
Mari kita mulai artikel ini dengan sebuah pengakuan dosa bersama. Pernah nggak, kamu lagi buru-buru mau berangkat kerja atau kuliah, udah rapi, udah wangi pakai parfum yang harganya bikin dompet menangis, eh… pas keluar pagar rumah, langit mendadak gelap dan HUJAN DERAS.
Di momen itu, apa yang kamu lakukan?
a) Masuk ke rumah dengan tenang sambil mengambil payung.
b) Berdiri di tengah jalan, menatap langit dengan pandangan sinis, lalu mulai mengabsen seluruh kebun binatang ke arah awan mendung.
Kalau jawabanmu adalah B, selamat! Kamu adalah manusia normal yang belum menguasai skill dewa bernama: The Art of Acceptance alias Seni Menerima Kenyataan.
Di zaman sekarang, kita sibuk belajar macam-macam skill. Ada yang belajar coding, belajar saham, belajar public speaking, sampai belajar cara pakai sumpit yang benar biar nggak malu-maluin pas makan ramen. Tapi anehnya, kita sering lupa belajar satu skill yang paling krusial buat menjaga waras: skill untuk menerima kalau hidup ini kadang emang se-random dan se-bercanda itu.
Apa Sih The Art of Acceptance Itu? Makanannya Enak Nggak?
Secara bahasa kerennya, The Art of Acceptance itu adalah kemampuan hati dan pikiran untuk bilang, "Oh, oke. Realitanya begini toh. Ya udah." tanpa perlu ada drama korea 16 episode di dalam kepala kamu.
Menerima itu beda banget sama pasrah ya, gaes. Pasrah itu kamu ditampar kehidupan, terus kamu rebahan di lantai sambil bilang, "Silakan injak aku, wahai takdir." Itu namanya pasrah pasif (atau agak masokis, sih).
Nah, kalau Acceptance itu lebih ke: kamu ditampar kehidupan, kamu kaget bentar, megang pipi yang merah, terus bilang, "Oke, sakit sih. Tapi ya udah, mari kita beli es batu buat kompres daripada saya bales nampar angin."
Kenapa skill ini penting? Karena di dunia ini ada dua jenis hal:
Hal yang bisa kamu kontrol (contoh: isi dompet kamu, gaya rambut kamu, mau makan siang pakai apa).
Hal yang TIDAK bisa kamu kontrol (contoh: mantan yang tiba-tiba nikah duluan, harga bensin yang hobi naik tanpa permisi, dan kelakuan netizen di media sosial).
Seringkali, kita stres setengah mati karena maksa pengen ngontrol hal-hal di poin kedua. Ya mana bisa, Bambang! Kamu ngamuk-ngamuk sampai kayang di tengah jalan pun, hujan nggak bakal minder lalu balik lagi ke atas awan.
Tutorial Mengaktifkan Skill Acceptance Tanpa Perlu Bertapa di Gunung
Gimana caranya biar kita bisa lebih santuy menghadapi kenyataan hidup yang seringkali plot twist-nya ngalah-ngalahin film bioskop? Ini beberapa tips receh tapi ampuh:
1. Praktikkan Rumus "Yaudah, Terus Gimana?"
Ini adalah mantra sakti mandraguna. Begitu rencana kamu berantakan, langsung ucapkan kalimat ini dalam satu tarikan napas.
Udah dandan maksimal tapi jerawat segede biji jagung tumbuh di ujung hidung pas hari H kencan? "Yaudah, terus gimana? Kasih concealer aja, kalau cowoknya nanya, bilang aja itu antena pencari cinta."
Nasi yang kamu masak ternyata kebanyakan air dan berubah jadi bubur? "Yaudah, terus gimana? Tinggal goreng krupuk, suwir ayam, jadilah bubur ayam buatan rumah."
Kuncinya adalah langsung fokus ke solusi, bukan meratapi nasib sambil dengerin lagu sedih di pojokan kamar.
2. Berhentilah Menjadi Sutradara Kehidupan Orang Lain
Kadang kita stres bukan karena masalah kita sendiri, tapi karena kita gemas sama jalan hidup orang lain. "Kok dia bisa sih milih pacar kayak begitu?" atau "Kok dia kerjanya santai tapi bisa beli mobil baru ya?"
Ingat, kamu itu cuma penonton di bioskop kehidupan orang lain, bukan sutradaranya. Jadi, duduk manis aja, makan popcorn-mu, dan nikmati pertunjukannya tanpa perlu protes kenapa alur ceritanya nggak sesuai seleramu. Menerima kalau tiap orang punya jalannya masing-masing itu bikin hidup adem beneran, lho.
3. Turunkan Ekspektasi, Naikkan Humor
Hidup ini bakal kerasa berat banget kalau kamu terlalu serius. Coba deh sesekali ketawain ketayuan diri sendiri. Pas kamu lagi jalan terus kesandung di depan gebetan, daripada mukamu merah padam karena malu, mending sekalian pose ala model terus bilang, "Gaya gravitasi bumi di sebelah sini emang agak kuat ya hari ini." Ketika kamu bisa menertawakan kemalanganmu sendiri, dunia kehilangan kekuatannya untuk bikin kamu sedih.
Hidup Ini Singkat, Jangan Dihabiskan Buat Ngamuk Sama Takdir
Pada akhirnya, menguasai The Art of Acceptance itu bukan berarti kita jadi orang yang masa bodoh atau nggak punya ambisi. Justru, ini adalah cara paling elegan buat menyayangi diri sendiri. Kamu menghemat energi otakmu yang berharga itu dari hal-hal yang emang nggak ada gunanya buat dipikirin.
Nggak semua hal di dunia ini harus berjalan sesuai kemauan kita. Kadang-kadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat hidup lagi ngasih kita jeruk purut yang asem banget adalah: ya diterima aja, terus diperas, kasih air, kasih gula, kasih es batu. Segar, kan?
Jadi, mulai hari ini, kalau ada hal yang nggak sesuai rencana, tarik napas dalam-dalam, embuskan, lalu senyum sambil bilang: "Oke kehidupan, kamu lagi ngelawak ya? Lucu juga, yuk lanjut!"
Your email address will not be published. Required fields are marked *