
Halo, kaum jompo muda dan jiwa-jiwa yang lelah!
Coba cek dulu kondisi bahu kanan dan kiri kalian sekarang. Apakah rasanya kaku? Tegang? Atau rasanya kayak lagi manggul galon air mineral isi ulang sambil lari maraton?
Kalau iya, tenang. Kamu nggak sendirian.
Hidup belakangan ini emang lagi lucu-lucunya. Masalah datang keroyokan kayak tawon. Belum kelar urusan kerjaan, eh cicilan nyapa. Belum kelar cicilan, eh genteng bocor. Belum benerin genteng, eh dapat undangan nikah mantan (yang ini beban mental, sih, bukan fisik).
Pokoknya, rasanya bahu ini berat banget. Kalau ditimbang, mungkin isinya: 30% Laptop, 20% Bekal makan siang, 50% Ekspektasi Orang Tua dan Tetangga.
Ketika Salonpas Tak Lagi Mempan
Biasanya, solusi kita kalau bahu berat adalah tempel koyo. Badan jadi bau mint, panas-panas sedap, berharap besok pagi bangun jadi Superman.
Tapi, ada jenis "berat" yang nggak bisa hilang cuma pakai koyo cabe, Bestie.
Itu adalah beratnya rasa cemas. Cemas akan masa depan, takut ngecewain orang, atau perasaan “Kok hidup gue gini-gini amat ya, padahal temen gue udah posting foto liburan di Swiss?”
Rasanya kita harus kuat terus. Harus strong. Nggak boleh ngeluh.
Padahal aslinya? Kita cuma butuh rebahan sambil nangis estetik di pojokan kamar.
Kenalan Lagi sama "Ar-Rahman" (Si Penopang Paling Baik)
Di tengah hiruk-pikuk beban hidup yang bikin bahu turun tiga senti ini, kita sering lupa satu hal vital di kalimat Bismillahirrahmanirrahim.
Ada kata Ar-Rahman.
Kalau diartikan secara kaku, artinya "Yang Maha Pengasih". Tapi kalau kita bedah pakai "bahasa kalbu" yang lebih deep, Ar-Rahman itu kayak... Bantalan Empuk Raksasa.
Ar-Rahman itu sifat Allah yang kasih sayangnya ugal-ugalan. Dikasih ke siapa aja.
Mau kamu hari ini shalatnya khusyuk atau tadi pagi sempet ngomel gara-gara kesandung meja, Ar-Rahman tetap kasih kamu oksigen. Jantungmu tetap didetakkan. Matahari tetap disuruh terbit buat ngeringin jemuranmu.
Allah itu tahu bahu kamu terbuat dari tulang dan otot, bukan dari beton cor-coran. Makanya, Dia ngenalin diri sebagai Ar-Rahman.
"Please, Taruh Sebentar Bebannya"
Tahu nggak kenapa bahu kita sering sakit? Bukan cuma karena beban hidupnya berat, tapi karena kita sok kuat mau bawa semuanya sendirian.
Kita mikir kita adalah Atlas yang harus manggul bola dunia. Padahal kita cuma mas-mas/mbak-mbak biasa yang kalau telat makan aja masuk angin.
Mengingat Ar-Rahman itu cara paling elegan untuk bilang ke diri sendiri:
"Oke, aku sudah berusaha maksimal. Sisanya? Biar Yang Maha Mengurus Hidup yang handle. Aku mau jadi manusia aja, nggak mau jadi Tuhan."
Itu melegakan, lho.
Saat kamu sadar bahwa ada Dzat yang Maha Pengasih yang siap menopang saat kamu nyaris ambruk. Dia nggak minta kamu sempurna dulu baru ditolong. Dia menolong karena Dia Ar-Rahman, bukan karena kamu Ar-Rajin atau Ar-Hebat.
Tips Meringankan Bahu (Versi Jalur Langit)
Jadi, kalau hari ini rasanya berat banget:
Tarik napas panjang. Hembuskan pelan-pelan (jangan hembuskan ke muka bos, ya, bahaya).
Sebut "Ya Rahman". Bayangkan kasih sayang-Nya melingkupi kamu kayak selimut tebal pas lagi hujan deras. Hangat. Nyaman.
Ngadu aja. "Ya Allah, Ya Rahman... Asli, hari ini capek banget. Tolongin hamba dong, bahu hamba rasanya mau copot. Ambil alih ya, Ya Allah."
Itu bukan tanda kamu lemah. Itu tanda kamu sadar diri kalau kamu punya "Backingan" Pusat yang ngeri banget kekuatannya.
Jadi, tegakkan lagi bahumu, kawan.
Rapikan kerah bajumu.
Senyum dikit (biar nggak dikira lagi nagih utang).
Kamu nggak sendirian manggul beban itu. Ada Ar-Rahman yang selalu siap jadi sandaran paling kokoh, kapan pun kamu butuh "rehat" sejenak.
Stay strong, but don't forget to let Him carry the heavy stuff.
Your email address will not be published. Required fields are marked *