
Mari kita mulai artikel ini dengan membayangkan sebuah pagi yang indah di lingkungan sekolah atau kampus. Kamu sudah dandan rapi, pakai baju yang disetrika licin sampai lalat pun bakal terpeleset kalau hinggap, dan menyemprotkan parfum sewangi toko bunga. Kamu melangkah penuh percaya diri, siap menaklukkan dunia pendidikan.
Tapi begitu masuk kelas atau ruang bimbingan… jeng jeng! Realita langsung menampar wajahmu tanpa permisi. Kalau kamu seorang pendidik, kamu disambut oleh pemandangan murid-murid yang mukanya lemes kayak cucian belum diperas, atau ada satu anak di pojokan yang lagi asyik main game sambil miringin HP.
Sebaliknya, kalau kamu mahasiswa akhir, kamu disambut oleh chat dosen pembimbing yang isinya singkat, padat, dan merusak mental: "Bab 1-3 revisi total ya. Tolong ganti judul." (Di momen itu, rasanya pengen langsung daftar jadi pemain figuran di sinetron azab aja).
Ketika dihadapkan pada situasi yang "salah" dan nggak sesuai rencana ini, apa yang biasanya kita lakukan? Mengamuk? Menangis di bawah pancuran shower sambil dengerin lagu galau?
Nah, di sinilah kita butuh sebuah skill dewa bernama Compassionate Management alias Seni Manajemen Cinta dalam Pendidikan. Intinya adalah: gimana caranya kita bisa berdamai dengan masalah dan menerima hal yang salah dengan cara yang benar, tanpa harus bikin asam lambung naik ke ubun-ubun.
Menerima yang Salah, Bukan Berarti Pasrah Jadi Kaum Rebahan
Sebelum kita bahas lebih dalam, mari kita luruskan dulu satu miskonsepsi. Menerima hal yang salah itu beda banget sama pasrah pasif ya, gaes.
Pasrah yang salah itu kayak gini: kamu dapet nilai ujian jeblok, terus kamu bilang, "Ya gimana lagi, emang takdirku jadi beban kelompok." Terus kamu tidur siang sampai tahun depan. Itu namanya malas berkedok takdir, Bambang!
Nah, kalau menerima hal yang salah dengan cara yang benar (ala manajemen cinta) itu contohnya begini: kamu melihat nilai yang jeblok atau draf skripsi/ tesis/ disertasi yang dicoret-coret sampai mirip peta harta karun. Kamu menghela napas, tersenyum kecut, lalu bilang dalam hati:
"Oke, ini emang kacau dan salah. Tapi ya udah, realitanya emang kemampuan saya baru segini, atau mungkin kemarin saya ngerjainnya sambil merem. Yuk, kita perbaiki pelan-pelan sambil ngopi."
Dalam dunia pendidikan, baik guru maupun murid sering stres karena maksa pengen semuanya berjalan sempurna. Padahal, isi kepala murid itu random, dan jadwal dosen itu lebih dinamis daripada harga saham. Kalau kita nggak punya seni menerima, kita bakal hobi marah-marah, dan marahnya kita itu nggak bakal bikin skripsi/ tesis/ disertasi kelar atau bikin murid mendadak jenius. Yang ada malah bikin cepat keriput!
Tutorial Berdamai dengan "Kekacauan" di Kelas dan Kampus
Gimana caranya mempraktikkan manajemen cinta ini biar kita tetap waras dan bisa tersenyum di tengah badai tugas atau revisian? Ini triknya:
1. Ubah Mode "Monster" Jadi Mode "Kepo yang Hangat"
Ini khusus buat para pendidik atau kakak tingkat yang suka gemas sama juniornya. Begitu melihat ada hal yang salah—misalnya murid nggak ngerjain PR atau mahasiswa gak paham-paham dikasih tahu—jangan langsung keluarkan jurus taring berapi. Perluas wadah hatimu.
Coba kepoin dengan cinta: "Anak ini nggak ngerjain tugas kenapa ya? Jangan-jangan dia begadang bantuin bapaknya, atau jangan-jangan instruksi tugas saya yang pakai bahasa planet Mars?" Begitu kita mendekati kesalahan dengan empati, murid nggak bakal defensif, dan tensi darah kita pun aman terkendali.
2. Kuasai Mantra "Yaudah, Terus Gimana?" buat Kaum Pejuang Toga
Buat kamu para mahasiswa yang ngerasa hidupnya lagi dijajah oleh revisian, yuk aktivasikan mantra sakti ini. Setiap kali menghadapi "kiamat kecil" di kampus, langsung ucapkan: "Yaudah, terus gimana?"
Dosen pembimbing mendadak hilang tanpa kabar pas mau tanda tangan? "Yaudah, terus gimana? Kita cari lagi besok, sekarang kita jajan boba dulu biar otak gak korslet."
Laptop nge-hang dan file tugas lupa di-save? "Yaudah, terus gimana? Menangis darah pun gak bakal bikin teksnya muncul lagi. Tarik napas, ketik ulang, kali ini sambil zikir."
3. Turunkan Ekspektasi, Naikkan Selera Humor
Dunia pendidikan itu bakal kaku dan horor banget kalau isinya cuma kejar-kejaran angka, nilai, dan gengsi. Sesekali, kita perlu menertawakan keapesan diri kita sendiri.
Kalau kamu lagi presentasi di depan kelas terus mendadak salah ucap atau slide-nya eror, nggak usah merasa dunia runtuh. Senyum aja, terus bilang ke audiens: "Sengaja saya bikin eror, buat ngetes kefokusan kalian aja kok." Ketika kamu bisa menertawakan kesalahanmu sendiri, masalah itu langsung kehilangan kekuatannya untuk bikin kamu malu atau sedih.
Kesimpulan: Damai Itu Indah, Marah-Marah Bikin Cepet Tua
Gaes, hal-hal yang "salah" di dunia pendidikan itu sifatnya absolut—bakal selalu ada. Mau ganti kurikulum berapa kali pun, yang namanya murid ajaib atau dosen pembimbing yang hobi ghosting itu bakal tetap eksis di muka bumi.
Tapi seni Compassionate Management mengajarkan kita kalau kita nggak bisa mengatur dunia agar berjalan mulus sesuai kemauan kita. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola cara kita merespons kekacauan tersebut.
Ketika kamu menerima kalau salah itu adalah bagian dari proses belajar, dan kamu bumbui penerimaan itu dengan rasa empati serta humor yang renyah, maka masalah seberat apa pun bakal menyusut jadi remah-remah kerupuk.
Jadi, mulailah hari ini dengan berdamai dengan laptopmu, skripsimu, tesismu, disertasimu, atau murid-muridmu yang luar biasa abstrak itu. Tarik napas dalam-dalam, senyum, dan mari kita hadapi hari ini dengan penuh cinta. Semangat belajarnya, dan jangan lupa ketawa ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *