya Allah berkah:
1. Praktikkan Mantra "Yaudah, Terus Gimana?" buat Masa Lalu
Hari ini adalah hari terakhir 1447 H. Kalau kamu ingat-ingat lagi target ibadah atau target lulus kuliahmu tahun ini yang gagal total, langsung ucapkan mantra sakti mandraguna ini dalam satu tarikan napas: "Yaudah, terus gimana?"
Tahun lalu target wisuda tapi malah mentok di bab analisis data? "Yaudah, terus gimana? Nasi udah jadi bubur, masa mau ditangisi. Nanti malam kita buka lagi laptopnya, kita revisi pelan-pelan di tahun yang baru."
Tahun lalu niatnya khatam Qur'an tapi mentok di juz 3? "Yaudah, terus gimana? Yang lalu biarlah berlalu. Nanti malam kita mulai lagi satu lembar sehari."
Kuncinya adalah langsung fokus ke langkah selanjutnya (move on), bukan meratapi nasib buruk kemarin sampai bikin kamu makin malas menyambut tahun baru.
2. Berhentilah Membandingkan "Porsi" Hidupmu dengan Orang Lain
Nanti malam, timeline media sosialmu pasti bakal penuh sama postingan refleksi akhir tahun yang puitis. Ada temen yang posting foto wisuda pakai jubah lengkap, ada yang posting foto nikahan, sedangkan kamu cuma bisa posting foto mie instan kuah di kamar kosan. Kamu yang ngerasa tahun ini jalan di tempat bakal langsung minder.
Ingat, gaes, porsi ujian dan kecepatan tiap orang itu beda-beda. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dulu berhijrah juga melewati proses yang berat, gak instan langsung sukses. Menerima kalau proses lulus kuliah atau proses belajarmu di tahun 1448 H nanti mungkin bakal sedikit merayap, jauh lebih baik daripada kamu maksain diri tapi akhirnya malah kena burnout dan stres berat.
3. Turunkan Ekspektasi pada Diri Sendiri, Naikkan Rasa Humor
Hidup menuju tahun yang lebih baik ini bakal kerasa berat banget kalau kamu terlalu kaku sama diri sendiri. Coba deh sesekali ketawain kekonyolan atau kemalangan diri sendiri. Pas nanti malam kamu doa akhir tahun khusyuk banget sampai nangis minta diluluskan kuliah, eh pas doa awal tahun baru kelar, kamu malah dapet chat dari dosen pembimbing yang minta revisi total dari bab 1.
Daripada kamu ngerasa dikutuk dan gagal total di detik pertama 1448 H, mending senyum aja terus ngebatin, "Aduh, ini dosen pengertian banget ya, ngasih hadiah tahun baru berupa revisian. Ya udah, mari kita kerjakan sambil ngopi." Ketika kamu bisa menertawakan kelemahan atau ujianmu, kamu nggak bakal gampang stres.
Kesimpulan: Hijrah Itu Maraton, Bukan Sprint!
Pada akhirnya, momen pergantian tahun baru Hijriyah nanti malam bukan kompetisi siapa yang paling cepat berubah jadi suci atau siapa yang paling cepat pakai toga wisuda. Ini adalah tentang konsistensi melangkah. Menguasai The Art of Acceptance adalah cara paling elegan buat menyayangi dirimu sendiri di hadapan Sang Pencipta.
Tuhan itu nggak melihat seberapa sempurna kamu tanpa cela atau seberapa cepat kamu lulus di tahun 1447 H kemarin, tapi seberapa sering kamu mau kembali berusaha, berdoa, dan mengetuk pintu rahmat-Nya begitu memasuki tahun 1448 H nanti malam.
Jadi, tarik napas dalam-dalam, ikhlaskan skripsi/ tesis/ disertasi yang tertunda dan semua kegagalan di tahun ini, lalu senyum ke cermin sambil bilang: "Selamat tinggal 1447 H, terima kasih pelajarannya. Dan selamat datang 1448 H... tahun ini kita bimbingan lagi dengan cara yang lebih asyik. Bismillah, wisuda depan mata!"
Your email address will not be published. Required fields are marked *