
Tok! Tok! Tok! Palu sidang isbat sudah diketuk. Bapak Menteri Agama dengan senyum kalemnya baru saja mengumumkan bahwa hilal masih malu-malu untuk pamer diri. Hasilnya? Sah, Ramadhan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari. Lebaran mundur sehari, guys!
Mendengar pengumuman itu, suasana di ruang keluarga warga +62 mendadak berubah jadi adegan film dengan berbagai genre. Ada yang langsung sujud syukur (genre religi), tapi mari jujur, lebih banyak yang rebahan lemas sambil menatap nanar ke arah stoples nastar (genre komedi tragis).
Sesuai judul di atas, mari kita bedah perasaan campur aduk antara "haru ditinggal Ramadhan" dan "rindu (yang tertunda) pada Lebaran" lewat drama-drama keseharian berikut ini:
1. Tragedi Dapur: Opor yang Kelelahan dan Rendang yang Menjadi Aspal
Ini adalah pihak yang paling syok dengan hasil sidang isbat: Ibu-ibu dan kompor gas. Bayangkan, ketupat sudah digantung dengan bangganya. Opor ayam sudah berenang di kuah santan yang menggoda. Tiba-tiba... harus ditunda 24 jam.
Alhasil, muncul job desc baru yang tidak ada di buku panduan Ramadhan manapun: memanaskan ulang makanan. Rendang yang sejatinya sudah berwarna cokelat eksotis, kalau dipanaskan sehari lagi berpotensi berubah warna jadi hitam legam mirip aspal sirkuit Mandalika. Terus, itu ketupat gimana nasibnya? Digantung kelamaan malah jadi keras kayak batu kali. Sabar ya, Mak. Anggap aja masakannya lagi proses dry aging biar makin sedap.
2. Baju Lebaran Masuk Lemari (Lagi)
Siapa di sini yang sudah nyetrika gamis shimmer incaran dari bulan lalu? Atau baju koko yang lipatannya setajam silet sudah digantung rapi di luar lemari?
Silakan dilipat dan dimasukkan kembali ke habitat aslinya, Bestie. Belum waktunya pamer OOTD di grup keluarga. Malam ini kita pakai kaos partai atau daster bolong favorit dulu buat tarawih (yang ternyata masih ada!). Rasa kecewanya tuh mirip kayak udah sampai depan bioskop, eh tiketnya buat jam tayang besok. Nyesek dikit, tapi ya udah lah.
3. Sahur Hari ke-30: Ujian Mental Paling Puncak
Percayalah, bangun sahur di hari ke-30 itu beratnya mengalahkan angkat barbel. Kenapa? Karena mindset perut dan otak kita sudah di-setting untuk makan opor ayam di pagi hari sambil dengerin takbiran, bukan untuk ngunyah sisa lauk buka puasa semalam sambil nahan ngantuk.
Saat alarm bunyi jam 3 pagi, rasanya seperti dibangunkan oleh kenyataan pahit. Ngumpulin nyawanya butuh waktu ekstra. Tapi mau tidak mau, harus tetap semangat! Ingat, ini last match, masa mau menyerah di injury time?
4. Mengurai Rasa "Haru" yang Sebenarnya
Kita memang merasa haru kehilangan Ramadhan. Bulan penuh ampunan, pahala berkali-lipat, dan momen berburu takjil ini akan segera pergi meninggalkan kita. Sedih rasanya...
Tapi mari jujur pada diri sendiri. Air mata yang menetes malam ini itu murni karena sedih berpisah dengan Ramadhan, atau karena kita udah nggak sabar pengen gigit nastar dan minta THR? Hahaha! Perasaan manusia memang kompleks. Kita menangisi kepergian bulan suci, tapi di saat yang sama tangan kita udah gatal pengen unboxing parsel dari kantor.
Nikmati Saja Injury Time Ini!
Lebaran yang tertunda sehari ini sebenarnya adalah "bonus track" dari langit. Mungkin Tuhan tahu kita masih butuh waktu buat minta maaf sama diri sendiri, atau mungkin Tuhan tahu saldo e-wallet kita masih perlu di-top up sebelum dikuras keponakan.
Jadi, manfaatkan satu hari ekstra ini. Habiskan sisa target tilawahmu, rapikan rumah yang masih berantakan, atau minimal... jagain itu rendang supaya nggak gosong.
Selamat menikmati puasa di hari ke-30! Opor ayamnya ditutup rapat-rapat dulu ya, besok baru kita serbu!
Your email address will not be published. Required fields are marked *