
Pernah nggak sih kamu punya temen yang kalau bulan puasa gayanya udah kayak superhero Marvel? Pas ditanya, "Bro, sahur pakai apa tadi?" eh dia jawab dengan gaya tengil, "Ah, gue mah nggak sahur. Minum air putih setetes sama ngendus aroma rendang dari rumah tetangga aja udah kuat sampai maghrib!" Halah, pret. Coba cek deh jam 1 siang. Biasanya orang model begini matanya udah sayu kayak ikan lohan kurang oksigen, terus kalau diajak ngobrol loadingnya lebih lama dari kuota internet habis.
Padahal ya, di dalam Islam, puasa itu nggak pernah disuruh buat ajang pamer otot atau lomba survival ala Ninja Warrior. Justru sebaliknya!
Sahur: Jangan Sok Kuat, Mending Makan!
Banyak yang mikir, makin ekstrem puasanya (nggak sahur), makin gede pahalanya. Padahal anjurannya jelas: Akhirkan sahur! Kalau bisa mepet-mepet waktu Imsak, sikat!
Kenapa sih kita disuruh sahur? Pertama, biar kuat jalani hari. Kedua, ada keberkahan di balik makan sahur. Jadi kalau kamu skip sahur cuma buat sok-sokan pamer ketahanan fisik di tongkrongan, ketahuilah: kamu tidak terlihat keren, kamu cuma terlihat butuh di-infus.
Makanlah sahur walau cuma pakai telor ceplok dan air putih. Nggak usah gengsi. Lambungmu bukan terbuat dari baja ringan, Bestie.
Berbuka: Jangan Ditunda, Sirup Marjan Sudah Menunggu!
Nah, ini penyakit kedua. Pas azan Maghrib berkumandang, bukannya langsung batalin puasa, eh malah sok sibuk.
"Nanggung nih, kelarin push rank Mobile Legend dulu ah." "Gue bukanya nanti aja habis tarawih, belum laper kok."
Heh, ngaku aja deh. Dari jam 3 sore mata kamu udah jelalatan lihat iklan sirup di TV yang es batunya muter-muter itu, kan? Bahkan lihat kecoa terbang aja dari jauh udah mirip kurma kelelawar.
Anjurannya adalah: Segerakan berbuka! Begitu denger "Allahu Akbar...", langsung sikat tuh teh manis hangat atau gorengan bakwan yang udah kamu incar sejak jam 4 sore. Nggak usah ditunda-tunda.
💡 Plot Twist: Allah Suka Kita yang Lemah
Di sinilah letak plot twist dan inti permasalahan dari syariat sahur dan berbuka ini. Kenapa sih kita dilarang sok kuat?
Jawabannya simpel dan mindblowing: Biar kita sadar kalau kita ini aslinya lemah, dan Allah nggak suka sama orang sombong. Iya, lemah! Baru telat makan 12 jam aja bawaannya udah pengen smackdown adik sendiri cuma gara-gara dia makan es krim di depan kita. Manusia itu rapuh banget. Kita ini cuma remahan rengginang di dasar kaleng biskuit sultan. Tanpa makanan dan minuman dari Allah, kita bukan siapa-siapa.
Di hadapan bos, calon mertua, atau netizen, bolehlah kita pasang badan sok kuat, sok alpha, sok sigma. Tapi di hadapan Allah? Jangan coba-coba. Allah jauh lebih menyukai hamba-Nya yang merendah dan mengakui, "Ya Allah, hamba lapar, hamba butuh rezeki-Mu, hamba manusia biasa yang kalau nggak dikasih makan bisa pingsan di pinggir jalan."
Jadi, puasa itu pada dasarnya adalah sesi training untuk meruntuhkan ego dan menaklukkan kesombongan diri.
Kesimpulannya...
Mulai sekarang, yuk nikmati ibadah puasa senormal mungkin. Bangunlah di ujung malam untuk sahur, dan batalkanlah di awal senja saat azan berkumandang. Jangan merasa diri paling hebat cuma karena kuat nahan lapar.
Karena sejatinya, sekuat-kuatnya kamu angkat beban di gym, kamu tetap akan kalah dengan godaan aroma mie instan rebus pakai telur setengah matang di jam 4 sore.
Selamat berpuasa, para hamba yang lemah tapi disayang Tuhan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *