
Pernah nggak sih kamu merasa hari itu zonk banget?
Pagi-pagi ban bocor, di kantor kena semprot bos karena revisi yang nggak kelar-kelar, pas buka HP lihat teman seangkatan udah pamer liburan ke Swiss (sedangkan kita liburan paling jauh cuma ke "pulau kapuk" alias kasur), terus ditutup dengan gebetan yang tiba-tiba ghosting.
Rasanya pengen teriak, "Tuhan, boleh nggak sih aku resign jadi manusia sehari aja? Mau jadi kucing oren aja biar kerjanya cuma makan, tidur, sama nge-geplak orang tanpa dosa."
Kalau kamu pernah ada di fase itu: Tos dulu, Bestie. Kita satu frekuensi.
Hidup emang kadang se-bercanda itu. Ekspektasi kita setinggi langit ketujuh, eh realitanya nyusruk setinggi mata kaki. Nah, di momen burnout dan kecewa berat inilah, peristiwa Isra' Mi'raj sebenernya lagi "ngomong" sama kita. Bukan lewat teori yang njelimet, tapi lewat rasa.
Nabi Juga Pernah "Kena Mental"
Banyak yang lupa kalau sebelum peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad SAW itu lagi ada di fase terendah dalam hidupnya sebagai manusia. Tahun itu disebut Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau ditinggal istri tercinta (Siti Khadijah) dan paman pembelanya (Abu Thalib). Diusir, dilempari batu di Thaif, dimusuhi satu kota.
Bayangin, kalau itu kita, mungkin udah bikin status layar hitam di Story WA pakai lagu sedih, terus mengurung diri di kamar sambil makan seblak level 10 biar nangisnya tersamarkan.
Nabi sedih? Jelas. Manusiawi banget.
Tapi, apa yang Allah lakukan? Allah nggak kasih Nabi motivasi ala seminar, "Ayo, kamu pasti bisa!" Nggak.
Allah kasih Nabi "VVIP Trip". Allah ajak Nabi "jalan-jalan". Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra'), terus naik roket spiritual bernama Buraq nembus langit ketujuh sampai Sidratul Muntaha (Mi'raj).
Ini bukan healing ke Bali atau Labuan Bajo, Gaes. Ini healing ke Langit.
Oleh-Olehnya Bukan Gantungan Kunci
Biasanya kalau habis jalan-jalan, kita pulang bawa oleh-oleh. Nah, dari perjalanan super epik ini, Nabi pulang bawa oleh-oleh buat kita semua.
Apa oleh-olehnya? Apakah emas batangan? Voucher belanja seumur hidup? Atau followers auto jutaan?
Bukan. Oleh-olehnya adalah Shalat 5 Waktu.
Jujur aja nih, kadang kita mikir: "Yah, kirain apaan. Shalat mah tiap hari juga kita kerjain. Malah kadang rasanya jadi beban. Lagi asik mabar, eh adzan. Lagi enak scroll TikTok, eh disuruh shalat."
Eits, tunggu dulu. Coba ubah mindset-nya.
Kenapa Allah kasih Shalat pas Nabi lagi sedih-sedihnya?
Karena Shalat itu sebenernya adalah mekanisme "Pulang".
Allah tuh kayak bilang gini: "Wahai hamba-Ku, dunia di bawah sana emang capek. Banyak orang palsu, banyak masalah, banyak drama. Makanya, sehari 5 kali, sini 'naik' dulu ketemu Aku. Curhat sini. Istirahat dulu. Charge dulu baterai hatimu."
Jadi, Shalat itu bukan "setoran hafalan gerakan" ke Tuhan. Shalat itu adalah Rest Area.
Gelar Sajadah, Tumpahkan Masalah
Kita ini sering aneh. Kalau lagi stres, kita lari ke scrolling medsos (yang malah bikin makin <i>insecure</i>), lari ke belanja online (yang bikin dompet nangis), atau lari ke manusia (yang kadang nggak peduli-peduli amat).
Isra' Mi'raj mengajarkan kita: Kalau dunia bikin kecewa, jangan lari menjauh. Tapi lari "ke atas".
Coba deh, sekali-kali kalau lagi capek banget, wudhu (kena air dingin tuh bikin adem otak yang ngebul), gelar sajadah, terus pas sujud, tumpahin semuanya.
Bilang aja dalam hati:
"Ya Allah, capek banget hari ini. Si A nyebelin, duit abis, masa depan buram kayak kaca spion angkot. Aku nggak kuat, tolong bantuin ya."
Itu valid banget. Itu namanya "Pulang". Pulang ke Zat yang nggak akan nge-judge kamu, nggak akan nge-ghosting kamu, dan punya solusi buat semua masalah kamu.
Penutup: Jangan Lupa Pulang
Isra' Mi'raj itu pengingat manis. Bahwa sejauh apapun kita tersesat ngejar dunia, sekeras apapun dunia ngebanting kita, kita selalu punya tiket gratis buat "Pulang" minimal 5 kali sehari.
Jadi, kalau nanti hidup lagi nggak asik, ingat ya:
Langit selalu terbuka. Sajadahmu sudah menunggu.
Tarik napas, sujud, dan rasakan pelukan-Nya.
Selamat Isra' Mi'raj. Yuk, perbaiki sinyal koneksi kita ke Langit!
Your email address will not be published. Required fields are marked *