
Pernah nggak, lagi asyik-asyiknya jalan santai sambil menikmati sore, tiba-tiba... plok! Burung yang lewat di atas kepala dengan tanpa dosa menjatuhkan "bom alami" tepat di tengah-tengah jidatmu?
Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba kamu harus berdiri di pinggir jalan sambil lap jidat pakai tisu basah, membatin, "Ya Tuhan, dosa apa hamba sampai burung pun ikut-ikutan nge-prank hari ini?"
Nah, itulah musibah. Dia itu ibarat tamu tak diundang yang kalau datang nggak pernah ketok pintu, nggak pernah kirim WhatsApp dulu, apalagi sharing location. Tahu-tahu sudah duduk manis di sofa rumahmu, sambil nyemil keripik milikmu sampai habis.
Tapi pernah nggak kamu mikir, sebenarnya musibah yang datang bertubi-tubi dalam hidup itu statusnya apa, sih? Apakah itu ujian kelas berat, teguran karena kamu kebanyakan ngutang sama temen tapi pura-pura amnesia, atau jangan-jangan cuma cara lucu semesta buat bikin otot mentalmu makin kekar?
Musibah tipe ini biasanya datang waktu kamu merasa hidupmu lagi lurus-lurus aja. Kamu sudah rajin ibadah, ramah sama tetangga, bahkan selalu melambai manis kalau ada kucing liar lewat. Tapi tiba-tiba... BAM!
Lagi buru-buru mau wawancara kerja yang sudah kamu impikan sejuta tahun, ban motor malah kempes setipis kertas lipat. Sudah gitu, dorong motor dua kilometer di bawah terik matahari, sampai di tempat wawancara muka sudah kayak gorengan hangat—berminyak dan sedikit kusam.
Pasti di dalam hati kamu langsung teriak, "Kenapa harus sekarang?!"
Sabar, Bos! Ini namanya try out dari kehidupan. Musibah model begini hadir bukan karena kamu jahat, tapi buat ngetes: kamu ini aslinya kuat kayak baja, atau cuma selembar kerupuk kaleng yang kalau kena angin sedikit langsung melempem? Kalau kamu bisa melewatinya sambil tetap tersenyum (meskipun senyumnya rada meringis), selamat! Level kesabaranmu resmi naik satu tingkat.
Kalau yang satu ini, biasanya musibah datang karena kelakuan kita sendiri yang agak out of the box alias rada ngawur.
Bayangkan skenario ini: Kamu dapat gaji bulanan. Bukannya dipakai buat bayar kosan atau cicilan, kamu malah kalap checkout barang-barang di e-commerce jam dua malam. Semua dibeli: baju baru, sepatu baru, sampai alat pemotong pisang otomatis yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kamu merasa jadi orang paling kaya se-RT.
Eh, dua hari kemudian, dompetmu hilang. Atau lebih tragis lagi, saldo ATM-mu sisa Rp12.500 padahal tanggal muda masih dua minggu lagi.
Di momen inilah kamu sadar, musibah ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah cara semesta menepuk pundakmu sambil berbisik, "Ngapain beli pemotong pisang otomatis, Bambang?! Makan pisang aja jarang!"
Teguran itu bentuk kasih sayang, lho. Kalau nggak disentil pakai musibah kecil begini, bisa-bisa kamu baru sadar pas giliran mau bayar uang sewa kos tapi cuma bisa menyodorkan kasih sayang dan senyuman manis ke ibu kos. (Spoiler: Ibu kos nggak terima pembayaran pakai kasih sayang).
Pernah lihat orang nge-gym? Mereka mengangkat beban berpuluh-puluh kilo sampai mukanya merah padam dan napasnya ngos-ngosan. Sakit? Banget. Tapi tujuannya apa? Ya biar ototnya terbentuk!
Musibah juga begitu. Kadang ada saat-saat di mana masalah datang beruntun kayak antrean sembako. Putus cinta, laptop mendadak mati total pas draf belum disimpan, ditambah kuota internet habis di saat yang bersamaan. Rasanya mau histeris sambil kayang di tengah jalan, kan?
Tapi anehnya, setelah semua badai itu lewat dan kamu berhasil bertahan hidup, kamu sadar satu hal: "Eh, ternyata gue kagak mati, ya?"
Kamu jadi lebih kebal. Besok-besok kalau ada masalah yang ukurannya cuma 'krikil kecil', kamu cuma bakal ketawa sambil bilang, "Halah, segini doang? Kemarin laptop mati pas deadline aja gue bisa selamat, apalagi cuma gini!"
Melewati musibah itu emang berat, tapi cara kita meresponsnya itulah yang menentukan siapa kita sebenarnya.
Saat kamu kena musibah—misalnya, pesanan makananmu yang sudah ditunggu sejam malah ditumpahkan sama driver ojek online karena beliau jatuh—apa reaksi pertama kamu?
Apakah kamu mau marah-marah sampai urat leher keluar semua?
Atau kamu malah bantu bapaknya bangun, bilang "Nggak apa-apa Pak, yang penting Bapak selamat", terus kamu malah traktir bapaknya makan?
Pilihan kedua itulah yang dinamakan kemuliaan. Musibah bisa saja merusak harimu, tapi jangan biarkan musibah merusak kebaikan hatimu. Orang hebat itu bukan orang yang hidupnya lempeng-lempeng aja tanpa masalah, tapi orang yang walaupun babak belur dihantam ujian, tetap bisa menebar senyum dan kebaikan buat orang lain.
Jadi, kalau besok-besok kamu kena musibah lagi—mulai dari yang receh kayak sandal jepit putus sebelah pas sholat Jumat, sampai yang lumayan berat—coba tarik napas dalam-dalam.
Tanyakan pada dirimu sendiri sambil ketawa kecil: "Oke, musibah kali ini hadir mau ngajarin gue apa, nih? Mau ngetes kesabaran, mau nyentil kelakuan ajaib gue, atau mau bikin gue makin keren?"
Selama kamu masih bisa tersenyum dan memilih jalan kebaikan, percaya deh, musibah apa pun cuma bakal jadi cerita lucu yang siap kamu dongengkan ke teman-temanmu saat nongkrong nanti!
Your email address will not be published. Required fields are marked *