
Pernah nggak sih, di suatu Senin pagi yang mendung, pas kamu lagi desak-desakan di KRL atau lagi menatap layar laptop yang isinya revisian dari bos yang nggak kelar-kelar, tiba-tiba sebuah "hidayah" turun ke dalam hatimu?
Tiba-tiba kamu membatin, "Ya Allah... sungguh dunia ini fana. Capek banget hamba jadi budak korporat. Kayaknya gue harus resign deh, terus fokus ibadah aja di masjid. Berserah diri pada-Mu, ya Rabb..."
Terdengar sangat mulia dan religius, kan? Wajahmu mendadak bercahaya (walau sebenarnya itu pantulan cahaya layar laptop). Kamu merasa sudah mencapai level keimanan tertinggi karena rela melepas urusan duniawi demi akhirat.
Eits, tunggu dulu, Bestie. Sebelum kamu ngetik surat resign dan ngirim ke HRD, mari kita bedah sedikit perasaan "suci" ini. Jangan-jangan, itu bukan hidayah. Jangan-jangan... itu cuma jebakan betmen dari nafsu kamu sendiri!
Plot Twist: Niat Suci yang Ternyata...
Dalam dunia spiritual (cie elah, bahasanya berat dikit ya), ada yang namanya syahwat khofiyyah alias kesenangan nafsu yang terselubung. Ibarat musuh dalam selimut, atau kayak teman yang nawarin gorengan pas kita lagi diet—kelihatan baik, padahal menjerumuskan.
Coba deh kita jujur-jujuran. Waktu kamu mikir pengen berhenti kerja buat "fokus ibadah", apakah itu murni karena kamu kangen banget sama Tuhan? Atau jangan-jangan karena...
Kamu sebenarnya cuma pengen kabur dari deadline dan bos yang toxic? * Kamu capek bangun pagi dan pengen rebahan dengan dalih "tawakal"?
Ada secuil harapan di hati pengen dipuji orang: "Wah, si Fulan keren banget ya, rela ninggalin gaji dua digit demi fokus ke agama. Masyaallah, calon penghuni surga jalur VIP nih."
Kalau ada salah satu aja dari poin di atas yang nyangkut di hati, fix, itu bukan panggilan Tuhan. Itu panggilan ego yang lagi cosplay jadi orang saleh!
Tragedi Hari Ke-15 Setelah Resign
Mari kita simulasikan kalau kamu beneran nekat resign dengan dalih fokus ibadah, padahal kamu belum punya passive income atau warisan tujuh turunan.
Hari ke-1: Subuh berjamaah, lanjut duha 8 rakaat. Siang ngaji, malam tahajud. Hati damai banget. "Ah, indahnya hidup tanpa meeting Zoom," batinmu.
Hari ke-7: Masih aman. Ibadah jalan terus. Tapi mulai iseng buka aplikasi M-Banking, ngelihat saldo yang angkanya makin mirip nomor sepatu.
Hari ke-15: Lagi asyik-asyiknya zikir sambil meresapi makna kehidupan, tiba-tiba terdengar suara dari arah meteran listrik: TIT... TIT... TIT... TIT... Nah lho! Di momen meteran listrik bunyi, cicilan KPR ngetok pintu, dan tagihan PayLater jatuh tempo, percayalah, kekhusyukan ibadahmu bakal buyar seketika. Yang ada, pas lagi sujud, di otak malah kebayang muka debt collector. Ujung-ujungnya, kamu malah stres, uring-uringan, dan kualitas ibadahnya malah terjun bebas dibanding pas kamu masih kerja.
Bekerja Itu Ibadah Level Dewa (Kalau Niatnya Bener)
Sobat pencari cuan yang dirahmati Tuhan, para ulama zaman old itu cerdas-cerdas banget. Mereka membagi posisi manusia jadi dua:
Level Tajrid: Orang yang emang udah di-setting sama Tuhan fokus ibadah, rezekinya datang dari arah yang nggak disangka-sangka (atau emang udah kaya raya dari lahir).
Level Asbab: Orang-orang kayak kita. Yang masih butuh gaji bulanan buat beli beras, bayar sekolah anak, atau sekadar jajan kopi susu gula aren biar nggak tantrum.
Kalau posisi kita masih di Level Asbab, ya jalanin aja perannya! Jangan memaksakan diri loncat ke Level Tajrid. Bekerja banting tulang memeras keringat untuk menafkahi diri sendiri dan keluarga itu ibadah fardu (wajib). Statusnya jauh lebih tinggi daripada kamu resign cuma buat ngejar ibadah sunah tapi malah merepotkan orang lain atau jadi beban keluarga.
Kesimpulan: Taruh Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Jadi, besok-besok kalau lagi mumet kerjaan dan kepikiran pengen resign demi "fokus ibadah", tarik napas panjang. Minum air putih. Tampar pipi pelan-pelan.
Sadarilah bahwa ketikan di keyboard-mu, omelan yang kamu tahan saat meeting, dan peluhmu saat desak-desakan di kereta adalah bentuk ibadah yang sangat nyata. Tuhan tahu kamu capek. Tapi selama kamu mencari rezeki yang halal, kamu sebenarnya sedang beribadah seharian penuh.
Nggak perlu lepas pekerjaan buat jadi ahli ibadah. Cukup pastikan saja, saat azan berkumandang, kamu siap ninggalin sebentar si Excel dan kawan-kawannya untuk sujud. Itu baru namanya profesional di bumi, VIP di langit!
Your email address will not be published. Required fields are marked *